Idealisme Barcelona, Sepakbola Indah dan Pesan Kemanusiaan
Olahraga | 2026-05-14 18:30:37
Sempurna, kekalahan telak Los Blancos yang malang memastikan Barca berhasil juara La Liga. Gemuruhnya Camp Nou pada pertarungan sengit El Clasico lalu, adalah gol indah hasil tendangan keras Marcus Rashford, pemain pinjaman dari Manchester United.
Barcelona juara lewat kemenangan mudah melawan musuh abadinya, Real Madrid membuat para bola mania, terutama para Culers nyemplung ke dalam suasana euphoria.
Namun lebih dari itu, pemandangan bersejarah membuat dunia terperangah hebohnya seperti kongres homo sapiens di atas kereta millenium. Lantaran winger muda Blaugrana, Lamine Yamal, setelah menyelesaikan tugas berat lantas mengibarkan bendera Palestina saat tim berparade bus di kota Barcelona.
Andai saja Barca bangkrut, hilang sudah keindahan sepakbola yang berisi misi kemanusiaan?
Artinya jangan melihat keberhasilan Barcelona hanya sekedar meraih – wariskan trophy saja. Tetapi ukuran keberhasilannya adalah sampai kapan idealisme Barcelona bisa bertahan? Idealisme yang memadukan sifat seni indah sepakbola yang sulit dicari tandingannya dengan pengaruh besar menyebarkan pesan-pesan kemanusiaan bagi seluruh umat manusia yang tidak hanya senang menonton bola di lapangan.
Filosofi Barcelona sangat beda dengan Filosofi klub-klub bola lain yang menomorsatukan duit, tujuannya komersial dengan cara menumpuk keuntungan atau income dari merchandise yang gila-gilaan dan menarik sponsor lebih gampang. Misalnya Madrid yang mengumpulkan pemain-pemain bintang terbaik dunia Los Galacticos, sehingga pada era ini menyetarakan Madrid sebagai klub sepak bola terkaya dan termahal nomor satu dunia.
Hanya Barca yang bebas berkoar tentang kemanusiaan tanpa ditertawakan suporternya. Rasanya selain Barca, tampak aneh jika mereka menjalin kemitraan dengan lembaga kemanusiaan, sementara pemiliknya terlibat skandal yang berseberangan dengan misi kemanusiaan. Mereka berseru tentang perdamaian, sementara di masa lalunya merawat rasisme dan menjadi pelopor hooligans yang paling anarkis di dunia.
Di tengah dunia di mana uang pengendali utama sepak bola adalah olahraga yang sangat dekat dengan kultur borjuisi, dan mahal. Barca konsistensi, tidak bergeser dari pijakannya yang menabrak tradisi komersial yang rakus di industri sepak bola yang demikian itu! Selain keindahan sepak bola tampil, Barca kalahkan kurikulum perjudian yang super canggih.
Tetapi bagusnya Barca memang tidak perlu konyol berkoar idealisme dan pesan kemanusiaan, jika melihat pada keadaan diwarnai kekacauan pasca Messi hengkang karena kendala finansial.
Pada saat itu bagi Barcelona zaman kegelapan telah tiba, banyak pemain muda digunakan karena tidak mampu beli pemain. Barca hanya bisa bermimpi mengumpulkan pemain bintang seperti Madrid yang memboyong Galaxy baru Kylian Mbappe dan sedetan pemain bintang lainnya sehingga Madrid digadang-gadang jadi penguasa Spanyol yang akan memborong semua trophy tanpa sisa.
Betapa bisingnya Dunia saat Mbappe resmi menginjakkan kaki di Santiago Bernabeu. Fans Madrid seolah merasa sudah memenangkan segalanya, mereka klaim sebagai yang terkuat dalam sejarah sepak bola. Bahkan sebelum Liga dimulai mereka menunjuk postingan penuh kesombongan membanjiri media sosial.
Barca keteteran akibat setumpuk masalah non teknis lainnya. Pada waktu yang sama, La Blaugrana menjadi korban kampanye kotor bersalah atas apa yang dituduhkan.
Persisnya di tengah kondisi finansial terpuruk, filosofi Blaugrana benar-benar diuji. Melihat kondisi ini buat musuh tertawa keras, dan kesempatan untuk kemudian menyusun berbagai cara menghancurkannya. Sebab ada semacam adagium, perlawanan terhadap Barca tidak boleh hanya terdengar ramainya di tribun saja, atau rivalitas tak boleh berhenti hanya dalam lapangan melainkan juga harus dilakukan di luar lapangan.
Rivalitas dengan Barcelona tidak bisa hanya bertanding dengan cara-cara ritual normal saja, harus opportunity. Masih ingat Chelsea di bawah tangan Mourinho yang luar biasa memagari gawang dengan 11 pemainnya saat bertemu Barca?
Bila ingin mengalahkan tim sesempurna Barcelona. Maka hendaknya bertindak se-pragmatis mungkin! Pada laga akhir La Liga musim 2021 silam, rasanya menyaksikan Barcelona melawan dirinya sendiri, melawan bayangannya sendiri. Eibar, salah satu dari sekian banyak klub sepakbola dunia yang cerdik. Saat melawan Barcelona, Eibar memilih memakai Jersey biru-merah replikasi kostum Barcelona.
Era ini dimana tak ada lagi dominasi, filosofi Blaugrana (siapapun pelatihnya) we don't care, (bermain indah) the don't care redup, seolah tidak ada lagi yang benar-benar cocok menjalankannya. Barca hampir saja terperosok dan tersungkur dalam jurang degradasi La liga.
Para Culers untungnya tidak putus harapan dan memutuskan ikut hengkang berhaluan lain, bertahan mencicipi nikmatnya perpaduan sepak bola yang indah di Barcelona sembari berharap ada dukun yang bisa tangani.
Roda berputar memutar kembali cerita kejayaan, keajaiban takdir buka jalan keluar dari krisis. Comeback Barca, tetap harus bangun rasa percaya diri sebagai tim yang kuat, dan agresif. Tak kenal kompromi, adu gengsi, tampil ngotot dengan gol-gol indah berkualitas.
Barcelona tetap lebih baik dari klub lain meski tanpa Messi. Karena semua hal itu pula, jangan heran para legendaris sepakbola dan yang terpenting lagi membuat decak kagum fans fanatik berkata “Barca seperti datang dari planetnya para alien” tidak bangkrut lantaran memadukan seni, idealism dan pesan kemanuisaan.
“Thank God, I'm Not Madridista” (terima kasih Tuhan, saya bukan Madridistas), Yamal menaruh slide pertama postingan akun sosial media pribadinya gambar Jersey Barcelona yang bertuliskan pesan satier tak perlu disesali, dan berharap tidak membuka luka perasaan sehingga semakin sengitnya rivalitas kedepan.
Sihir sepak bola menyebar, sangat powerful menghipnotis warga dunia larut dalam ekstase, sebaliknya juga tak memungkiri ada yang sedih ketika kegagalan atau masih kosong tak ada piala.
Prestasi sepakbola adalah prestise yang bisa menggejala menumbuhkan citra-rasa kemanusiaan. Untuk itu kita tagih tanggung jawab PSSI untuk serius persepakbolaan nasional dibenah, termasuk menemukan episteme - obat jaga kerusuhan, dan aksi-aksi perusakan yang dilakukan suporter kerap terjadi terus berulang yang merusak citra sepakbola. []
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
