Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Annisa Dwi Yudistya

Ketika Algoritma Ikut Menentukan Apa yang Kita Bicarakan

Teknologi | 2026-09-16 20:40:03

Algoritma memang memiliki peran besar dalam mengatur distribusi konten, tetapi pengguna tetap memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana mereka merespons informasi. Kita masih bisa mencari sumber lain, membaca perspektif yang berbeda, memeriksa informasi sebelum membagikannya, dan tidak langsung menganggap apa yang muncul di beranda sebagai gambaran keseluruhan dunia.

Justru karena itulah literasi digital sekarang tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan media sosial. Kita juga perlu memahami bagaimana informasi bekerja di balik layar.

Kita perlu menyadari bahwa beranda media sosial bukanlah cerminan sempurna dari realitas. Ia merupakan hasil dari interaksi antara pengguna, pembuat konten, platform, dan sistem algoritma.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya “Apa yang sedang ramai dibicarakan?”, tetapi juga “Mengapa saya yang melihatnya?”

Karena di era ketika algoritma ikut menentukan apa yang sampai kepada kita, memahami cara kerja komunikasi digital berarti juga memahami siapa atau apa yang membantu menentukan percakapan yang kita temui setiap hari.

Pernah nggak sih kita merasa media sosial seperti “tahu” apa yang sedang kita pikirkan? Baru beberapa kali melihat video tentang satu topik, tiba-tiba isi beranda dipenuhi dengan pembahasan yang sama. Kita menonton satu konten sampai selesai, memberikan like, atau bahkan hanya berhenti beberapa detik pada sebuah video, lalu konten serupa kembali muncul.

Sekilas, hal tersebut terasa seperti kebetulan. Padahal, ada sistem yang bekerja di baliknya. Algoritma media sosial mempelajari berbagai bentuk interaksi pengguna untuk menentukan konten apa yang kemungkinan akan kembali menarik perhatian mereka. Akibatnya, apa yang kita lihat di media sosial tidak sepenuhnya merupakan kumpulan informasi yang muncul secara acak.

Perubahan ini membuat algoritma tidak lagi hanya menjadi bagian dari teknologi di balik sebuah platform. Algoritma ikut berperan dalam menentukan bagaimana informasi didistribusikan dan diterima oleh masyarakat.

Dari Memilih Informasi Menjadi Dipilihkan Informasi

Pada era media konvensional, masyarakat cenderung mendapatkan informasi melalui media yang mereka pilih, seperti televisi, radio, koran, atau situs berita tertentu. Ada proses redaksi yang menentukan informasi apa yang dianggap layak disampaikan kepada audiens.

Sekarang, pola tersebut berubah. Kita memang masih memilih akun yang ingin diikuti atau topik yang ingin dicari, tetapi setelah itu algoritma ikut menentukan konten mana yang akan muncul lebih sering di hadapan kita.

Pada September 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut bahwa kendali distribusi informasi semakin bergeser dari ruang redaksi ke algoritma platform. Menurutnya, interaksi pengguna seperti like kemudian menjadi data yang dipelajari oleh sistem untuk menentukan konten yang kembali ditampilkan.

Artinya, pengalaman setiap orang di media sosial dapat menjadi sangat berbeda. Dua orang yang membuka platform yang sama pada waktu yang sama belum tentu melihat informasi yang sama.

Ketika Beranda Membentuk Cara Pandang

Masalahnya bukan hanya tentang konten apa yang kita lihat, tetapi juga tentang bagaimana paparan berulang tersebut dapat memengaruhi cara kita memandang suatu persoalan.

Misalnya, seseorang sering menonton konten tentang sebuah isu tertentu. Karena sering berinteraksi dengan topik tersebut, sistem dapat kembali menampilkan konten yang serupa. Lama-kelamaan, orang tersebut bisa merasa bahwa topik itu sedang dibicarakan oleh semua orang, padahal yang sebenarnya terjadi mungkin hanya karena berandanya memang dipenuhi konten tersebut.

Fenomena semacam ini berkaitan dengan istilah filter bubble dan echo chamber. Komdigi pada 2026 beberapa kali mengingatkan bahwa algoritma dapat menciptakan lingkungan informasi yang membuat seseorang lebih sering bertemu dengan pandangan yang serupa dengan preferensinya. Kondisi tersebut dapat membuat perspektif yang berbeda semakin jarang terlihat.

Di sinilah algoritma menjadi menarik jika dilihat dari perspektif Ilmu Komunikasi. Informasi tidak hanya berbicara tentang pesan yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut sampai kepada khalayak dan bagaimana khalayak memaknainya.

Yang Viral Belum Tentu yang Paling Penting

Media sosial juga membuat perhatian menjadi sesuatu yang sangat berharga. Konten yang mendapatkan banyak interaksi memiliki peluang untuk terus beredar dan dilihat oleh lebih banyak orang. Akibatnya, sesuatu yang viral dapat terasa lebih penting daripada sesuatu yang sebenarnya lebih relevan atau memiliki informasi yang lebih lengkap.

Hal ini menjadi tantangan karena algoritma tidak dirancang untuk menjadi pemeriksa fakta. Komdigi juga mengingatkan bahwa ruang digital rentan terhadap misinformasi dan disinformasi karena informasi yang beredar dapat membentuk persepsi sebelum kebenarannya diperiksa.

Bahkan, persoalannya semakin kompleks ketika konten buatan AI semakin mudah ditemukan. Masyarakat bukan hanya perlu bertanya, “Siapa yang membuat informasi ini?”, tetapi juga “Mengapa informasi ini muncul di hadapan saya?” dan “Apa yang membuat saya terus melihat informasi seperti ini?”

Jadi, Apakah Algoritma Sepenuhnya Mengendalikan Kita?

source: nationaltoday.com

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image