Tadabbur Malam Ramadhan (037) Ibadah yang Menyembuhkan Lemahnya Iman
Khazanah | 2026-02-19 18:24:52Memasuki hari kedua Ramadhan, semangat mungkin masih terasa. Namun di saat yang sama, kita juga mulai merasakan lelah, godaan, atau hati yang belum sepenuhnya fokus. Di sinilah kita belajar satu hal: iman itu dinamis. Ia bisa naik dan turun. Hati bisa kuat, tetapi juga bisa melemah.
Ramadhan hadir sebagai musim terapi jiwa.
Puasa melatih pengendalian diri—menahan lapar, dahaga, dan keinginan.
Zakat dan sedekah melatih kepedulian—melembutkan hati yang mungkin mulai mengeras.
Shalat, terutama tarawih di malam Ramadhan, menyambungkan kembali hati yang terasa jauh.
Semua ragam ibadah bukan sekadar kewajiban, tetapi penyembuh batin.
Sering kali ketika iman melemah, justru kita menjauh dari ibadah. Padahal seharusnya sebaliknya. Ibadah bukan menunggu iman kuat—ibadahlah yang menguatkan iman. Seperti tubuh yang lemah butuh makanan, hati yang lemah butuh ibadah.
Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali di dalamnya ada rahmat. Puasa bukan untuk menyiksa, tetapi untuk membersihkan. Shalat bukan untuk membebani, tetapi untuk menenangkan. Sedekah bukan untuk mengurangi, tetapi untuk melapangkan.
Pekan pertama Ramadhan ini, jangan terbebani target besar. Jangan langsung mengejar kesempurnaan. Cukup perbaiki satu ibadah dengan sungguh-sungguh—shalat yang lebih khusyuk, sedekah yang lebih ikhlas, atau doa yang lebih hadir. Dari satu ibadah yang tulus, Allah bisa menumbuhkan perubahan besar dalam hidup kita.
Ramadhan bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi seberapa dalam kita memperbaiki.
Malam ini, tanyakan pada diri: ibadah mana yang akan kita jadikan terapi untuk iman kita?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
