Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam Ramadhan (042) Dari Kewajiban Menjadi Kebutuhan

Khazanah | 2026-02-24 18:02:23

Sebagian dari kita memulai shalat karena kewajiban. Karena takut dosa. Karena khawatir ancaman. Itu adalah awal yang baik. Namun Ramadhan mendidik kita untuk tidak berhenti pada rasa takut. Ia mengajak kita naik kelas—dari kewajiban menuju kebutuhan, dari keterpaksaan menuju kerinduan.

Di bawah langit yang bertabur bintang, seorang hamba bersujud dalam sunyi, menjadikan malam sebagai saksi kerinduannya kepada Allah.

Allah berfirman dalam Qur'an:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Shalat bukan hanya perintah, tetapi penjaga diri. Ia bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan benteng moral dan penenang hati. Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

(QS. Al-Baqarah: 45)

Sesuatu yang menjadi penolong berarti sesuatu yang dibutuhkan. Saat hati sempit, saat beban hidup terasa berat, shalat adalah tempat kembali.

Rasulullah ﷺ pun mencontohkan hal itu. Dalam hadis shahih riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahwa ketika beliau menghadapi kesulitan, beliau segera mendirikan shalat. Dalam riwayat lain beliau bersabda:

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.”

(HR. Abu Dawud, shahih)

Beliau tidak mengatakan “istirahat dari shalat,” tetapi “dengan shalat.” Artinya, shalat adalah sumber ketenangan, bukan beban.

Ramadhan adalah bulan pembiasaan. Selama tiga puluh hari kita dilatih menjaga jamaah, memperbanyak tarawih, dan menghidupkan tahajud. Disiplin itu seharusnya membentuk jiwa yang merindukan shalat, bukan sekadar menjalankannya.

Ketika shalat telah menjadi kebutuhan, kita merasa ada yang kurang jika belum mengerjakannya. Kita gelisah jika melewatkannya. Kita rindu berdiri menghadap kiblat. Di situlah shalat berubah menjadi dialog, menjadi tempat mengadu, menjadi ruang air mata yang paling jujur.

Iman yang dewasa tidak lagi menjadikan shalat sebagai beban kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan ruhani. Jika hari ini kita masih shalat karena takut dosa, itu baik. Namun jangan berhenti di sana. Latih hati hingga ia merasa kehilangan tanpa shalat. Karena ketika shalat menjadi kebutuhan, ia akan menjaga kita—bukan hanya di Ramadhan, tetapi sepanjang kehidupan.

Penutup

Suatu hari nanti, kita mungkin kehilangan banyak hal: harta, jabatan, bahkan orang-orang yang kita cintai. Namun jika shalat tetap hidup dalam diri kita, kita tidak pernah benar-benar kehilangan arah. Maka sebelum Ramadhan berlalu, tanamkan dalam hati keputusan ini: jangan hanya shalat karena kewajiban, tetapi shalatlah karena kita tidak bisa hidup tanpanya. Sebab saat shalat menjadi kebutuhan, di situlah jiwa menemukan rumahnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image