Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zefanya Christanya Nikoku Canon

Di Antara Washington dan Beijing: Dilema Strategis Korea Selatan

Edukasi | 2026-06-11 15:14:53

Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini berkembang melampaui isu perdagangan dan semakin terfokus pada penguasaan teknologi strategis. Salah satu sektor yang menjadi titik sentral kompetisi tersebut adalah industri semikonduktor, mengingat perannya yang sangat penting dalam pengembangan kecerdasan buatan, komputasi berperforma tinggi, sistem pertahanan, serta transformasi ekonomi digital. Dalam situasi ini, Korea Selatan menempati posisi yang strategis karena menjadi basis bagi perusahaan semikonduktor kelas dunia seperti Samsung Electronics dan SK Hynix yang berkontribusi besar dalam rantai pasok global. Namun, posisi tersebut juga menghadirkan tantangan yang kompleks. Sebagai sekutu utama Amerika Serikat, Korea Selatan memiliki kepentingan untuk memperkuat kerja sama teknologi dan keamanan dengan Washington.

Di sisi lain, Tiongkok merupakan mitra dagang utama sekaligus pasar yang sangat penting bagi industri semikonduktor Korea Selatan. Akibatnya, Seoul dihadapkan pada tekanan untuk menyeimbangkan hubungan dengan kedua negara. Keputusan yang terlalu berpihak kepada salah satu pihak berpotensi menimbulkan konsekuensi ekonomi maupun strategis. Oleh karena itu, Korea Selatan cenderung mengadopsi kebijakan yang pragmatis dengan menjaga kemitraan keamanan dengan Amerika Serikat sembari tetap mempertahankan hubungan ekonomi yang konstruktif dengan Tiongkok demi melindungi dan memaksimalkan kepentingan nasionalnya di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompetitif.

Ketergantungan Korea Selatan terhadap pasar Tiongkok dan kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat membuatnya sulit untuk sepenuhnya berpihak pada salah satu pihak. Karena itu, pendekatan yang paling realistis adalah mempertahankan strategi pragmatis yang mengutamakan kepentingan nasional, yaitu dengan memperkuat daya saing industri semikonduktor domestik, menjaga hubungan ekonomi dengan Tiongkok, serta tetap mempertahankan aliansi strategis dengan Amerika Serikat. Keberhasilan Korea Selatan dalam menyeimbangkan kedua hubungan tersebut dapat menjadi contoh bagaimana negara menengah dapat menjaga otonomi kebijakan di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global.

Sumber: Telset, 2020

Korea Selatan dalam Jaringan Ketergantungan Global

Korea Selatan mendapat posisi strategis dalam rantai pasok semikonduktor global melalui perusahaan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Namun, posisi tersebut juga menempatkan Seoul dalam situasi yang kompleks di tengah persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Di satu sisi, Tiongkok merupakan mitra dagang utama dan pasar penting bagi industri semikonduktor Korea Selatan. Di sisi lain, Amerika Serikat adalah sekutu keamanan utama yang memiliki pengaruh besar dalam kerja sama teknologi dan pertahanan. Kondisi ini menciptakan dilema bagi Korea Selatan dalam menentukan arah kebijakan luar negerinya

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori Complex Interdependence yang dikembangkan oleh Robert Keohane dan Joseph Nye. Teori ini menekankan bahwa hubungan antarnegara tidak hanya ditentukan oleh faktor keamanan, tetapi juga oleh keterkaitan ekonomi. Oleh karena itu, semakin besar ketergantungan ekonomi Korea Selatan terhadap Tiongkok, semakin sulit bagi Seoul untuk sepenuhnya mengikuti strategi pembatasan teknologi yang dipimpin Amerika Serikat. Dalam situasi ini, Korea Selatan cenderung mengambil pendekatan yang pragmatis dengan menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keamanan nasionalnya.

Studi Kasus: Kontrol Ekspor Semikonduktor Amerika Serikat terhadap Tiongkok dan Dampaknya bagi Korea Selatan (2022–2025)

Pada Oktober 2022, Amerika Serikat memberlakukan kebijakan pembatasan ekspor teknologi semikonduktor canggih ke Tiongkok. Kebijakan tersebut kemudian diperluas secara bertahap hingga tahun 2024 dan berdampak pada berbagai perusahaan yang menjadi bagian dari rantai pasok semikonduktor global.

Kebijakan ini tidak hanya membatasi penjualan chip berperforma tinggi yang digunakan untuk kecerdasan buatan (AI), superkomputer, dan aplikasi militer, tetapi juga membatasi ekspor peralatan manufaktur semikonduktor serta dukungan teknis dari perusahaan dan warga negara Amerika Serikat kepada industri chip Tiongkok. Pemerintah AS beralasan bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan militer dan pengembangan teknologi strategis Tiongkok. Seiring berjalannya waktu, aturan tersebut terus diperketat dan diperluas pada 2023 hingga 2024 untuk menutup berbagai celah yang memungkinkan perusahaan Tiongkok memperoleh teknologi canggih melalui pihak ketiga atau negara lain. Akibatnya, kebijakan ini tidak hanya berdampak pada perusahaan-perusahaan Tiongkok, tetapi juga mempengaruhi pelaku utama dalam rantai pasok semikonduktor global, termasuk perusahaan di Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Belanda yang memiliki keterkaitan erat dengan pasar serta industri teknologi Tiongkok. Persaingan ini menunjukkan bahwa semikonduktor telah berubah dari sekadar komoditas ekonomi menjadi instrumen strategis dalam persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dampak terhadap Korea Selatan

Korea Selatan menghadapi dilema karena:

  • Amerika Serikat adalah sekutu strategisnya.
  • Tiongkok merupakan pasar utama semikonduktor Korea Selatan.

Penelitian dalam KDI Journal of Economic Policy oleh Kim dan Cho(2024) menemukan bahwa kontrol ekspor AS menyebabkan penurunan signifikan ekspor semikonduktor Korea Selatan, terutama pada subsektor memori dan perangkat diskrit.

Kalau dilihat dalam perspektif teori interdependensi kompleks oleh Keohane dan Nye (2012) dalam bukunya yang berjudul Power and Interdependence, kasus semikonduktor menunjukkan bahwa hubungan internasional di Asia Timur tidak lagi dapat dijelaskan hanya melalui persaingan kekuatan. Saling ketergantungan ekonomi lintas negara membuat kebijakan geopolitik menghasilkan konsekuensi ekonomi yang kompleks bagi negara-negara menengah seperti Korea Selatan.

Korea Selatan berada pada posisi yang strategis sekaligus rentan di tengah rivalitas yang semakin intens antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kasus pembatasan ekspor semikonduktor menunjukkan bahwa kepentingan keamanan dan ekonomi tidak selalu berjalan searah, melainkan sering kali menimbulkan dilema dalam pengambilan kebijakan. Melalui teori Complex Interdependence, kondisi ini dapat dipahami sebagai konsekuensi dari tingginya tingkat keterhubungan ekonomi yang membatasi kemampuan suatu negara untuk berpihak secara mutlak pada salah satu kekuatan besar.

Oleh karena itu, Korea Selatan cenderung menempuh pendekatan yang pragmatis dengan menjaga keseimbangan antara hubungan keamanan dengan Amerika Serikat dan kepentingan ekonomi dengan Tiongkok. Ke depan, dinamika kawasan Asia Timur akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara-negara menengah seperti Korea Selatan dalam mengelola ketergantungan ekonomi sekaligus menghadapi tekanan geopolitik yang semakin kompleks.

Ditulis oleh:

Zefanya Christanya N Canon_Anggota Laboratory of International Relations and Sustainable Development Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (LIRSUST Legion/Rangers UKI)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image