Berkaca dari Polemik Maudy Ayunda, Cara Menerapkan Mindfulness Tanpa Kehilangan Empati?
Trend | 2026-09-20 11:07:48
Di tengah derasnya arus informasi, rasanya hampir tidak ada satu hari pun tanpa kabar buruk. Berita tentang bencana, masalah ekonomi, konflik sosial, hingga berbagai persoalan publik terus muncul di media sosial. Belum selesai mencerna satu kabar, muncul lagi berita lainnya.
Kondisi tersebut tentu bisa membuat seseorang merasa lelah secara mental. Keinginan untuk berhenti sejenak dari media sosial, mengurangi konsumsi berita, atau sekadar mengambil waktu untuk menenangkan diri sebenarnya merupakan hal yang wajar.
Namun, bagaimana jika usaha menjaga kesehatan mental justru dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian?
Pertanyaan tersebut menjadi perbincangan setelah konten Maudy Ayunda berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah pada 21 Agustus 2026 kembali ramai di media sosial. Dalam video tersebut, Maudy membicarakan perasaannya ketika terus-menerus menerima berbagai berita buruk dan membagikan cara yang ia lakukan untuk menjaga kondisi mental, termasuk membatasi konsumsi berita.
Konten tersebut kemudian mendapatkan kritik dari sebagian warganet. Salah satu persoalan yang muncul adalah anggapan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan untuk begitu saja mengambil jarak dari berita buruk. Bagi sebagian orang, berita tersebut bukan sekadar informasi yang muncul di layar, tetapi berkaitan langsung dengan keluarga, pekerjaan, lingkungan, atau kehidupan mereka.
Maudy kemudian memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Ia mengakui bahwa ada satu hal penting yang belum cukup ia refleksikan ketika membuat konten tersebut, yaitu bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privillege. Ia juga menegaskan bahwa mindfulness yang dimaksud bukanlah alasan untuk berhenti peduli terhadap keadaan sekitar.
Dari polemik tersebut, ada satu pertanyaan yang menarik untuk kita renungkan: sebenarnya bagaimana cara menerapkan mindfulness tanpa kehilangan empati?
Mindfulness Bukan Berarti Menutup Mata
Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu memahami bahwa mindfulness bukan berarti menghindari semua hal yang membuat kita tidak nyaman.
Secara sederhana, mindfulness dapat dipahami sebagai kemampuan untuk hadir dan sadar terhadap apa yang sedang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan. Artinya, kita tidak menjalani kehidupan secara otomatis, tetapi mencoba memahami kondisi diri sendiri pada saat ini.
Misalnya, ketika membaca berita tentang bencana, kita merasa sedih, marah, atau cemas. Mindfulness bukan berarti mengatakan, "Saya tidak mau peduli karena ini mengganggu kesehatan mental saya."
Sebaliknya, kita bisa menyadari perasaan tersebut: Saya sedang sedih. Saya merasa cemas. Saya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Setelah kondisi lebih stabil, kita dapat menentukan apa yang bisa dilakukan.
Di sinilah mindfulness seharusnya tidak berhenti pada "menenangkan diri", tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk memahami keadaan dengan lebih jernih.
1. Kenali Batas Diri, tetapi Jangan Mengabaikan Realitas
Tidak ada manusia yang mampu menerima semua informasi tanpa batas. Terlalu banyak mengonsumsi berita negatif dapat membuat seseorang merasa kewalahan.
Karena itu, mengambil jeda bukan sesuatu yang salah. Kita bisa membatasi waktu menggunakan media sosial, memilih sumber berita yang kredibel, atau menentukan waktu tertentu untuk membaca berita.
Namun, jeda sebaiknya tidak berubah menjadi pengabaian.
Misalnya, kita sedang lelah melihat berita mengenai bencana. Kita boleh berhenti scrolling untuk beberapa jam. Tetapi setelah kondisi mental lebih siap, kita tetap dapat mencari tahu apa yang terjadi dan apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan.
Dengan begitu, kita tidak memilih antara "peduli" atau "menjaga kesehatan mental". Keduanya dapat dilakukan secara seimbang.
2. Bedakan "Saya Tidak Sanggup Melihat" dan "Saya Tidak Peduli"
Dua hal tersebut sebenarnya sangat berbeda.
Seseorang mungkin tidak sanggup melihat terlalu banyak gambar korban bencana karena merasa emosinya terkuras. Itu bukan berarti orang tersebut tidak memiliki empati.
Begitu juga ketika seseorang memutuskan tidak membaca berita sepanjang hari karena sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Hal tersebut tidak otomatis berarti ia tidak peduli terhadap masalah sosial.
Yang perlu diperhatikan adalah apa yang dilakukan setelah mengambil jeda.
Apakah kita benar-benar kembali dan mencoba memahami keadaan? Atau justru menggunakan kesehatan mental sebagai alasan untuk tidak pernah peduli sama sekali?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi bahan evaluasi diri.
3. Sebelum Berkomentar, Coba Lihat dari Sudut Pandang Orang Lain
Mindfulness juga dapat diterapkan ketika kita berinteraksi di media sosial.
Saat melihat sebuah konten yang tidak kita setujui, kita sering kali langsung bereaksi. Padahal, kita belum tentu mengetahui pengalaman orang yang membuat konten tersebut.
Begitu juga sebaliknya. Pembuat konten perlu memahami bahwa satu pesan dapat diterima secara berbeda oleh orang-orang dengan kondisi kehidupan yang berbeda.
Polemik Maudy menunjukkan bahwa konteks sangat penting dalam komunikasi publik. Nasihat untuk "mengambil jeda dari berita buruk" dapat terdengar berbeda bagi seseorang yang hanya merasa lelah dengan media sosial dibandingkan bagi seseorang yang keluarganya sedang terdampak bencana atau persoalan ekonomi. Kritik publik terhadap hal tersebut menunjukkan bahwa pengalaman audiens tidak selalu sama.
Karena itu, mindfulness bukan hanya soal memahami diri sendiri, tetapi juga belajar memahami posisi orang lain.
4. Ubah Empati Menjadi Tindakan
Empati tidak harus selalu berupa tindakan besar.
Ketika terjadi bencana, misalnya, kita mungkin tidak bisa datang langsung ke lokasi. Namun, kita dapat membantu sesuai kemampuan, seperti berdonasi melalui lembaga terpercaya, membagikan informasi yang benar, atau sekadar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Dalam kehidupan sehari-hari pun sederhana.
Mendengarkan teman yang sedang memiliki masalah, tidak meremehkan kesulitan orang lain, atau memberikan bantuan ketika mampu juga merupakan bentuk empati.
Mindfulness membantu kita menyadari kondisi diri, sedangkan empati membantu kita menyadari keberadaan orang lain. Keduanya tidak harus bertentangan.
5. Jangan Jadikan Mindfulness sebagai Alasan untuk Pasif
Ini mungkin menjadi pelajaran paling penting dari perdebatan yang muncul.
Menjaga kesehatan mental memang penting. Namun, menjaga kesehatan mental tidak selalu berarti menjauh dari semua persoalan sosial.
Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak agar tidak kelelahan. Tetapi ada kalanya pula kita perlu kembali melihat keadaan dan bertanya: Apa yang bisa saya lakukan?
Mindfulness seharusnya membantu seseorang menjadi lebih sadar, bukan semakin tidak peduli.
Kesadaran terhadap diri sendiri dapat menjadi langkah awal untuk memiliki kesadaran terhadap lingkungan. Ketika kita memahami emosi sendiri, kita juga memiliki kesempatan untuk memahami emosi orang lain.
Menemukan Keseimbangan
Pada akhirnya, polemik mengenai konten Maudy Ayunda bukan hanya tentang satu orang atau satu video. Perdebatan tersebut membuka pembicaraan yang lebih luas tentang kesehatan mental, privillege, media sosial, dan empati.
Kita hidup di zaman ketika informasi datang tanpa henti. Jika terlalu banyak menerima berita buruk, kita bisa merasa lelah. Tetapi jika sepenuhnya menjauh dari realitas, kita juga berisiko kehilangan kepekaan terhadap persoalan di sekitar.
Maka, mungkin jawabannya bukan memilih antara mindfulness atau empati.
Kita membutuhkan keduanya.
Kita boleh mengambil jeda ketika merasa lelah. Kita boleh mematikan notifikasi. Kita boleh tidak membuka media sosial untuk sementara waktu. Tetapi setelah itu, jangan lupa untuk kembali hadir sebagai bagian dari masyarakat.
Sebab, mindfulness bukan tentang membuat kita tidak merasakan apa-apa. Justru sebaliknya, mindfulness mengajarkan kita untuk menyadari apa yang kita rasakan, memahami keadaan dengan lebih jernih, dan menentukan respons dengan lebih sadar.
Pada akhirnya, menjaga diri dan peduli terhadap orang lain bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan. Kita bisa menjaga kesehatan mental tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Berhenti sejenak bukan berarti berhenti peduli. Kadang, kita hanya perlu mengambil napas agar bisa kembali melihat keadaan dengan lebih jernih dan bertindak dengan lebih bijak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
