AI Makin Cerdas, Manusia Jangan Kehilangan Peran
Info Terkini | 2026-08-09 18:48:50
Oleh : Avysach Aldi Tanduklangi, Universitas Siber Asia
Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menghasilkan informasi. Kehadiran AI generatif membuat perubahan tersebut semakin terasa karena teknologi ini tidak lagi hanya digunakan untuk melakukan perhitungan atau menjalankan perintah tertentu, tetapi mampu menghasilkan teks, gambar, suara, video, kode program, hingga membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan. Fenomena tersebut menjadikan AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di Indonesia, perkembangan penggunaan AI juga menunjukkan percepatan yang cukup tinggi. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebutkan bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen pada Februari 2026. Pemerintah melihat tingginya angka tersebut sebagai peluang agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berkembang menjadi pencipta inovasi AI.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin terbuka terhadap teknologi AI. Namun, tingginya tingkat adopsi juga menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah manusia semakin terbantu oleh AI, atau justru perlahan kehilangan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kecanggihan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan kesiapan manusia dalam menggunakannya. AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi kecepatan memperoleh jawaban tidak selalu berarti bahwa jawaban tersebut benar, relevan, atau sesuai dengan kebutuhan manusia.
AI dan Perubahan Cara Manusia Bekerja
Salah satu bidang yang paling terdampak perkembangan AI adalah dunia kerja. AI generatif dapat membantu membuat dokumen, menganalisis data, menyusun ide, menerjemahkan bahasa, menghasilkan desain, hingga membantu pemrograman. Perubahan ini membuat sejumlah pekerjaan menjadi lebih efisien, tetapi pada saat yang sama mengubah keterampilan yang dibutuhkan manusia.
World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa hingga 2030 akan terjadi perubahan besar pada pasar tenaga kerja. Sekitar 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan muncul, sementara 92 juta pekerjaan berpotensi mengalami perpindahan atau kehilangan, sehingga secara keseluruhan terdapat pertambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa keterampilan teknologi seperti AI dan big data akan semakin penting, tetapi kemampuan manusia seperti berpikir kreatif, ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan bekerja sama tetap menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata apakah AI akan menggantikan manusia. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana manusia beradaptasi ketika sebagian tugas yang sebelumnya dilakukan manusia mulai dapat dikerjakan oleh mesin.
Dalam konteks ini, manusia tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Kemampuan untuk memahami masalah, menentukan tujuan, mempertimbangkan dampak keputusan, berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami kondisi orang lain tetap membutuhkan kapasitas manusia. Dengan kata lain, perkembangan AI justru membuat kualitas manusia menjadi semakin penting.
Dari Industry 4.0 Menuju Society 5.0
Perkembangan AI merupakan bagian dari transformasi teknologi yang erat kaitannya dengan Industry 4.0. Pada fase ini, teknologi digital, internet, otomatisasi, big data, komputasi awan, dan AI menjadi bagian penting dalam proses produksi maupun kehidupan masyarakat.
Namun, perkembangan teknologi tidak berhenti pada pertanyaan mengenai seberapa cepat dan efisien sebuah mesin dapat bekerja. Konsep Society 5.0menawarkan perspektif yang lebih berorientasi pada manusia. Pemerintah Jepang mendefinisikan Society 5.0 sebagai masyarakat yang berpusat pada manusia, dengan mengintegrasikan ruang siber dan ruang fisik untuk mencapai pembangunan ekonomi sekaligus menyelesaikan persoalan sosial. Konsep tersebut juga menekankan keberlanjutan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat.
Perbedaan perspektif ini penting. Industry 4.0 banyak berbicara mengenai transformasi industri melalui teknologi, sedangkan Society 5.0 menekankan bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi manusia.
Dengan demikian, AI seharusnya tidak dipandang hanya sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas. AI juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan manusia. Teknologi yang semakin canggih tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang lebih baik apabila manusia kehilangan kendali atas keputusan, kehilangan kemampuan berpikir kritis, atau mengabaikan nilai etika dalam penggunaannya.
Ketika Kemudahan Berubah Menjadi Ketergantungan
Salah satu tantangan terbesar penggunaan AI adalah munculnya ketergantungan. Ketika seseorang dapat meminta AI menyusun tulisan, mencari informasi, membuat ide, atau menyelesaikan persoalan dalam waktu singkat, terdapat kemungkinan bahwa proses berpikir manusia menjadi semakin berkurang.
Fenomena tersebut sangat relevan dalam dunia pendidikan. AI dapat digunakan untuk membantu mahasiswa memahami materi, menemukan ide penelitian, menyusun kerangka tulisan, melakukan simulasi, dan memperoleh penjelasan mengenai konsep yang sulit. Namun, penggunaan AI tanpa kontrol dapat mengubah teknologi dari alat pembelajaran menjadi pengganti proses belajar.
UNESCO menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam pemanfaatan AI generatif. Dalam panduannya mengenai AI generatif untuk pendidikan dan penelitian, UNESCO menyoroti sejumlah persoalan seperti privasi data, keamanan, kesetaraan, integritas akademik, serta perlunya mempertahankan human agency atau kemampuan manusia untuk tetap memiliki kendali dalam proses pengambilan keputusan.
Karena itu, persoalannya bukan apakah mahasiswa boleh menggunakan AI atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah untuk tujuan apa AI digunakan dan sejauh mana manusia tetap terlibat dalam prosesnya.
Mahasiswa yang menggunakan AI untuk memahami konsep kemudian memeriksa kembali informasi, membandingkan sumber, mengembangkan argumen, dan menyusun pemikirannya sendiri masih menempatkan AI sebagai alat bantu. Sebaliknya, apabila seluruh proses berpikir diserahkan kepada AI tanpa verifikasi dan pemahaman, teknologi tersebut justru dapat melemahkan kemampuan intelektual penggunanya.
Human Literacy Menjadi Semakin Penting
Di sinilah konsep Human Literacy dalam Estetika Humanisme memperoleh relevansinya. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia hanya menjadi semakin terampil menggunakan perangkat, tetapi juga harus membuat manusia semakin mampu memahami dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sosialnya.
AI mampu memproses data dalam jumlah besar dan menghasilkan respons dengan cepat. Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan apakah suatu keputusan layak dilakukan. AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi manusia harus mempertimbangkan nilai, konteks, konsekuensi, dan dampak sosial dari rekomendasi tersebut.
Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu bagian penting dari Human Literacy. Informasi yang diberikan AI tidak boleh langsung dianggap sebagai kebenaran. Pengguna perlu memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, serta mempertimbangkan kemungkinan kesalahan.
UNESCO juga menempatkan human agency, berpikir kritis, dan etika sebagai kemampuan penting dalam menghadapi perkembangan AI di bidang pendidikan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa literasi AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan manusia untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, manusia masa depan bukanlah manusia yang menolak AI, tetapi manusia yang mampu bekerja bersama AI tanpa kehilangan identitas dan kemampuan berpikirnya.
AI Seharusnya Memperkuat, Bukan Menggantikan Manusia
Society 5.0 pada dasarnya mengingatkan bahwa teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. AI dapat digunakan untuk membantu tenaga kesehatan mempercepat analisis, membantu guru mempersiapkan materi, membantu pekerja menyelesaikan pekerjaan administratif, dan membantu masyarakat memperoleh informasi. Bahkan laporan terbaru mengenai AI di negara berkembang menunjukkan bahwa teknologi tersebut memiliki potensi untuk memperluas akses terhadap pendidikan, kesehatan, pertanian, dan layanan publik apabila didukung oleh infrastruktur serta keterampilan yang memadai.
Namun, pemanfaatan tersebut harus disertai tanggung jawab. Teknologi tidak boleh hanya mengejar efisiensi dengan mengorbankan manusia. Persoalan privasi, keamanan data, kesenjangan digital, hak cipta, bias algoritma, penyebaran informasi yang salah, serta dampak terhadap pekerjaan perlu menjadi bagian dari pembicaraan mengenai perkembangan AI.
Di Indonesia, perhatian terhadap persoalan tersebut juga mulai terlihat dalam kebijakan pendidikan. Pada Maret 2026, pemerintah melalui tujuh kementerian menetapkan pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta AI pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Kebijakan tersebut diarahkan agar pemanfaatan AI memberikan manfaat bagi proses pembelajaran sekaligus memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko di ruang digital.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menggunakan aplikasi. Diperlukan aturan, pendidikan, literasi, dan kesadaran etis agar teknologi berkembang sejalan dengan kepentingan manusia.
Penutup
AI memang semakin cerdas. Teknologi tersebut mampu membantu manusia menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga yang jauh lebih besar. Perkembangan ini merupakan bagian dari perubahan besar menuju masyarakat digital yang semakin terintegrasi.
Namun, kecerdasan mesin tidak seharusnya membuat manusia kehilangan perannya. Justru ketika teknologi semakin canggih, manusia dituntut semakin mampu berpikir kritis, kreatif, etis, adaptif, dan bertanggung jawab.
Dalam perspektif Society 5.0, keberhasilan teknologi tidak cukup diukur dari seberapa canggih sistem yang diciptakan. Keberhasilan tersebut juga harus dilihat dari seberapa besar teknologi mampu meningkatkan kesejahteraan manusia tanpa menghilangkan martabat, kebebasan, dan kemampuan manusia untuk menentukan arah kehidupannya.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting di era AI bukanlah “Seberapa pintar AI dapat menjadi?”, melainkan “Seberapa bijaksana manusia menggunakan kecerdasan tersebut?”
AI boleh semakin cerdas. Tetapi manusia harus tetap menjadi pusatnya.
Referensi
Cabinet Office, Government of Japan, “Society 5.0,” Government of Japan. https://www8.cao.go.jp/cstp/english/society5_0/index.html?utm_source
World Economic Forum, The Future of Jobs Report 2025, Geneva, 2025.https://www.weforum.org/press/2025/01/future-of-jobs-report-2025-78-million-new-job-opportunities-by-2030-but-urgent-upskilling-needed-to-prepare-workforces/?utm_source
UNESCO, Guidance for Generative AI in Education and Research, Paris: UNESCO, 2023, updated 2026. https://www.unesco.org/en/articles/guidance-generative-ai-education-and-research?hub=67098&utm_source
Kementerian Komunikasi dan Digital RI, “Adopsi AI Indonesia Tinggi, Wamen Nezar Patria: Saatnya Naik Kelas Menjadi Pemain Global,” 11 Juni 2026. https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/10314?utm_source
Kementerian Komunikasi dan Digital RI, “Tujuh Kementerian Sepakati Pedoman Penggunaan AI di Pendidikan,” 12 Maret 2026. https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/tujuh-kementerian-sepakati-pedoman-penggunaan-ai-di-pendidikan?utm_source
World Bank, AI offers 'lifeline' for emerging economies, 4 Agustus 2026. https://www.reuters.com/business/ai-offers-lifeline-emerging-economies-world-bank-says-2026-08-04/?utm_source
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
