Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image jok

Kenapa AS Sangat Berkepentingan dengan Piala Dunia 2026?

Politik | 2026-05-30 18:55:39
Trofi Piala Dunia. Foto: REUTERS/Luis Cortes via republika.co.id.

PIALA Dunia 2026 bukan cuma sebuah turnamen sepak bola akbar empat tahunan. Ia juga merupakan panggung komunikasi global dengan audiens yang mungkin tidak pernah bisa dijangkau oleh konferensi diplomatik atau pidato para pemimpin dunia.

Betapa tidak. Selama sebulan lebih, perhatian publik internasional bakal terkonsentrasi pada wilayah Amerika Utara, tempat Piala Dunia tahun ini dihelat.

Yang menarik, turnamen kali ini berlangsung pada saat persaingan geopolitik global sedang mengalami perubahan besar. Kebangkitan Tiongkok, ekspansi pengaruh negara-negara Teluk, serta munculnya berbagai pusat kekuatan baru membuat persaingan internasional semakin kompleks. Arena kompetisinya pun semakin beragam.

Jika dahulu perebutan pengaruh identik dengan pangkalan militer dan perlombaan senjata, kini perebutan pengaruh rupanya terjadi pula di stadion sepak bola.

Faktanya, negara-negara saling berlomba menjadi tuan rumah turnamen olahraga internasional, termasuk Piala Dunia, lantaran memahami nilai politik yang terkandung di dalamnya.

Arab Saudi adalah contoh yang paling jelas. Dalam beberapa tahun terakhir, negara kerajaan itu menginvestasikan dana besar-besaran ke industri sepak bola global. Klab-klab Eropa, pemain bintang, hak siar, hingga penyelenggaraan turnamen menjadi bagian dari strategi yang lebih luas negara itu.

Tiongkok pernah menempuh jalur yang mirip. Pemerintah Beijing secara terbuka menjadikan sepak bola sebagai salah satu instrumen peningkatan citra dan pengaruh internasional. Meskipun hasilnya belum sepenuhnya sesuai harapan, toh ambisi geopolitiknya di balik upaya itu terlihat cukup jelas.

Sudah barang tentu, Amerika Serikat (AS) tidak ingin ketinggalan. Negara berjuluk Paman Sam itu, yang selama puluhan tahun memimpin sistem internasional, memahami bahwa ruang pengaruh yang kosong bisa segera diisi oleh pihak lain.

Karena itu, ketuanrumahan AS di Piala Dunia 2026 -- bersama Kanada dan Meksiko -- dapat dibaca sebagai bagian dari upaya mempertahankan relevansi kepemimpinan globalnya, yang merupakan salah satu strategi logis dalam dunia yang semakin kompetitif.

Jangan lupa, ada juga faktor ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Piala Dunia menghadirkan arus wisatawan, investasi, sponsor, hak siar, dan aktivitas komersial dalam skala luar biasa besar. Di era ekonomi perhatian alias attention economy, perhatian publik global telah menjadi komoditas yang sangat berharga.

Perusahaan-perusahaan teknologi AS memahami hal itu. Platform digital, layanan streaming, media sosial, dan industri periklanan memperoleh manfaat besar ketika jutaan hingga miliaran orang menghabiskan waktu mereka untuk mengikuti gelaran Piala Dunia.

Namun, aspek yang paling menarik justru berada pada wilayah simbolik. Ketika jutaan penggemar sepakbola dari berbagai negara datang ke stadion, mengunjungi kota-kota AS, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal, mereka tidak hanya menyaksikan pertandingan sepak bola. Mereka juga sedang mengonsumsi narasi tentang AS.

Narasi sering kali lebih kuat daripada statistik. Dalam politik internasional, persepsi publik global dapat memengaruhi investasi, kerja sama ekonomi, hubungan diplomatik, bahkan posisi tawar sebuah negara. Citra yang terbentuk selama beberapa minggu saja terkadang mampu bertahan bertahun-tahun.

Tentu saja, tidak semua negara berhasil memanfaatkan momentum olahraga global secara efektif. Beberapa negara sukses meningkatkan reputasi internasionalnya. Sebagian lainnya justru menghadapi kritik terkait isu sosial, politik, atau hak asasi manusia. Artinya, turnamen besar selalu membawa peluang sekaligus risiko. AS sangat boleh jadi sudah mengkalkulasi hal tersebut.

Di atas lapangan hijau ketika pertandingan demi pertandingan digelar, memang ada sebelas pemain melawan sebelas pemain lainnya. Akan tetapi, di luar lapangan terdapat jaringan kepentingan ekonomi, diplomasi, teknologi, budaya, dan politik yang jauh lebih luas.

Karena itu, Piala Dunia 2026 mungkin bukan semata kisah tentang timnas mana yang akhirnya berhasil mengangkat trofi di akhir turnamen. Ia juga merupakan kisah tentang bagaimana sebuah negara adidaya memanfaatkan olahraga paling populer di dunia untuk mempertahankan pengaruhnya di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Ketika peluit kick-off di Piala Dunia disemprit, sejatinya pertandingan yang berlangsung bukan cuma pertandingan sepak bola, melainkan juga pertandingan memperebutkan perhatian, citra, dan kekuasaan di abad ke-21.***

--

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image