Nikmat yang Terlupa, Syukur yang Terlambat
Agama | 2026-01-29 12:39:12
Manusia sering kali baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang atau hilang. Selama kesehatan masih utuh, fungsi tubuh berjalan normal, dan aktivitas dapat dilakukan tanpa hambatan, nikmat tersebut kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, dalam pandangan Islam, setiap kondisi tubuh yang berfungsi dengan baik adalah karunia yang perlu disyukuri.
Gigi yang lengkap dan kuat, memungkinkan seseorang makan dengan nyaman. Selama gigi masih berfungsi normal, jarang ada kesadaran bahwa kemampuan mengunyah adalah nikmat besar. Namun ketika gigi tidak lagi utuh, barulah terasa betapa gigi yang utuh dan kuat adalah nikmat yang sangat besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenyamanan fisik bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan amanah yang sering luput dari perhatian.
Hal yang sama berlaku pada penglihatan. Mata yang mampu melihat dengan jelas membuat aktivitas membaca, bekerja, dan berinteraksi berlangsung lancar jarang sekali hal tersebut dianggap karunia. Baru ketika fungsi penglihatan mulai menurun, tulisan kecil sulit terbaca, cahaya terasa menyilaukan, baru muncul kesadaran tentang besarnya nikmat melihat.
Kaki yang dulu kuat menahan beban, mampu menopang tubuh, melangkah tanpa rasa nyeri, dan membawa seseorang menjalani aktivitas sehari-hari. Selama kaki masih kuat, jarang muncul kesadaran bahwa berdiri lama, berjalan jauh, atau bisa menaiki tangga adalah nikmat yang perlu disyukuri. Barulah terasa bahwa kemampuan bergerak adalah karunia yang sangat bernilai, ketika rasa sakit, kesemutan, atau kelemahan fisik mulai hadir.
Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa kesehatan adalah nikmat besar yang sering diabaikan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari). Hadis ini menggambarkan kondisi yang sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Banyak di antara kita tertipu oleh kesehatan, merasa seolah kesehatan akan selalu ada hingga lupa menjaganya, lupa mensyukurinya, dan lupa menggunakannya untuk kebaikan.
Syukur atas nikmat kesehatan idealnya hadir ketika kondisi tubuh masih berfungsi dengan baik. Kesadaran ini diwujudkan melalui upaya menjaga kesehatan, memanfaatkan kemampuan fisik untuk aktivitas yang bernilai, serta memahami bahwa kesehatan merupakan amanah, bukan kepemilikan mutlak.
Kesadaran bersyukur yang baru muncul setelah nikmat kesehatan di masa muda berkurang memang terasa pahit. Namun dalam perspektif iman, kesadaran itu sendiri masih termasuk nikmat, karena tidak semua orang yang telah memasuki usia tua diberi kemampuan untuk menyadari kelalaian masa mudanya. Oleh karena itu, kesadaran hari ini tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang buruk, melainkan sebagai titik awal untuk memaknai kembali nikmat-nikmat yang masih Allah SWT berikan. Kesadaran inilah yang setidaknya mempunyai empat makna besar.
1. Sebagai tanda bahwa Allah belum berpaling.
Tidak semua orang yang kehilangan nikmat diberi rasa menyesal. Ada yang kehilangan, lalu mengeluh. Ada yang kehilangan, lalu menyalahkan keadaan. Ada pula yang kehilangan, tetapi hatinya tetap keras. Maka ketika kesadaran hadir di mana hati berkata, “mengapa dulu tidak mensyukurinya?” sesungguhnya itu adalah sinyal bahwa Allah masih membuka pintu kembali.
2. Sebagai jalan menuju taubat.
Taubat justru sering lahir dari tubuh yang mulai lemah, dari kondisi yang tidak lagi ideal, bahkan tidak jarang dari ujian yang sangat menyakitkan. Saat nikmat masih utuh, manusia sering merasa tidak butuh Allah. Namun ketika sebagian nikmat diambil, barulah hati belajar tunduk. Rasulullah ﷺ bersabda: “Penyesalan itu adalah taubat.”(HR. Ibnu Majah) Artinya, rasa sesal karena dahulu lalai mensyukuri nikmat bukan emosi kosong. Ia adalah ibadah batin. Ia adalah pengakuan bahwa selama ini hidup terlalu percaya diri, terlalu merasa aman, dan terlalu menganggap nikmat sebagai sesuatu yang biasa.
3. Sebagai dorongan untuk mensyukuri nikmat yang ada.
Ketika nikmat masih utuh, manusia sering ceroboh. Namun ketika sebagian berkurang, nikmat yang ada bisa dijaga dengan hati-hati. Mata yang masih bisa melihat meski tidak setajam dulu, tubuh yang masih bisa bergerak meski sering sakit, nafas yang masih terhela meski tidak sekuat dahulu, semuanya kini disadari sebagai karunia yang tidak boleh lagi disia-siakan. Kesadaran hari ini mengajarkan bahwa yang sedikit tidak berarti kecil, dan yang tersisa tidak berarti tidak berharga. Justru di situlah kualitas syukur diuji.
4. Sebagai panggilan untuk bersiap berjumpa dengan-Nya.
Usia yang bertambah, tubuh yang mulai rapuh, dan nikmat yang berkurang adalah bahasa halus dari Allah bahwa hidup kita ini tidak panjang. Kesadaran hari ini adalah undangan untuk bersiap. Bukan sekadar memperbaiki pola hidup, tetapi memperbaiki arah hidup. Allah mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18). Maka kesadaran hari ini bukan sekadar refleksi, tetapi kesempatan untuk bertaubat sebelum terlambat. Selama hati masih bisa menyesal, selama masih ada anggota tubuh yang bisa digunakan, selama lidah masih bisa beristighfar, dan selama dada masih bergetar saat mengingat kelalaian, pintu taubat itu belum tertutup.
Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa lama tubuh bertahan dalam kondisi sempurna, melainkan dari seberapa sadar manusia memaknai setiap fase yang Allah tetapkan. Jika di masa muda syukur sering terlewat, maka di usia sekarang kesadaran adalah kesempatan terakhir yang tidak boleh disia-siakan. Kesadaran hari ini adalah ajakan untuk hidup lebih baik dan lebih bersungguh-sungguh mendekat kepada Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
