Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Silma Az Zahra

Arsitek Nasibnya Sendiri: Marni dalam Entrok

Sastra | 2026-04-07 03:01:31
sumber: pinterest

Saya membaca banyak ulasan perihal pengalaman membaca novel Entrok. Ya, Entrok, judulnya. Saya temukan beberapa hal yang bagi saya menjadi sebuah ganjalan menuju perjalanan lancar dalam pengalaman membaca saya dengan Marni dan Rahayu dalam Entrok. Bukan sekadar potret sejarah kelam Orde Baru, lebih kelam dari itu, novel ini adalah tragedi tentang cinta yang tak sampai. Kisah tentang Marni yang berlumur lumpur dan dianggap sesat demi kebersihan anaknya dalam hidup dengan sekolah tinggi yang diusahakan. Ironisnya, sekolah itulah yang kemudian memberi Rahayu senjata untuk merendahkan ibunya. Tentu, narasi yang sungguh pahit tentang idealisme yang dipeluk masing-masing.

Namun, sebetulnya saya menyadari keinginan Marni memiliki entrok bukan sekedar simbol martabat perempuan luhur pada masa itu, tapi awal dari obsesi materi yang buta. Marni begitu fokus menumpuk kekayaan sampai dia lupa memupuk koneksi manusiawi dengan Rahayu, sehingga ketika dirinya mendapatkan banyak makanan perihal agama yang ‘benar’, Rahayu mulai bersikap untuk menilai segala kegiatan religius dan sangkut pautan iman Marni.

Tentu dalam posisinya sebagai Ibu, sungguh menyayat hati melihat tingkah laku anaknya yang jelas dia pupuk sendiri dengan kerentanan komunikasi batin antara dirinya dengan Rahayu. Inilah yang saya maksud dengan ganjalan. Ganjalan-ganjalan yang muncul ketika saya menyadari bahwa beberapa narasi novel terlalu sibuk memuliakan ketangguhan Marni, sampai-sampai kita abai pada satu fakta pahit bahwa kekuatan Marni dibangun di atas penderitaan orang-orang yang ia pinjami uang dan pengabaiannya terhadap perkembangan batin anaknya. Penulis seolah memaksa kita untuk 'sujud' pada perjuangan Marni, padahal di baliknya ada kebebalan yang merusak.Lebih lanjut, butuh waktu lagi.

Sungguh, tidak ada salahnya penulis menyimpan Marni sebagai sosok perempuan berambisi, penganut kepercayaan, dan sosok yang giat dan sesekali sungguh menyimpan Rahayu sebagai anak yang benar-benar dapat dicap durhaka sekali baca padahal secara terang hal itu tumbuh atas guyuran pupuk dari Marni sendiri.

Penulis terlalu "memuliakan" perjuangan ekonomi Marni sampai lupa bahwa Marni sebenarnya sedang merusak tatanan sosial di desa dan di kelaurganya. Dia juga membantu orang dengan bunga yang mencekik. Apakah itu kekuatan? Atau itu sebenarnya eksploitasi yang dibungkus kasih sayang ibu?

Oleh: Silma Az Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Untirta Semester 4

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image