Tadabbur Malam (016): Hidup yang tidak Bisa Diulang
Khazanah | 2026-01-28 18:38:36Dalam sunyi malam, ketika suara dunia mereda dan kesibukan mulai merapuh, kita sering dihadapkan pada satu kenyataan yang tak terelakkan: hidup yang tidak bisa diulang. Tidak ada fitur “reset”, tidak ada kesempatan kembali ke detik yang telah lewat. Waktu berjalan satu arah, dan setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat pada kepulangan yang pasti. Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam memilih jalan hidup, lebih serius dalam mengisi waktu, dan lebih jujur dalam menimbang makna setiap langkah.
Rasulullah ﷺ pernah menasihati Ibnu Umar, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” Pesan ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, tetapi peringatan agar kita tidak terikat secara berlebihan dengannya. Seorang musafir tidak akan sibuk memperindah tempat singgah. Ia sadar bahwa persinggahan hanya sementara. Fokusnya bukan pada dekorasi singgahannya, tetapi pada bekal untuk perjalanan selanjutnya.
Begitulah seharusnya hidup dipandang. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan stasiun transit menuju kehidupan yang lebih panjang dan abadi. Ambisi, prestasi, dan pencapaian bukanlah sesuatu yang tercela, tetapi semuanya harus berada dalam bingkai kesadaran bahwa yang kekal hanyalah amal. Harta, jabatan, dan pujian manusia akan tertinggal, sementara amal dan niat akan ikut dibawa pulang.
Ironisnya, banyak dari kita hidup seolah waktu selalu panjang. Kita menunda taubat dengan alasan “nanti”, menunda memperbaiki diri karena merasa belum siap, dan menunda berbuat baik karena merasa masih ada hari esok. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang dijanjikan untuk melihat matahari terbit kembali. Hari esok adalah misteri, sementara hari ini adalah satu-satunya kepastian yang kita miliki.
Malam menjadi ruang kontemplasi yang jujur. Dalam gelap, topeng sosial dilepaskan, ambisi duniawi mereda, dan suara hati terdengar lebih jelas. Tadabbur malam mengajak kita bertanya dengan jujur: jika hidup ini tidak bisa diulang, apa yang ingin kita persembahkan kepada Allah hari ini? Apa amal kecil yang bisa kita lakukan sekarang, meski hanya sebatas doa, sedekah sederhana, atau memaafkan orang lain?
Kesadaran bahwa hidup tidak bisa diulang seharusnya melahirkan urgensi spiritual. Setiap napas adalah peluang, setiap detik adalah ladang pahala, dan setiap pilihan adalah investasi akhirat. Tidak ada amal yang terlalu kecil jika dilakukan dengan ikhlas, dan tidak ada dosa yang terlalu besar jika diiringi taubat yang tulus.
Malam juga mengingatkan bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi apa yang kita bawa pulang. Panjang umur tanpa makna hanya akan menjadi beban hisab, sementara umur yang singkat namun penuh amal akan menjadi cahaya di hadapan Allah. Maka, jadilah musafir yang cerdas—yang tidak terpesona oleh persinggahan, tetapi sibuk menyiapkan bekal.
Ketika malam semakin larut, semoga hati kita semakin terjaga. Bahwa hidup ini singkat, waktu ini terbatas, dan kesempatan ini tidak akan terulang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
