Tadabbur Ramadhan (039) Shalat: Amal yang Paling Dicintai Allah
Khazanah | 2026-02-21 18:17:25Di bulan Ramadhan, kita berlomba-lomba memperbanyak amal. Namun tahukah kita amal apa yang paling dicintai Allah?
Dalam hadits riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Muhammad ﷺ menjawab ketika ditanya tentang amal yang paling dicintai Allah:
“Shalat pada waktunya.”
Bukan sedekah besar. Bukan ibadah yang terlihat megah. Tetapi shalat yang tepat waktu.
Ramadhan mengajarkan disiplin. Kita mampu bangun sahur. Kita mampu menahan lapar seharian. Kita mampu hadir tarawih hingga malam. Namun mengapa menjaga shalat tepat di awal waktu terkadang masih terasa berat?
Shalat adalah ukuran cinta.
Jika kita mencintai Allah, kita akan menjaga waktu perjumpaan dengan-Nya.
Orang yang rindu tidak ingin terlambat bertemu.
Jangan sampai kita rajin tarawih, tetapi lalai Subuh.
Jangan sampai kita bersemangat di sepuluh malam terakhir, tetapi longgar di siang hari.
Karena kualitas Ramadhan bukan hanya di banyaknya ibadah tambahan, tetapi pada kokohnya ibadah wajib.
Teaching (Taiching): Cinta Itu Terlihat dari Waktu
Ramadhan sedang melatih kita untuk disiplin ruhani. Jika kita bisa disiplin pada jadwal makan dan minum, seharusnya kita lebih mampu disiplin pada jadwal perjumpaan dengan Allah.
Shalat tepat waktu bukan sekadar kewajiban — ia adalah indikator prioritas.
Apa yang kita dahulukan saat adzan berkumandang menunjukkan siapa yang paling kita cintai.
Maka mulai hari ini, ubah pola pikir:
Jangan jadikan shalat sebagai sela di antara kesibukan.
Jadikan kesibukan sebagai sela di antara waktu-waktu shalat.
Karena amal yang paling dicintai Allah bukan yang paling ramai dipuji manusia, tetapi yang paling konsisten dijaga waktunya.
Semoga Ramadhan ini bukan hanya membuat kita lapar dan haus, tetapi membuat kita jatuh cinta kembali pada shalat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
