Mengapa Siswa Pandai Menjawab Soal tetapi Kesulitan Mengajukan Pertanyaan?
Eduaksi | 2026-06-04 10:21:32
Suasana kelas tiba-tiba hening ketika dia melemparkan sebuah pertanyaan. Puluhan siswa yang sebelumnya aktif mencatat tiba-tiba menundukkan kepala atau mengalihkan pandangan. Tidak ada yang langsung mengangkat tangan. Sebagian sibuk memikirkan jawaban yang paling tepat, sementara yang lain memilih diam karena khawatir penjelasan salah. Fenomena ini bukanlah hal yang asing di dunia pendidikan. Banyak peserta didik yang terbiasa memberikan jawaban yang dianggap benar daripada berani menyampaikan pemikirannya sendiri.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar dalam sistem pendidikan. Selama ini, keberhasilan belajar sering diukur dari kemampuan memperoleh jawaban yang benar-benar bernilai tinggi. Akibatnya, siswa dan siswa cenderung fokus pada hasil akhir, bukan pada proses berpikir yang memberikan mereka pada jawaban tersebut. Padahal, nilai yang baik tidak selalu mencerminkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis masalah, atau menyusun argumen secara logis.
Salah satu penyebabnya adalah budaya hafalan yang masih cukup kuat dalam proses pembelajaran. Peserta didik sering dituntut mengingat informasi, rumus, atau teori untuk menjawab soal ujian. Di sisi lain, kesempatan untuk merangkum, mengkritisi, atau mengeksplorasi suatu gagasan sering kali lebih sedikit diberikan. Akibatnya, banyak siswa terbiasa mencari jawaban yang sesuai dengan buku atau penjelasan guru dibandingkan membangun pemahamannya sendiri.
Pandangan ini sebenarnya sudah lama dikritisi oleh Ki Hajar Dewantara. Melalui gagasannya tentang pendidikan, ia menekankan bahwa tugas pendidikan adalah membimbing potensi yang dimiliki peserta didik agar berkembang secara optimal. Pendidikan tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran siswa, tetapi juga membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir, memahami, dan menemukan pengetahuan secara mandiri. Dengan kata lain, peserta didik perlu diberi ruang untuk tumbuh menjadi individu yang mampu menggunakan akal budinya, bukan sekadar mengulang-ulang informasi yang diterimanya.
Di era ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui internet dan kecerdasan buatan, kemampuan menghafal tidak lagi menjadi satu-satunya keunggulan. Dunia saat ini tidak kekurangan orang yang mengetahui banyak jawaban. Yang lebih dibutuhkan adalah individu yang mampu mengajukan pertanyaan, menganalisis berbagai informasi secara kritis, serta menemukan solusi bagi permasalahan yang terus berkembang. Oleh karena itu, pendidikan perlu memberikan perhatian yang lebih besar pada proses berpikir agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam menjawab, tetapi juga berani dan mampu mencari jawaban baru.
Selain itu, rasa takut melakukan kesalahan juga menjadi hambatan. Dalam banyak situasi, kesalahan dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari, bukan sebagai bagian dari proses belajar. Tidak jarang peserta didik memilih diam karena khawatir dianggap kurang memahami materi. Bahkan, pertanyaan yang keluar dari pembahasan utama terkadang mencerminkan pelajaran, padahal kemampuan bertanya merupakan salah satu indikator bahwa seseorang sedang berpikir dan berusaha memahami sesuatu secara lebih mendalam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
