Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syahra Maharani Putri

Glorifikasi Rasa Takut Sebagai Tameng Ajaran Agama

Agama | 2026-02-09 07:20:19
Ilustrasi berdoa kepada Tuhan (Sumber: Freepik)

Ganasnya neraka selalu dielu-elukan ketika ajaran agama diajarkan sejak kecil agar kita patuh terhadap Tuhan. Rasa takut akan neraka selalu melanda manusia ketika beragama; takut dihukum Tuhan di kehidupan setelah kematian jika tidak taat dengan-Nya.

Tidak heran jika banyak yang menganggap agama adalah bualan belaka karena yang diajarkan adalah selalu tentang ketakutan manusia. Kenapa ajaran agama selalu bertameng dengan glorifikasi rasa takut untuk mendoktrin manusia?

Kuatnya Narasi Dosa dalam Ajaran Agama

Surga dan neraka adalah dua hal yang berkaitan erat jika kita membahas tentang agama, apapun agamanya. Adapun agama lainnya yang tidak menganggap adanya hal tersebut tetap memiliki kesamaan dalam ajarannya dengan bahasa yang beragam, yaitu pahala dan dosa.

Fakta pahitnya adalah narasi dosa lebih sering dibahas ketika diajarkan tentang cara beragama. Tujuannya memang untuk membuat manusia patuh tapi apakah hal tersebut efektif untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Tuhan?

Ajaran Agama yang Terlalu Menakuti Manusia

Ajaran-ajaran perihal agama selalu bertendensi menakuti manusia, baik itu agar taat kepada Tuhan dan/atau terhindar dari ganasnya neraka. Di balik bayangan seramnya neraka, sebenarnya indahnya surga juga sering disampaikan, tapi rasanya surga terlalu sulit digapai jika ajaran yang disampaikan hanya berfokus ke rasa takut.

Seharusnya kita paham bahwa cinta tumbuh karena rasa nyaman, bukan rasa takut yang memeluk perasaan. Rasa takut dalam menyampaikan ajaran agama justru cenderung membuat manusia benci akan hal tersebut. Begitu pun dengan penanaman rasa cinta terhadap Tuhan.

Sudah seharusnya penyebaran kasih sayang lebih giat diserukan dibanding ancaman agar rasa nyaman tercipta di antara hubungan manusia dengan Tuhan. Bukankah rasa nyaman akan membuat manusia mencintai sesuatu sedalam-dalamnya dan sepenuhnya?

Mitos Pentingnya Ibadah yang Selalu Salah

Dalam agama Islam, kewajiban salat selalu digaungkan karena peran pentingnya sebagai “pemberat” utama saat penimbangan amalan selama di dunia. Salat bak penentu utama apakah pemeluknya akan masuk surga atau neraka di kehidupan selanjutnya.

Sayangnya, fokus utama selalu merujuk ke panasnya neraka Jahannam bagi pemeluknya yang melalaikan salat. Maka dari itu, banyak pemeluk Islam yang senantiasa melaksanakan ibadah salat semata-mata karena takut neraka.

Padahal kalau kita kilas balik, kewajiban salat itu Tuhan serukan untuk kepentingan manusia itu sendiri, bukan kepentingan Tuhan. Manfaatnya mulai dari sarana meditasi manusia hingga berkaitan dengan kesehatan fisik serta psikis bagi yang melakukan.

Kewajiban salat sebanyak lima kali dalam sehari salah satunya ditegakkan agar manusia meluangkan dirinya untuk istirahat dari hiruk pikuk dunia. Kita semua tahu betapa dunia ini dipenuhi dengan lika-liku yang sering kali membuat manusia kewalahan menjalani hidup.

Salat hadir sebagai solusi panjang untuk manusia agar tidak kewalahan karena dengan meluangkan waktu untuk dirinya secara rutin, manusia akan sadar bahwa dirinya exist dan hadir di saat itu juga (present). Dengan begitu manusia akan lebih leluasa menjalani rumitnya hidup agar tidak selalu terikat pikiran berlebih di masa lalu (past) dan masa depan (future).

Terkait kesehatan fisik, gerakan salat penuh dengan gerakan olahraga ringan seperti peregangan tubuh atau biasa disebut stretching. Di kehidupan zaman sekarang—di mana manusia banyak kegiatan fisik berat—salat adalah sarana tubuh mengistirahatkan sementara fungsi dan kinerjanya

Peregangan ini sangat diperlukan untuk meminimalisasi berbagai cidera seperti sakit pinggang karena kebanyakan duduk hingga pegal berlebih di bagian tubuh tertentu akibat aktivitas berat seharian. Dengan begitu, tubuh manusia akan tetap terjaga kesehatannya dan manusia lebih nyaman menjalani kegiatan sehari-hari.

Di sisi lain, salat juga berdampak baik untuk kesehatan psikis manusia yang sangat rentan mengalami masalah hidup. Sensasi dingin yang dipercikkan air saat dibasuhkan ke kulit saat wudu sebelum salat dapat memanipulasi otak manusia untuk mendapatkan “kesegaran” di tengah muramnya kehidupan.

Tak hanya itu, bacaan salat sebenarnya dipenuhi dengan ucapan baik berupa pujian untuk Tuhan yang di mana secara tidak langsung merupakan afimasi positif manusia. Salah satunya adalah bacaan saat ‘itidal—gerakan saat bangkit dari ruku’ (membungkuk)—membuat manusia yakin bahwa manusia tidak sendirian dan memiliki pendengar, yaitu Tuhan yang dipujinya.

Dosa-Dosa yang Melilit di Tubuh Manusia

Tubuh dan pakaian adalah hal yang juga tidak kalah pamor dalam pembahasan edukasi agama, apalagi untuk wanita. Baik Islam, Kristen, dan agama lainnya memiliki berbagai peraturan tersendiri mengenai ketentuan berpakaian.

Pakaian bukan lagi sebagai pelapis kulit, melainkan identitas penting sebagai pembeda dengan agama lain—khususnya dalam Islam. Maka dari itu, Islam sangat ketat mengatur cara berpakaian pemeluknya walaupun terdapat ketimpangan gender dalam pengajarannya.

Sebagaimana diketahui bahwa peraturan berpakaian untuk wanita sangatlah banyak sampai memicu empat perbedaan pendapat ulama besar di Islam. Dengan begitu, wanita selalu diajarkan untuk berpakaian sesuai ajaran agar terhindar dari dosa pribadi bahkan dosa ayah atau suaminya, bukan karena sebagai bentuk taat kepada Tuhan.

Nyatanya, ketentuan berpakaian tersebut—khususnya untuk wanita—untuk menghindari krisis identitas yang digantungkan terhadap penampilan fisik atau biasa disebut body dysmorphia. Krisis identitas ini merupakan sifat yang sangat manusiawi sehingga “penyeragaman” cara berpakaian dapat meringankan penilaian manusia terhadap keindahan tubuh.

Standar kecantikan yang ada di masyarakat sangat mengutamakan keindahan tubuh yang di mana hal ini merupakan konstruksi sosial subjektif yang dianggap mutlak dan objektif. Salah satu contohnya adalah kewajiban berhijab agar wanita tidak insecure dengan apapun bentuk rambutnya.

Logika Mistika Berbalut Ajaran Agama

Istilah ‘ain belakangan ini sangat populer di kalangan masyarakat luas—khususnya Indonesia—karena banyaknya orang yang menggunakan istilah tersebut sebagai tameng untuk menghindari malapetaka. Walaupun memang ada penjelasan berdasarkan dalil, kini istilah tersebut menciptakan banyak miskonsepsi.

Singkatnya, ‘ain adalah penyakit “gaib” yang didapatkan seseorang jika terlalu menunjukkan kabahagiaan di ranah yang luas. Misalnya, ada yang menganggap malapetaka yang datang terjadi ketika seseorang pernah membanggakan karier atau pencapaiannya walaupun tidak niat pamer.

Logika mistika seperti ini sudah seharusnya diberhentikan karena akan membuat manusia berprasangka buruk terhadap satu sama lain bahkan Tuhan. Malapetaka yang didapatkan akan dianggap sebagai rasa iri orang lain yang dikabulkan Tuhan terhadap dirinya dan membuat manusia enggan instrospeksi lebih dalam kesalahan pribadinya yang lebih relevan.

Tidaklah heran jika praktik perdukunan atau klenik masih sangat laris di Indonesia karena dianggap ampuh untuk balas dendam akan ‘ain tersebut. Padahal, klenik hanyalah tipu daya belaka yang memainkan psikologis manusia dan dalam Islam merupakan perbuatan “selingkuh” dari Tuhan.

Tumbuhkan Rasa Nyaman dalam Menyebarkan Ajaran Agama

Berlawanan dengan rasa takut, rasa nyaman justru akan membuat manusia menerima ajaran agama sebagai bentuk cinta dalam meyakini Tuhan yang penuh kasih sayang. Rasa takut yang ditanamkan sejak kecil akan membuat manusia meyakini bahwa hubungan manusia dengan Tuhan adalah transaksional, bukan unconditional.

Sudah sebaiknya kita menyerukan ajaran agama dengan penuh ramah dibanding balutan resah yang melimpah ruah. Dengan begitu, manusia akan menyadari bahwa Tuhan adalah Maha Penyayang, bukan sosok yang pemarah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image