Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Elegi Bingkai Kotak: Mencari Jejak Edukasi di Balik Piksel yang Berubah

Sastra | 2026-01-28 13:56:42

Cerpen ini mengisahkan pergulatan batin Daffa, seorang pria di tahun 2026 yang merindukan esensi edukasi dari program televisi favorit masa kecilnya, On The Spot dan Weekend Spotlite. Di masa kelas 5 SD (sekitar tahun 2015), program-orang tersebut adalah jendela dunia yang menyajikan curated content berupa fenomena unik dan wawasan mendalam. Namun, realita tahun 2026 menunjukkan perubahan drastis; program tersebut bertransformasi menjadi tayangan live reporting dan hard news yang dingin serta pragmatis demi mengejar rating.

Melalui penemuan kembali buku catatan lamanya, Daffa mengalami fase intellectual betrayal sebelum akhirnya mencapai titik balik melalui nasihat Ibunya. Alih-alih terjebak dalam elegi dan information overload, Daffa memutuskan untuk memanfaatkan teknologi mutakhir seperti augmented reality dan perangkat editing canggih untuk menghidupkan kembali semangat edutainment masa lalu melalui kanal mandiri. Sebuah narasi tentang bagaimana sebuah legacy intelektual tidak boleh padam oleh perubahan zaman, melainkan harus diestafetkan melalui kreativitas baru.

Tahun 2026 menyapa dengan udara pagi yang terasa lebih mekanis. Di sudut kamar yang kini dipenuhi perangkat nirkabel canggih, Daffa menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, menatap nanar ke arah layar televisi pintar yang terpasang di dinding. Jemarinya memainkan remote control, berpindah dari satu kanal ke kanal lain, hingga gerakannya terhenti pada logo angka 7 yang ikonik.

Namun, ada yang hilang. Ada kekosongan yang menyesakkan di balik resolusi gambar 4K yang terlalu jernih itu.

Daffa memejamkan mata sejenak, membiarkan memorinya melakukan time travel kembali ke tahun 2015. Saat itu, ia hanyalah seorang bocah kelas 5 SD dengan seragam putih-merah yang masih menyisakan noda krayon di saku. Baginya, televisi bukan sekadar kotak elektronik, melainkan jendela menuju keajaiban dunia yang dikemas dalam narasi narator yang khas.

"Daffa! Ayo mandi, sudah mau jam setengah sebelas!" teriak Ibu dari arah dapur, suaranya bersahutan dengan bunyi sutil yang beradu dengan wajan.

Daffa kecil tak bergeming dari depan layar tabung. "Bentar, Bu! Ini Weekend Spotlite baru mau mulai. Hari ini temanya tentang fenomena alam unik di dunia!"

"Kamu itu, setiap Sabtu sama Minggu nggak pernah absen nonton itu. Kayak nggak ada tontonan lain saja," sahut Ibu, meski nadanya terdengar maklum.

"Tapi ini seru, Bu! Tadi di On The Spot juga ada pembahasan tentang tujuh teknologi masa depan. Daffa jadi tahu banyak hal yang nggak ada di buku sekolah," jawab Daffa dengan mata berbinar, fokusnya tak lepas dari cuplikan-cuplikan video low definition namun kaya akan informasi yang memicu imajinasinya.

Dulu, program-program itu adalah oasis edukasi. Spotlite bukan sekadar pengisi waktu luang; ia adalah ensiklopedia visual yang ringan namun berisi. Daffa masih ingat betul bagaimana ia duduk bersila, menunggu segment demi segment yang disusun rapi dengan musik latar yang kadang misterius, namun selalu berhasil menyuntikkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia merasa menjadi penjelajah dunia hanya dengan duduk di depan bingkai kotak itu.

Kembali ke realita 2026, Daffa mendesah panjang. Ia menatap layar yang kini menampilkan program dengan judul yang sama, namun jiwanya telah menguap.

"Kok jadi begini, ya?" gumam Daffa pada kesunyian kamar.

Televisi di depannya kini menampilkan format live reporting yang kaku. Presenternya berdiri di tengah hiruk-pikuk kota, melaporkan berita kriminal dan politik dengan nada bicara yang cepat dan serius. Tak ada lagi narasi puitis tentang keajaiban dunia, tak ada lagi kompilasi fakta-fakta unik yang memancing brainstorming sederhana di kepalanya. Semuanya telah bertransformasi menjadi program liputan berita yang kehilangan sentuhan edutainment.

"Ini mah bukan Spotlite yang aku kenal," keluhnya sambil meletakkan remote dengan kasar. "Dulu itu jendela dunia, sekarang cuma jadi corong berita harian."

Daffa merindukan masa-masa itu—masa di mana ia belajar tentang sejarah peradaban atau misteri laut dalam melalui potongan-potongan klip yang dikurasi dengan hati. Kini, di balik piksel yang makin tajam dan jernih, ia justru merasa kehilangan arah. Jejak edukasi yang dulu menjadi santapan rohaninya setiap akhir pekan seolah terkikis oleh tuntutan rating dan perubahan tren penyiaran yang semakin pragmatis.

Daffa mencoba memberikan kesempatan terakhir pada layar di depannya. Ia membiarkan volume televisi meningkat, berharap ada secercah keajaiban atau setidaknya signature tune yang dulu mampu membuat bulu kuduknya berdiri karena antusias. Namun, yang ia dapati hanyalah kekecewaan yang kian menebal.

"Sekarang kita bergabung dengan rekan di lapangan untuk memantau arus lalu lintas dan kenaikan harga komoditas pangan," suara presenter itu terdengar tajam, masuk ke telinga Daffa tanpa permisi.

"Basi," desis Daffa. Ia teringat bagaimana dulu suara narator On The Spot yang berat dan berwibawa mampu menyulap cuplikan video beresolusi rendah menjadi sebuah masterpiece informasi. Dulu, informasi tentang tujuh tempat paling misterius di bumi atau fenomena aurora borealis disajikan dengan editing yang dinamis, membuat seorang bocah kelas 5 SD merasa telah mengelilingi dunia tanpa perlu paspor.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan video call dari Aris, sahabat masa kecilnya yang dulu sering menonton Weekend Spotlite bersama di teras rumah.

"Daf, lo lagi nonton TV nggak? Gue baru liat rebranding mereka yang sekarang. Parah banget, ya?" suara Aris di seberang sana terdengar sama frustrasinya.

"Baru saja gue mau matiin, Ris. Ini bukan cuma berubah judul atau jam tayang, tapi kehilangan soul-nya. Dulu kita belajar tentang supermoon atau sejarah gladiator dari sini, sekarang? Isinya cuma breaking news yang diulang-ulang," jawab Daffa sambil menyandarkan kepala ke kursi.

"Benar banget. Dulu itu edutainment paling juara. Gue masih ingat gimana kita debat soal teori time travel gara-gara nonton segmen sains mereka. Sekarang tampilannya terlalu high-tech, pakai augmented reality segala, tapi isinya kosong. Cuma hard news yang bikin pusing," Aris menghela napas panjang. "Kenapa ya mereka nggak mempertahankan konsep curated content yang dulu?"

Daffa menatap layar yang kini menampilkan infographic tentang inflasi ekonomi. "Mungkin karena rating, Ris. Atau mungkin tuntutan zaman yang minta semuanya serba real-time. Tapi mereka lupa, ada penonton yang butuh wawasan, bukan cuma sekadar kabar orang bertengkar di jalanan."

"Ingat nggak dulu pas hari Sabtu jam setengah sebelas? Kita rela telat main bola cuma buat nunggu segmen 'Fakta Unik Dunia' di Weekend Spotlite?" tanya Aris, mencoba membangkitkan tawa getir.

"Jelas ingat. Gue bahkan punya buku catatan khusus buat nulis hal-hal keren yang gue dapet dari sana. Itu ensiklopedia versi gratisan buat anak-anak kayak kita. Sekarang, TV cuma jadi noise yang mengganggu ketenangan pagi," punggung Daffa terasa semakin berat.

Ia mematikan televisi dengan sekali tekan, namun bayangan masa lalu justru semakin nyata menghantui. Di dalam benaknya, terjadi pergulatan antara kenyataan digital yang dingin dan memori analog yang hangat. Daffa merasa dikhianati oleh evolusi industri penyiaran. Baginya, perubahan ini bukan sekadar upgrade teknologi, melainkan sebuah downgrade intelektual.

"Kita ini generasi yang kehilangan referensi, Ris. Semua berpindah ke platform pendek yang isinya cuma clickbait. Nggak ada lagi pembahasan mendalam yang dikemas asyik lewat bingkai kotak itu," punggung Daffa kini benar-benar lemas.

"Ya sudah lah, Daf. Mungkin kita memang cuma bisa mengenang 'Elegi Bingkai Kotak' itu sebagai sejarah. Pikselnya mungkin lebih tajam sekarang, tapi informasinya makin kabur," Aris mengakhiri pembicaraan dengan nada lesu.

Daffa kembali menatap layar hitam yang memantulkan bayangan dirinya sendiri. Di dalam kegelapan layar itu, ia seolah melihat Daffa kecil yang masih duduk bersila, menunggu dengan sabar sebuah narasi yang akan membuka cakrawala dunia. Kini, di tahun 2026, ia menyadari bahwa mencari jejak edukasi di tengah gempuran konten yang pragmatis terasa seperti mencari glitch di dalam sistem yang sempurna namun hampa.

Ketukan jemari Daffa di atas meja kerja semakin tak beraturan, mengikuti denyut kekecewaan yang kian memuncak. Ia kembali menyalakan televisi, bukan karena ingin menonton, melainkan karena dorongan impulsif untuk membuktikan bahwa pikirannya salah. Namun, saat layar itu menyala, ia justru disambut oleh segmen breaking news tentang sengketa lahan yang disiarkan dengan teknik multicam yang canggih namun terasa hambar.

"Ini benar-benar sudah mati," desis Daffa, suaranya bergetar antara amarah dan kesedihan yang mendalam.

Puncak kekesalannya meledak saat ia melihat kolom komentar di media sosial resmi program tersebut. Banyak penonton baru yang memuji tampilan visual effect yang megah, tanpa memedulikan esensi yang telah hilang. Daffa merasa seperti orang asing di tengah zaman yang ia tempati sendiri. Baginya, ini adalah sebuah intellectual betrayal—pengkhianatan intelektual terhadap generasi yang pernah dibesarkan oleh rasa ingin tahu.

Tiba-tiba, ia berdiri dan menghampiri gudang di belakang rumah. Di sela-sela tumpukan kardus tua, ia mencari sesuatu dengan napas memburu. Debu beterbangan saat ia menarik sebuah kotak plastik besar. Di sana, tertimbun di bawah tumpukan buku pelajaran lama, ia menemukan sebuah buku tulis bersampul cokelat yang sudah mulai lapuk.

"Dapat," gumamnya pelan.

Daffa membuka halaman demi halaman buku itu. Itu adalah buku catatan "Ensiklopedia Minggu" yang ia tulis saat kelas 5 SD. Di dalamnya, terdapat tulisan tangan cakar ayam yang mencatat poin-poin penting dari Weekend Spotlite tahun 2015: 7 Misteri Segitiga Bermuda, Keajaiban Partikel Tuhan di CERN, hingga Sejarah Runtuhnya Tembok Berlin. Ia membawa buku itu kembali ke depan televisi modernnya yang masih menayangkan berita politik. Kontras itu terasa seperti tamparan yang keras.

"Kau lihat ini?" Daffa berbicara pada layar televisi seolah-olah ia sedang berhadapan dengan sang produser. "Dulu, lewat piksel yang pecah-pecah, kalian memberi kami mimpi. Kalian memberi kami curated content yang membuat otak kami bekerja. Sekarang?" Ia menunjuk layar yang sedang menampilkan grafik statistik ekonomi. "Kalian hanya memberi kami data kering tanpa nyawa!"

Air matanya nyaris jatuh saat ia menyadari bahwa ia tidak sedang marah pada sebuah stasiun televisi, melainkan sedang meratapi hilangnya sebuah era. Era di mana informasi bukan sekadar komoditas untuk engagement atau rating, melainkan sebuah jendela edutainment yang jujur.

"Daffa? Kamu kenapa teriak-teriak?" Ibu, yang kini sudah jauh lebih tua, muncul di ambang pintu dengan raut wajah heran.

Daffa menoleh, menunjukkan buku catatan lamanya yang sudah menguning. "Bu, ingat buku ini? Ibu dulu sering memarahi Daffa karena telat mandi hanya demi mencatat isi Spotlite."

Ibu mendekat, mengenakan kacamata bacanya, lalu tersenyum tipis. "Oalah, buku 'harta karun' itu? Tentu Ibu ingat. Kamu dulu sampai bilang ingin jadi ilmuwan gara-gara nonton itu."

"Sekarang acaranya sudah berubah, Bu. Tidak ada lagi yang bisa dicatat," sahut Daffa dengan nada suara yang perlahan merendah, kehilangan tenaga. "Daffa merasa seperti kehilangan kompas. Di tahun 2026 ini, semua informasi terasa seperti noise. Terlalu banyak suara, tapi tidak ada pesan yang sampai ke hati."

Klimaks itu berakhir bukan dengan ledakan, melainkan dengan sebuah kesadaran yang sunyi. Di tengah kecanggihan resolusi 4K dan kecepatan internet nirkabel yang gila-gilaan, Daffa menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan kemajuan makna. Ia memeluk buku catatan usang itu erat-erat, seolah memeluk potongan terakhir dari jiwanya yang kini terasa asing di dunianya sendiri.

Daffa terdiam cukup lama, membiarkan keheningan kamar menyerap sisa-sisa emosinya. Layar televisi pintar itu masih menyala, menampilkan scrolling text berita yang bergerak cepat di bagian bawah layar—sebuah information overload yang tak lagi ia pedulikan. Ia mengalihkan pandangannya dari layar digital ke lembaran kertas fisik di pelukannya. Aroma kertas tua yang khas, perpaduan antara debu dan kenangan, perlahan memberikan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh sinyal Wi-Fi tercepat sekalipun.

"Daf," suara Ibu memecah keheningan, lembut namun penuh penekanan. "Zaman memang berubah. Televisi itu benda mati, dia hanya mengikuti arus. Tapi apa yang sudah masuk ke kepalamu lewat program itu dulu, itu tetap hidup."

Daffa menengadah, menatap mata Ibu yang teduh. "Tapi sayang sekali, Bu. Anak-anak zaman sekarang tidak punya 'ruang kelas' seseru itu di televisi mereka. Mereka hanya punya clickbait dan potongan video lima detik."

Ibu duduk di tepi tempat tidur, mengusap sampul buku catatan cokelat itu. "Kalau begitu, kenapa kamu tidak menjadi 'jendela' itu sendiri? Kamu punya teknologinya sekarang, kamu punya pengetahuannya. Jangan hanya menunggu kotak itu memberikan apa yang kamu mau."

Kata-kata Ibu bagaikan sebuah system reboot bagi pikiran Daffa. Ia menatap perangkat nirkabel di meja kerjanya—mikrofon kondensor, kamera dengan sensor mutakhir, dan perangkat penyuntingan yang mumpuni. Selama ini ia hanya menggunakan semua kecanggihan itu untuk pekerjaan korporat yang kering. Ia menyadari satu hal: ia sedang meratapi hilangnya sebuah konten, sementara ia sendiri memiliki alat untuk menghidupkannya kembali.

Daffa bangkit dengan energi baru yang mendadak meluap. Ia mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Aris.

"Ris! Gue punya ide," ujar Daffa tanpa basa-basi saat wajah Aris kembali muncul di layar. "Lupakan soal protes ke stasiun TV. Mereka punya market sendiri sekarang. Tapi kita punya memori tentang bagaimana edutainment seharusnya dibuat."

Aris mengerutkan kening, namun mulai terlihat tertarik. "Maksud lo, kita bikin sesuatu? Semacam tribute?"

"Lebih dari itu. Kita bikin kanal sendiri. Kita kembalikan konsep curated content yang dulu kita gilai. Kita bahas lagi soal astrophysics, sejarah yang hilang, atau teknologi masa depan dengan gaya narasi yang kita rindukan. Tanpa perlu drama, tanpa perlu jadi corong berita. Kita pakai standar visual 2026, tapi dengan jiwa 2015," jelas Daffa berapi-api.

Aris tampak terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman lebar mengembang di wajahnya. "Gaya storytelling yang bikin orang betah duduk bersila di depan layar, ya? Gue ikut, Daf! Gue bisa bantu riset datanya agar tetap up-to-date."

Setelah menutup telepon, Daffa berjalan mendekati televisi pintarnya. Alih-alih mematikannya dengan kasar seperti tadi, ia menekankan tombol input. Layar itu kini terhubung ke komputernya. Ia membuka sebuah dokumen kosong dan mengetikkan judul besar di sana: PROJECT: BINGKAI CAKRAWALA.

Ia mulai menyusun script pertamanya, sebuah penghormatan untuk segmen Weekend Spotlite yang dulu membentuk pola pikirnya. Ia menuliskan istilah-istilah seperti deep sea mystery dan urban legend dengan penuh semangat. Daffa sadar, ia tidak bisa menghentikan perubahan branding sebuah program TV, namun ia bisa memastikan bahwa jejak edukasi itu tidak berhenti di buku catatan usangnya yang lapuk.

Pukul 10.30 WIB. Di luar, matahari 2026 bersinar terik. Namun di dalam kamar itu, Daffa tidak lagi merasakan elegi. Ia merasa sedang melakukan re-render terhadap masa lalunya untuk menjadi sesuatu yang baru. Piksel di depannya kini bukan lagi sekadar angka atau resolusi, melainkan kanvas untuk melukiskan kembali wawasan yang sempat dianggap hilang.

Daffa tersenyum tipis, jemarinya menari di atas keyboard. Baginya, mencari jejak edukasi kini bukan lagi sebuah pencarian pasif, melainkan sebuah misi untuk menciptakan kembali jendela dunia yang pernah ia cintai. Bingkai kotak itu mungkin sudah berubah, tapi semangat di dalamnya baru saja lahir kembali.

Malam jatuh di langit Jakarta tahun 2026, namun lampu di ruang kerja Daffa masih benderang. Di hadapannya, dua monitor besar menampilkan timeline perangkat lunak penyuntingan video yang padat dengan potongan klip beresolusi tinggi. Daffa baru saja menyelesaikan rendering video pertamanya. Ia menyandarkan tubuh, menghela napas panjang yang kali ini tidak terasa sesak, melainkan lega.

"Daf, file-nya sudah gue cek. Voice over lo di bagian sejarah peradaban Mesopotamia itu dapet banget feel-nya. Persis gaya narator yang dulu kita tonton sambil makan kerupuk di depan TV tabung," suara Aris terdengar dari pengeras suara, ia terhubung melalui koneksi high-speed dari rumahnya.

Daffa tersenyum, jemarinya mengusap buku catatan cokelat tahun 2015 yang kini tergeletak di samping keyboard mekanisnya. "Gue cuma nggak mau esensi knowledge sharing ini hilang ditelan zaman, Ris. Gue sadar, kita nggak bisa memaksa industri televisi untuk tetap menjadi educational platform kalau mereka lebih memilih mass reporting. Tapi, kita punya ruang sendiri sekarang."

"Bener. Engagement bukan cuma soal berapa banyak yang klik karena clickbait, tapi seberapa banyak orang yang merasa tercerahkan setelah nonton. By the way, judul segmen 'Tujuh Keajaiban yang Terlupakan' itu benar-benar nostalgic," sahut Aris.

Daffa kemudian teringat percakapannya dengan Ibu sore tadi. Ia melangkah menuju jendela, menatap lampu-lampu kota yang berpendar seperti piksel-piksel raksasa.

"Ibu benar," gumam Daffa pelan. "Kotak itu mungkin sudah berubah menjadi dingin, tapi api keingintahuan yang ia sulut di tahun 2015 tidak pernah benar-benar padam."

Ia kembali ke mejanya, membuka kolom deskripsi pada video yang siap diunggah. Di sana, ia menuliskan sebuah catatan kecil sebagai penutup:

"Untuk setiap anak yang pernah duduk bersila di depan televisi pada pukul 10.30 pagi, menunggu jendela dunia terbuka. Ini bukan sekadar konten, ini adalah janji bahwa edukasi akan selalu menemukan jalannya, meski bingkainya telah berganti."

Daffa menekan tombol publish. Sebuah notifikasi muncul di layar: Upload Complete. Di tahun 2026 yang serba pragmatis ini, Daffa akhirnya menemukan kembali jejak edukasi yang sempat ia anggap hilang. Ia tidak lagi meratapi elegi bingkai kotak; ia sedang membangun cakrawala baru di atas puing-puing memori masa kecilnya.

Suara musik latar yang ambient dan misterius mulai mengalun dari speaker-nya, mengiringi transisi gambar yang apik—sebuah perpaduan antara teknologi masa depan dan jiwa masa lalu yang hangat. Daffa mematikan lampu ruangan, menyisakan cahaya monitor yang memantul di matanya yang berbinar. Ia tahu, esok pagi saat jam menunjukkan pukul 10.30, ia tidak akan lagi menatap layar dengan nanar, melainkan dengan bangga.

Pada akhirnya, Daffa menyadari bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan yang sering kali bersifat ruthless—tidak kenal ampun. Televisi, dengan segala transformasi branding dan pergeseran orientasi dari edutainment menuju hard news yang pragmatis, hanyalah sebuah medium yang tunduk pada hukum pasar dan rating. Namun, elegi yang ia rasakan bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah wake-up call bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh digantungkan pada satu bingkai kotak saja.

Amanat yang tersirat di antara deretan piksel tahun 2026 ini sangatlah jelas: edukasi dan wawasan bukanlah tanggung jawab industri penyiaran semata, melainkan estafet yang harus terus dibawa oleh mereka yang pernah merasakan apinya. Kita tidak boleh menjadi konsumen pasif yang hanya meratapi degradasi kualitas konten di layar kaca. Di era information overload ini, kemampuan untuk melakukan curated content secara mandiri adalah bentuk pertahanan intelektual yang paling mutakhir.

Daffa telah membuktikan bahwa memori masa kecil tentang Weekend Spotlite bukan sekadar nostalgia hampa, melainkan sebuah legacy yang harus dihidupkan kembali. Jangan biarkan rasa ingin tahu mati hanya karena saluran favoritmu berubah menjadi dingin. Jika jendela dunia yang dulu kau lihat telah tertutup oleh kepentingan komersial, maka bangunlah pintu-pintumu sendiri. Karena sejatinya, wawasan adalah sebuah eternal flame yang tidak akan padam hanya karena pergantian format siaran; ia akan selalu menemukan jalannya melalui tangan-tangan kreatif yang menolak untuk menjadi dangkal di tengah samudera informasi yang dangkal pula.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image