Aroma Tiramisu di Tikungan Gresini
Sastra | 2026-01-28 14:05:05
Cerpen ini mengisahkan tentang Reno, seorang pemuda yang memiliki loyalitas unik terhadap varian minuman tiramisu di sebuah gerai minuman cup sealer bernama "Teh Kota". Bagi Reno, warna cokelat krem dari minuman tersebut bukan sekadar perasa, melainkan representasi visual dari livery tim Gresini Racing di musim MotoGP 2025. Melalui segelas minuman seharga dua belas ribu rupiah, Reno menemukan filosofi perjuangan Alex Marquez yang tetap kompetitif menunggangi motor spek lama, GP24, di tengah gempuran teknologi mutakhir GP25 milik tim pabrikan.
Konflik muncul ketika Reno harus berhadapan dengan Dimas, kawannya yang skeptis dan memuja kemewahan teknologi motor factory. Melalui perdebatan sengit di depan mesin cup sealer hingga pembuktian dramatis di lintasan balap melalui layar kaca, cerita ini mengeksplorasi pertentangan antara fungsionalitas melawan gengsi, serta pengalaman melawan kebaruan. Dengan latar aroma tiramisu yang manis namun kuat, narasi ini membawa pembaca pada sebuah refleksi tentang mentalitas underdog—bahwa kemenangan sejati tidak selalu ditentukan oleh perangkat aerodynamics atau holeshot device terbaru, melainkan oleh konsistensi, pemahaman mendalam terhadap potensi diri, serta keberanian untuk menaklukkan apex di setiap tikungan nasib.
Matahari sore di sudut kota sedang terik-teriknya, menciptakan fatamorgana tipis di atas aspal jalanan yang mulai melepuh. Di tengah deru mesin kendaraan yang lalu-lalang, Reno melangkahkan kakinya menuju sebuah stand minuman dengan papan nama hijau mencolok bertuliskan "Teh Kota". Langkahnya mantap, seolah sudah memiliki koordinat pasti ke mana dahaganya harus bermuara.
"Satu rasa Tiramisu ya, Mbak. Seperti biasa, esnya agak banyak," ujar Reno sambil menyandarkan sikunya di meja konter kayu yang sedikit lembap.
Si penjaga gerai, Maya, tersenyum simpul sambil tangannya cekatan mengambil bubuk perasa. "Lagi-lagi Tiramisu, Mas Reno? Ini sudah hari kelima berturut-turut lho. Apa nggak bosan? Ada varian baru, Red Velvet atau Thai Tea yang lagi best seller."
Reno terkekeh pelan, matanya tertuju pada mesin cup sealer yang siap mempres tutup plastik minumannya. "Nggak, Mbak. Tetap Tiramisu. Lidah saya sudah terkunci di frekuensi ini."
"Kenapa sih? Karena manisnya pas?" tanya Maya penasaran sembari menuangkan cairan cokelat muda itu ke dalam gelas plastik besar.
"Bukan cuma soal rasa, Mbak," Reno menjeda kalimatnya, matanya berbinar saat melihat warna minuman yang mulai menyatu dengan susu. "Lihat warna cokelat krem ini? Ini persis seperti livery Gresini Racing Team tahun 2025. Terutama motornya Alex Marquez."
Maya mengerutkan kening, tangannya baru saja menekan tuas mesin pres. Bunyi hiss singkat terdengar, menandakan plastik pelindung sudah melekat sempurna. "Hah? Hubungannya minuman dua belas ribu ini sama balapan MotoGP apa, Mas?"
"Mbak nggak paham," Reno menerima gelas plastiknya yang masih berembun dingin. Ia memutar-mutar gelas itu, mengagumi gradasi warnanya. "Alex Marquez tahun ini pakai GP24, motor lama, tapi dia bisa bikin para pengguna GP25 keringat dingin di lintasan. Warna Tiramisu ini... ini adalah warna keberanian tim satelit yang kompetitif. Setiap saya sedot minuman ini, rasanya seperti melihat Alex lagi overtake di tikungan tajam. Underdog, tapi mematikan."
"Duh, Mas Reno ini kalau sudah bahas MotoGP memang agak lain," tawa Maya pecah sambil menyerahkan uang kembalian. "Jadi, Tiramisu ini bensinnya Mas Reno buat nonton race nanti malam?"
"Tepat sekali. Ini bukan sekadar minuman pres plastik, Mbak. Ini soul dari GP24 yang saya pegang," pungkas Reno dengan nada bangga, sebelum akhirnya menusuk tutup plastik itu dengan sedotan hingga mengeluarkan bunyi plop yang khas.
Keasyikan Reno menikmati sensasi creamy tiramisunya terganggu ketika sebuah suara decit rem motor sport memecah kebisingan jalanan. Seorang pria dengan jaket kulit hitam berlogo pabrikan besar berhenti tepat di samping stand Teh Kota. Itu adalah Dimas, kawan lama Reno yang dikenal sebagai pemuja setia motor factory terbaru.
"Masih saja menenggak cairan cokelat itu, Ren? Aku kira seleramu sudah naik kelas seperti motor-motor GP25 yang baru rilis," sindir Dimas sambil membuka helm full-face-nya. Matanya melirik sinis ke arah gelas plastik di tangan Reno.
Reno hanya tersenyum tipis, menyedot sisa jelly tiramisunya dengan santai. "Warna boleh klasik, Dim. Tapi sensasinya... kamu nggak akan paham sebelum coba masuk ke apex dengan mentalitas underdog."
"Halah! Mentalitas atau sekadar pelit?" Dimas tertawa, suaranya bersaing dengan deru knalpot. "Lihat kenyataannya, Ren. Musim 2025 ini zamannya teknologi mutakhir. GP25 itu revolusi. Perangkat holeshot-nya lebih presisi, aerodynamics sayap depannya lebih radikal. Alex Marquez dengan GP24-nya itu cuma tinggal tunggu waktu buat tertinggal satu detik di setiap lap."
Ketegangan mulai merambat di antara meja kayu Teh Kota. Maya, sang penjaga gerai, hanya bisa terdiam sambil pura-pura mengelap mesin cup sealer yang masih panas.
"Kamu terlalu mendewakan spek di atas kertas, Dim," balas Reno, nada suaranya merendah namun tajam. "Balapan itu bukan cuma soal siapa yang punya swingarm terbaru atau mapping mesin paling mutakhir. Ini soal bagaimana Alex Marquez menjinakkan GP24 yang sudah matang. Motor itu punya data dari ribuan kilometer musim lalu. Alex tahu persis di mana titik limitnya."
"Tapi GP24 itu barang sisa, Reno! Itu motor second-hand!" potong Dimas kasar. "Bagaimana mungkin kamu begitu yakin motor satelit yang warnanya mirip minuman dua belas ribuanmu ini bisa menyaingi motor pabrikan yang harganya jutaan Euro? Logikanya di mana?"
Reno mengangkat gelas tiramisunya, menunjuk lapisan busa putih yang mulai bercampur dengan warna cokelat di dasar gelas. "Logikanya ada di sini. Seperti tiramisu ini, semuanya adalah soal komposisi yang pas. GP24 mungkin 'motor lama', tapi di tangan Alex, dia menjadi ancaman nyata. Kamu lihat hasil free practice tadi pagi? Alex mencetak purple sector di tikungan terakhir, mengasapi dua motor pabrikan sekaligus. Di tikungan itulah, aroma tiramisu ini terasa paling kuat."
"Itu cuma keberuntungan, fluke!" bantah Dimas, wajahnya memerah. "Nanti malam di race utama, saat ban mulai spinning dan suhu aspal naik, GP25 akan meninggalkan si tiramisu itu di belakang."
"Kita lihat saja," tantang Reno tenang. "Saat lampu merah padam, bukan teknologi yang bicara paling keras, tapi nyali di tikungan. Alex punya itu. Dia membuktikan bahwa untuk menjadi kompetitif, kamu tidak selalu butuh barang paling mahal. Kamu cuma butuh pemahaman mendalam tentang apa yang kamu tunggangi."
Suasana mendadak hening. Maya yang sejak tadi menyimak akhirnya memberanikan diri memecah kekakuan. "Jadi... Mas Dimas mau pesan apa? Tiramisu juga supaya bisa debatnya makin seru?"
Dimas mendengus, menghidupkan kembali mesin motornya yang menderu garang. "Enggak, Mbak. Kasih saya kopi hitam paling pahit. Saya butuh sesuatu yang nyata, bukan khayalan underdog seperti teman saya ini."
Reno hanya terkekeh, melihat Dimas yang masih terjebak dalam obsesi kemewahan teknologi. Baginya, setiap sedotan tiramisu ini adalah simulasi keberanian Alex Marquez—sebuah perlawanan manis dari motor lawas yang menolak untuk tunduk pada dominasi masa depan.
Layar televisi besar di pojok kafe dekat stand Teh Kota menyiarkan live race MotoGP dengan dramatis. Suasana mendadak riuh. Reno mencengkeram gelas plastik Tiramisunya yang sudah kosong, namun embun dinginnya masih terasa di telapak tangan. Di sampingnya, Dimas berdiri kaku, matanya tak berkedip menatap layar yang menampilkan posisi top five.
"Lihat itu, Dim! Lihat sektor tiga!" teriak Reno, suaranya parau tertelan deru mesin dari pengeras suara.
Di layar, Alex Marquez dengan GP24 berwarna krem kecokelatan yang khas—warna yang sejak tadi dipuja Reno—sedang menempel ketat di ban belakang pengguna GP25 pabrikan. Mereka memasuki rangkaian tikungan teknis yang mematikan.
"Itu mustahil! Aero-kit GP25 seharusnya memberikan downforce lebih besar di sana!" Dimas memprotes, urat lehernya menegang. "Alex seharusnya mengalami understeer saat mencoba menutup celah itu!"
"Dia tidak butuh aero tambahan jika dia punya late braking seberani itu!" balas Reno sengit. "Itu yang aku bilang soal aroma Tiramisu di tikungan. Manis di awal, tapi menendang di akhir!"
Klimaks pecah saat balapan menyisakan dua lap terakhir. Alex Marquez melakukan manuver block pass yang sangat agresif namun bersih di sebuah tikungan hairpin. Motor GP24-nya miring hingga derajat yang ekstrem, menciptakan percikan api dari knee slider yang bergesekan dengan aspal.
"Dia masuk! Inside line!" Reno menggebrak meja kayu, membuat Maya yang sedang melayani pelanggan lain tersentak. "Lihat bagaimana dia menjaga corner speed-nya! GP24 itu menolak kalah dari teknologi tahun depan!"
Dimas ternganga. "Dia benar-benar menyalipnya... Alex menggunakan slipstream dengan sangat sempurna. Tapi, bagaimana bisa motor 'tua' itu tidak goyah saat terkena dirty air dari motor di depannya?"
"Karena Alex sudah menyatu dengan mekanikal GP24," sahut Reno dengan nada yang lebih tenang namun penuh kemenangan. "Dia tidak sibuk menyesuaikan diri dengan mapping elektronik yang masih mentah seperti para penunggang GP25. Dia hanya fokus pada apex."
Di putaran terakhir, Alex Marquez berhasil mempertahankan posisinya, melintasi garis finis tepat di depan motor pabrikan terbaru. Sebuah pembuktian telak bagi tim satelit. Reno mengangkat gelas plastiknya yang sudah tinggal es batu ke arah Dimas, seolah sedang melakukan toast kemenangan di atas podium.
"Masih mau bilang ini sekadar khayalan underdog?" tanya Reno sambil tersenyum lebar.
Dimas menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia menatap kopi hitamnya yang sudah dingin, lalu melirik sisa warna cokelat muda di gelas Reno. "Oke, aku akui. Tiramisumu kali ini punya 'mesin' yang lebih tangguh dari kopiku. GP24 milik Alex... memang punya jiwa yang sulit dibaca data."
Reno terkekeh, ia membuang sedotan plastiknya ke tempat sampah dengan gaya seorang pembalap yang baru saja memenangkan Grand Prix. "Bukan cuma soal data, Dim. Ini soal rasa. Kadang, sesuatu yang sudah matang jauh lebih mematikan daripada sesuatu yang baru namun belum stabil."
Malam semakin larut, namun adrenalin di sudut jalan itu belum juga surut. Dimas akhirnya menyandarkan punggungnya di tiang kanopi stand Teh Kota, sisa-sisa ketegangan masih membekas di wajahnya. Ia menatap layar televisi yang kini menampilkan Alex Marquez sedang melakukan wheelie perayaan di lintasan lurus, sementara warna livery motornya yang krem kecokelatan berkilau di bawah lampu sirkuit—persis warna minuman yang sejak tadi digenggam Reno.
"Aku harus mengakui, Ren," ujar Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Melihat Alex menahan gempuran motor pabrikan di lap terakhir tadi... itu seperti melihat keajaiban mekanis. GP24 miliknya seolah punya handling yang jauh lebih tenang saat memasuki apex."
Reno tersenyum puas, ia menghampiri meja konter dan mengetuk pelan permukaan kayu yang lembap. "Mbak Maya, satu Tiramisu lagi. Kali ini buat teman saya yang baru saja 'tobat' dari pemujaan teknologi berlebihan," candanya sambil melirik Dimas yang hanya bisa mendengus pasrah.
Maya tertawa renyah sembari dengan lincah menyiapkan gelas baru. "Siap, Mas Reno! Satu Tiramisu untuk Mas Dimas, biar lidahnya ikut merasakan sensasi underdog," sahut Maya. Ia kembali melakukan ritualnya: menuang bubuk perasa, mencampurnya dengan krimer, dan terakhir memasukkannya ke bawah mesin cup sealer. Bunyi hiss yang singkat dan mantap itu terdengar seperti bunyi kompresor di pit box MotoGP.
"Ini, Dim. Coba rasakan bensin kemenangan ini," ucap Reno sambil menyodorkan gelas plastik yang tutupnya baru saja dipres sempurna.
Dimas menerima gelas itu, menatap gradasi warna cokelat muda yang lembut tersebut dengan perspektif yang berbeda. Ia menusukkan sedotan, menimbulkan suara plop yang memuaskan, lalu menyesapnya perlahan. Untuk beberapa saat, ia terdiam, membiarkan rasa creamy dan aroma khas kopi-cokelat itu memenuhi indra perasanya.
"Bagaimana? Lebih baik dari kopi pahitmu, kan?" tanya Reno meyakinkan.
"Manis... tapi ada sisa rasa yang kuat," aku Dimas jujur. "Persis seperti manuver Alex di tikungan terakhir tadi. Terlihat halus di luar, tapi punya tenaga yang mengejutkan di dalam. Mungkin kamu benar, Ren. Memiliki teknologi terbaru tanpa pemahaman setup yang matang hanyalah kesia-siaan. GP24 adalah paket yang sudah settle."
Reno mengangguk setuju, ia membuang gelas kosongnya ke tempat sampah dengan akurasi layaknya seorang mekanik yang meletakkan kunci torsi. "Di MotoGP 2025, semua orang mengejar kecepatan mentah. Tapi Alex dan Gresini mengajarkan kita tentang stabilitas dan rasa percaya diri pada apa yang kita miliki. Itulah alasan kenapa aku tidak pernah bosan dengan Tiramisu ini. Konsistensi adalah kunci."
Maya yang sedang merapikan stand sebelum tutup ikut menimpali, "Jadi, besok Mas Reno masih bakal beli Tiramisu lagi?"
"Tentu saja, Mbak. Selama Alex Marquez masih bisa bikin pengguna GP25 berkeringat dingin, Tiramisu ini akan tetap jadi menu wajib saya setiap sore," jawab Reno mantap.
Di bawah temaram lampu jalanan Gresini yang seolah berubah menjadi warna victory, kedua kawan itu berdiri berdampingan. Dimas yang kini memegang gelas Tiramisunya tampak lebih santai, tak lagi mengagung-agungkan mesin factory yang kaku. Bagi mereka, kemenangan malam ini bukan sekadar soal siapa yang melintasi garis finis lebih dulu, melainkan tentang menghargai proses dan keberanian untuk tampil kompetitif meski dengan modal yang dianggap 'lawas'. Aroma tiramisu yang manis itu kini tak lagi sekadar rasa minuman, melainkan aroma kemenangan yang tertinggal di setiap tikungan nasib.
Angin malam berembus lebih sejuk, membawa aroma aspal basah setelah hujan rintik sempat turun sejenak, menyisakan kilauan di jalanan yang menyerupai sirkuit pasca balapan. Di depan gerai Teh Kota yang mulai bersiap tutup, Reno dan Dimas masih terpaku pada sisa-sisa euforia yang ditinggalkan Alex Marquez di layar kaca.
Reno memandangi gelas plastiknya yang kini hanya menyisakan butiran es batu yang mulai mengecil. Ia menyentuh pinggiran tutup plastik yang masih merekat kuat hasil tekanan mesin cup sealer Maya tadi. "Kamu tahu, Dim? Hidup itu kadang seperti mesin pres itu," ujar Reno memecah keheningan. "Terlihat sederhana, tapi kalau suhunya tidak pas atau tekanannya kurang mantap, tutupnya akan bocor saat kamu terguncang di lintasan."
Dimas menyesap sisa terakhir tiramisunya hingga menimbulkan suara sedotan yang kosong. Ia tertawa kecil, kali ini tanpa nada sinis. "Filosofi minuman dua belas ribu yang cukup dalam, Ren. Tapi aku mengerti maksudmu. Tadi aku melihat GP25 milik tim pabrikan terlalu sibuk dengan ride-height device yang malah membuat motor mereka unstable di chicane terakhir. Sementara Alex? Dia seperti sudah menyatu dengan frame GP24 miliknya."
Maya, yang sedang mengelap meja konter untuk terakhir kalinya, ikut menimpali sambil tersenyum. "Jadi, Mas Dimas, sudah siap jadi pelanggan tetap rasa Tiramisu juga?"
"Mungkin," jawab Dimas sambil mengangkat gelasnya. "Setidaknya sampai aku menemukan motor pabrikan yang bisa se-konsisten rasa minuman ini. Ternyata benar kata Reno, underdog itu mematikan karena mereka tidak punya beban untuk kalah, tapi punya segudang data untuk menang."
Reno berdiri, merapikan jaketnya, lalu menatap Maya dengan binar mata yang puas. "Besok jam empat sore, Mbak. Koordinat yang sama, menu yang sama. Saya ingin merayakan hasil post-race analysis dengan rasa yang paling kompetitif di kota ini."
"Siap, Mas Reno. Mesin pres saya selalu panas untuk kemenangan Alex Marquez berikutnya!" balas Maya dengan tawa renyah.
Saat mereka mulai melangkah meninggalkan gerai, Reno sempat menoleh ke belakang, melihat papan nama "Teh Kota" yang bersinar di kegelapan. Baginya, stand kecil itu bukan sekadar tempat membeli pelepas dahaga, melainkan pit box tempat ia mengisi bahan bakar mentalnya. Ia membayangkan Alex Marquez di garasi Gresini, sedang tersenyum menatap data telemetri yang melampaui logika mesin terbaru.
"Ren," panggil Dimas saat mereka sampai di parkiran motor. "Besok aku yang traktir. Tapi aku mau coba yang extra jelly. Aku ingin tahu apakah handling lidahku sanggup menahan ledakan rasa tiramisu itu saat masuk ke apex tenggorokan."
Reno terkekeh, memasang helmnya, dan menghidupkan mesin motor. "Nah, begitu dong. Selamat datang di tim satelit, Dim. Di sini kita tidak bicara soal seberapa mahal komponenmu, tapi seberapa berani kamu memutar gas di tikungan tajam."
Kedua motor itu pun melaju, membelah malam yang sunyi. Suara knalpot mereka bersahutan, seolah-olah sedang melakukan victory lap di jalanan kota. Aroma tiramisu yang manis seakan masih tertinggal di udara, berbaur dengan semangat perlawanan Alex Marquez yang menolak tunduk pada dominasi teknologi. Di tikungan jalan menuju rumah, Reno sedikit merebahkan motornya, merasakan sensasi cornering yang sempurna—persis seperti imajinasi yang ia dapatkan dari setiap sedotan minuman favoritnya.
Kemenangan Alex Marquez dengan GP24-nya di tengah gempuran teknologi GP25 bukan sekadar catatan statistik di papan skor MotoGP 2025. Bagi Reno, dan kini bagi Dimas, peristiwa itu adalah manifestasi dari sebuah kebenaran universal yang sering kali terlupakan di tengah obsesi dunia terhadap kemewahan dan kebaruan. Melalui segelas minuman tiramisu yang dipres mesin plastik sederhana, kita diajarkan bahwa nilai sebuah perjuangan tidak ditentukan oleh seberapa mutakhir senjata yang kita genggam, melainkan oleh seberapa dalam kita mengenali potensi diri dan seberapa tangguh mentalitas underdog yang kita miliki.
Sering kali, manusia terjebak dalam perlombaan prestige, menganggap bahwa tanpa perangkat holeshot terbaru atau aerodynamics yang radikal dalam hidup, mereka akan tertinggal di belakang. Padahal, kesuksesan sejati sering kali lahir dari tangan-tangan yang mampu mengoptimalkan apa yang ada, mereka yang berani masuk ke apex kehidupan dengan pemahaman mendalam, bukan sekadar gaya-gayaan. Menjadi kompetitif tidak selalu berarti harus memiliki modal paling mahal; menjadi kompetitif adalah soal konsistensi, soal bagaimana kita tetap settle dan stabil di tengah dirty air atau tekanan lingkungan yang mencoba menjatuhkan kita.
Amanat yang terselip di antara manisnya krimer dan aroma kopi cokelat itu sangatlah nyata: Jangan pernah meremehkan sesuatu yang dianggap "lawas" atau "sederhana". Sesuatu yang telah matang oleh pengalaman dan ribuan kilometer ujian sering kali memiliki jiwa yang tidak bisa dibeli dengan uang. Hidup ini adalah tentang bagaimana kita melakukan setup terhadap hati dan pikiran kita sendiri. Seperti Alex Marquez yang tetap tenang meski dikepung motor pabrikan, atau seperti Reno yang tetap setia pada rasanya, kita harus bangga dengan identitas dan proses kita sendiri. Karena pada akhirnya, di tikungan nasib yang paling tajam sekalipun, bukan kecanggihan mesin yang menentukan siapa yang melintasi garis finis lebih dulu, melainkan keberanian untuk tetap memutar gas dengan keyakinan penuh pada apa yang kita miliki.
Dunia mungkin memuja masa depan yang serba otomatis, namun sejarah selalu menyisakan tempat terhormat bagi mereka yang mampu memberikan "perlawanan manis" dengan cara yang paling autentik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
