Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Desta Romansyah

Termakan Ucapannya Sendiri

Sastra | 2026-03-12 23:23:35

Oleh Desta Romansyah
Tahun 2017 merupakan tahun kali pertama kami memasuki jenjang pendidikan di perguruan tinggi swasta. Pada tahun itu, kami disibukkan mengumpulkan berkas sebagai prasyarat masuk semester awal. Syahdan, kami di pisahkan dengan kelas yang berbeda. Saya mendapatkan kelas B dan dia masuk kelas A. Walaupun tak berjarak antara A dan B, tapi tersekat dinding pembatas di tengah-tengah antara kelas-kelas kami. Dengan segala antusiasme, kadang keluh kesah antara tugas-tugas awal semester mulai menyerang tetapi kami bak ombak yang menerpa batu. Tugas-tugas mulai terkikis dengan sendirinya.

Semester demi semester telah kami lewati. “Wah tidak terasa sudah ganti semester”, ucap saya dengan pura-pura lapang dada. Pikiran saya kalau sudah ganti semester satu ke semester berikutnya maka level tugas lebih di atas daripada level tugas di semester sebelumnya.

Ketika status kami bukan maba (mahasiswa baru) lagi, kini beralih menjadi kakak kelas. “Iya kakak kelas. Sok-sok an senior padahal kopong”, kataku kepada diriku sendiri. Setelah akuisisi status maba ke kakak kelas, saya belajar seperti biasanya. Menikmati dosen menjelaskan materi di depan kelas dan menyeruput pahitnya tugas yang diberikan kepada saya. Saya selalu mencoba untuk tetap berpikir positif bahwa sepahit-pahitnya tugas yang diberikan dosen kepada saya lebih pahit kalau saya tidak dikasih tugas sama sekali. Artinya saya sebagai mahasiswa tidak dianggap tidak ada.

Semester demi semester. Pertemuan demi pertemuan. Eh akhirnya kami di pertemukan dengan secangkir proposal dan sepiring referensi. Iya. Kami mulai sibuk sebagai kakak kelas yang sudah tua. Ketika semester perkuliahan sudah mendekati batas waktu normalnya, kami di tuntut untuk segera mengajukan judul tugas akhir yang nantinya akan menjadi cikal bakal syarat kelulusan kami. Kira-kira paling minimal mengajukan tiga judul. Eits! Tak hanya mengajukan judul, tapi kami harus mempersiapkan jawaban-jawaban logis untuk setiap pertanyaan-pertanyaan dosen pembimbing seputar judul yang kami ajukan.

Setelah masa pengajuan judul selesai, kami mulai menyusun dan berenang—berselancar di berbagai website jurnal untuk mengumpulkan referensi sebagai bentuk pendukung judul yang telah kami pilih. Pada masa-masa ini, penampilan tidak menjadi prioritas. Asal sopan yang penting bimbingan. Begitupun raut wajah, walaupun jendela mata mulai kehitaman dan kusam kurang tidur, yang penting bimbingan.

Tapi tak di sangka, saya yang begini ternyata teman perempuan saya punya perasaan ke saya. Memang sebelumnya kami berteman dekat, bahkan sudah kaya seperti sahabat. Ternyata eh ternyata “sahabat malah jadi cinta”. Sebelum itu, kami sudah berteman akrab. Mulai mengerjakan tugas akhir bareng hingga saya sendiri menjadi langgangan antar jemput. Kebetulan rumah kami se-arah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak nge-kampus bersama. Selain itu, kami memmpunyai ciri khas sapaan, yaitu “jok”. Bukan jok motor atau jok sepeda. Tapi jok untuk memanggil orang yang sudah akrab. Misalnya ketika saya mau tanya ke dia, “berangkat ke kampus sama siapa jok?”.

Di waktu yang lain sebelumnya saya sempat pernah mendengar bahwa dia mengatakan tidak akan menyukai bahkan mencintai dengan sahabatnya sendiri, tapi ternyata? Tidak demikian. Dia lebih dulu suka sama saya. Biasa namanya wanita, malu-malu dan seolah-olah tidak menampakkan kalau dia yang suka duluan kepada saya, sehingga dia selalu menyangkalnya kalau saya bertanya. Akhrinya dia luluh dan berani jujur. Ucapan yang semula dia katakan bahwa tidak akan memiliki perasaan dengan sahabatnya sendiri kini termakan dengan ucapannya. Laiknya mulutmu harimau mu. Dan—pada akhirnya kami menikah dan di anugerahi anak laki-laki.

Ini menjadi bukti nyata bahwa sekuat apapun ikatan persahabatan, kalau perasaan sayang dan cinta telah hadir maka ia akan menembus dinding-dinding sekat itu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image