Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Furqon Ardhie

Niat yang Ikhlas Menjadi Penentu Kualitas Ibadah Seorang Muslim

Agama | 2026-04-09 07:30:47

PEKALONGAN – Pengajian rutin malam Rabu yang digelar di Masjid Al-Muqorrobin, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Desa Sijambe, Kecamatan Wonokerto, kembali menjadi sarana penguatan spiritual bagi warga sekitar. Dalam tausiyahnya pada Selasa 7 April 2026 malam bertepatan dengan 20 Syawal 1447H, Ustadz Bashori menekankan pentingnya menjaga kesucian niat sebagai fondasi utama dalam beribadah.

Dalam ceramah bertajuk "Niat Ikhlas Nilai Kualitas Ibadah Kita", ia mengibaratkan ibadah sebagai nutrisi bagi jiwa. Menurutnya, kesehatan batin manusia sangat bergantung pada kualitas amal ibadah yang dilakukan, yang semuanya berhulu pada niat yang ikhlas.

"Ibadah merupakan nutrisi jiwa agar jiwa menjadi sehat, kuat, dan tidak sakit, sebagaimana fisik memerlukan nutrisi dari makanan yang halal dan thoyib," ujar Ustadz Bashori di hadapan para jamaah yang hadir bakda Maghrib tersebut.

Bahaya Riya dan Kesyirikan Hati

Ustadz Bashori mengingatkan bahwa amal yang tampak besar secara lahiriah bisa menjadi sia-sia jika terselip niat selain karena Allah SWT. Demikian juga kesyirikan yang dianggap kecil pun bisa menyebabkan seseorang celaka. Beliau menyitir kisah dalam hadits riwayat Imam Ahmad mengenai dua orang yang melewati kaum penyembah berhala. Kaum itu tidak memperkenankan siapapun melewati wilayah mereka tanpa mempersembahkan suatu persembahan kepada berhala yang mereka sembah, walau dengan persembahan yang dianggap kecil, yaitu seekor lalat. Satu orang masuk neraka karena mempersembahkan seekor lalat demi kelancaran perjalanan, sementara yang lain masuk surga karena memilih wafat demi menjaga ketauhidan.

Lebih lanjut, Ustadz Bashori memaparkan bahaya riya atau keinginan untuk dipuji orang. Merujuk pada hadits riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah r.a. Ada tiga golongan manusia yang melakukan amal yang besar yaitu: orang yang belajar dan mengajarkan ilmu/Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang banyak berderma/bersedekah, tetapi justru bisa menjadi yang pertama masuk neraka jika amal mereka hanya ditujukan untuk mengejar gelar "alim", "pemberani", atau "dermawan" di mata manusia di dunia. Mereka tidak mendapatkan sedikit pun balasan di akhirat bahkan mereka mendapatkan celaka.

"Sesungguhnya amal perbuatan itu sesuai dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya," tegasnya mengutip hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar bin Khattab r.a.

Belajar "Seni Menyembunyikan Amal"

Sebagai solusi untuk menjaga keikhlasan, Ustadz Bashori mengajak jamaah meneladani sosok Ali Zainal Abidin bin Husein r.a. cicit Rasulullah SAW yang dikenal dengan amalan beliau memberikan bantuan gandum secara rahasia di malam hari kepada fakir miskin di Kota Madinah, yang identitasnya baru terungkap setelah beliau wafat.

Ustadz Bashori mengutip perkataan ulama besar Abu Utsman: “ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk (manusia) dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah).”

Bahwa ikhlas yang hakiki adalah kemampuan seorang hamba untuk melupakan pandangan manusia karena hatinya telah penuh dengan pandangan kepada Sang Pencipta (Khaliq) untuk berharap ridha-Nya.

Mengutip definisi ikhlas menurut seorang salaf, Ya’quf bin Mahfuf :"Orang yang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang menutupi kebaikannya seperti dia menutupi keburukannya.”

“Ibadah yang ikhlas tidak akan bertambah atau berkurang hanya karena penilaian manusia," pungkasnya.

Acara yang berlangsung khidmat di Masjid Al-Muqorrobin ini ditutup dengan doa berharap agar setiap aktivitas ibadah yang dijalankan masyarakat, khususnya di wilayah Desa Sijambe, senantiasa berlandaskan ketulusan hanya mengharap ridha Allah SWT. Kegiatan diakhiri dengan melaksanakan sholat Isya’ berjama’ah.

Pengolah : Redaksi Publikasi Online

Masjid Al-Muqorrobin PRM Sijambe, Wonokerto

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image