Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Otentik Art

JEDA (11) Demi Buah Hati dan Orang Tercinta

Khazanah | 2026-02-24 10:57:32

Ada langkah-langkah yang terasa berat, tetapi tetap kita tempuh. Ada lelah yang tak sempat dikeluhkan, karena di ujung sana ada wajah-wajah yang kita cintai. Demi buah hati. Demi orang-orang tercinta.

Setiap pagi mungkin dimulai dengan doa yang sederhana: “Ya Allah, cukupkanlah.” Cukupkan rezeki. Cukupkan kesehatan. Cukupkan kekuatan. Karena yang kita pikirkan bukan lagi diri sendiri, melainkan masa depan yang sedang tumbuh di hadapan mata.

Ia pulang dengan lelah yang belum sempat reda, namun tangannya tetap lembut menyentuh buah hatinya. Di situlah cinta bekerja tanpa banyak kata—mengubah penat menjadi doa, dan perjuangan menjadi makna.

Bukankah Allah pernah mengingatkan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita? Pesan itu terasa begitu dalam—bukan hanya tentang harta, tetapi tentang iman, tentang pendidikan, tentang keteladanan. Kita ingin anak-anak kita tumbuh dengan punggung yang tegak, bukan karena kemewahan, tetapi karena nilai yang kuat.

Maka kita bekerja. Kita bertahan. Kita belajar mengalah pada ego. Kita menahan amarah. Kita mengatur ulang mimpi-mimpi pribadi agar selaras dengan kebutuhan keluarga. Kadang terasa sunyi, seolah perjuangan ini hanya kita yang tahu. Namun bukankah setiap nafkah yang halal, setiap peluh yang jatuh demi keluarga, pernah disebut sebagai sedekah?

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa apa yang diberikan seorang suami kepada keluarganya bernilai pahala ketika diniatkan karena Allah. Betapa lembut ajaran itu—seolah ingin menenangkan hati para pejuang rumah tangga yang diam-diam menahan lelah.

Dan mungkin, di malam hari, saat semua terlelap, ada doa yang lirih terucap: agar anak-anak dijaga akidahnya, agar pasangan dikuatkan hatinya, agar rumah tetap menjadi tempat pulang yang damai. Dalam sujud yang panjang, kita titipkan mereka kepada Allah, karena kita sadar, sekuat apa pun usaha kita, penjagaan terbaik tetap milik-Nya.

Perjuangan demi buah hati dan orang tercinta bukan hanya tentang materi. Ia tentang hadirnya kita. Tentang waktu yang disisihkan. Tentang teladan yang diperlihatkan. Tentang sabar yang dipilih saat keadaan memancing emosi. Dalam diamnya pengorbanan itu, sesungguhnya sedang tumbuh amal-amal yang mungkin tak terlihat manusia, tetapi tidak pernah luput dari pandangan-Nya.

Teaching: Ketika perjuangan terasa melelahkan, luruskan kembali niat. Jadikan cinta kepada keluarga sebagai jalan mendekat kepada Allah, bukan sekadar beban dunia. Karena setiap usaha yang dibingkai dengan iman akan berubah menjadi ibadah, dan setiap pengorbanan yang disertai keikhlasan akan menemukan balasannya pada waktu yang paling tepat.

Jika hari ini engkau merasa letih, ingatlah: mungkin anakmu belum memahami besarnya pengorbananmu. Mungkin pasanganmu tak selalu mengucapkan terima kasih. Namun Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di balik dadamu. Tidak ada air mata yang sia-sia. Tidak ada doa yang terbuang percuma.

Teruslah melangkah. Demi buah hati. Demi orang tercinta. Dan lebih dari itu, demi rida-Nya yang membuat semua lelah terasa bermakna.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image