Mengejar Laba Dunia, Melupakan Keberkahan Syariah?
Ekonomi Syariah | 2026-04-27 10:05:54Oleh : Muh. Radiansyah
Mahasiswa Jurusan Akuntansi FEBI UIN Alauddin
Dunia akuntansi syariah saat ini tengah menghadapi tantangan besar mengenai orientasi dasar dalam setiap praktik pelaporan keuangan. Kita sering kali terjebak dalam perlombaan angka yang hanya mengejar laba duniawi secara berlebihan serta abai terhadap substansi keberkahan sebagai nyawa utama. Fenomena ini menciptakan jurang pemisah antara label syariah yang digunakan dengan realitas perilaku ekonomi yang masih mencerminkan sifat egoistik dan kapitalistik. Penggunaan istilah islam jangan sampai hanya berakhir sebagai simbol administratif semata tanpa adanya perubahan perilaku moral yang nyata dari para pelakunya. Masyarakat perlu menyadari bahwa akuntansi syariah bukan sekadar alat pencatat keuntungan materi melainkan sebuah jembatan menuju rida Allah SWT melalui distribusi kekayaan yang adil.
Iwan Triyuwono dalam berbagai pemikiran filosofisnya selalu mengingatkan bahwa akuntansi harus memiliki ruh kemanusiaan yang berketuhanan. Laba dalam perspektif Islam tidak boleh hanya diartikan sebagai selisih positif antara pendapatan dan beban secara kuantitatif. Keberkahan atau barakah merupakan elemen kualitatif yang memastikan setiap rupiah berasal dari proses yang bersih dan memberikan kemanfaatan luas bagi sesama manusia. Banyak lembaga saat ini terlalu sibuk mengoptimalkan target finansial jangka pendek sehingga sering kali mengabaikan hak-hak pihak lain yang lebih lemah dalam rantai ekonomi. Realitas ini menunjukkan bahwa integritas spiritual mulai tergerus oleh ambisi materialitas yang tidak terkendali dalam sistem ekonomi kita yang kian kompetitif.
Karakteristik akuntansi syariah seharusnya memanusiakan setiap individu yang terlibat dalam sebuah akad transaksi melalui prinsip keadilan yang nyata. Masyarakat pedesaan seperti para petani sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari hilangnya nilai keberkahan akibat sistem bagi hasil yang tidak seimbang. Pemilik modal yang hanya mengejar laba duniawi cenderung memberikan tekanan kepada penggarap lahan demi keuntungan maksimal tanpa mempertimbangkan aspek beban hidup sang mitra. Kondisi ini menciptakan ketimpangan sosial yang sangat kontras dengan semangat Ta’awun atau tolong-menolong sebagai pilar utama ekonomi Islam. Keberkahan tidak akan pernah hadir dalam harta yang diperoleh melalui jalan penzaliman atau ketidakterbukaan mengenai risiko yang dihadapi bersama di lapangan.
Prinsip Al-Adl mewajibkan setiap pelaku ekonomi untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara proporsional sesuai ketentuan syariat yang berlaku. Akuntabilitas syariah harus mampu mentransformasi diri dari sekadar tuntutan profesi menjadi sebuah gaya hidup yang dilandasi oleh rasa takut kepada Allah SWT. Laporan keuangan yang terlihat sangat menguntungkan di atas kertas bisa saja hampa makna jika proses pencapaiannya melanggar batas-batas etika moral universal. Kita membutuhkan sistem akuntansi yang berani menyuarakan kejujuran di tengah arus godaan materi yang sering kali menyilaukan logika sehat manusia. Keberhasilan ekonomi syariah harus diukur dari seberapa besar dampak maslahat bagi umat bukan hanya dari deretan angka dalam saldo rekening bank.
Integritas moral merupakan kunci utama dalam mewujudkan sistem akuntansi yang bersih dan transparan secara batiniah bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Laporan keuangan secanggih apa pun akan kehilangan seluruh ruhnya jika tidak didasari oleh sifat amanah dari pihak yang mengelolanya secara jujur dan terbuka. Pengalaman kearifan lokal dalam menjaga kepercayaan tanpa bukti fisik yang rumit seharusnya menjadi inspirasi bagi pengembangan standar akuntansi formal di masa depan. Adopsi nilai ketulusan masyarakat ke dalam sistem formal akan mewujudkan tata kelola keuangan yang tidak hanya akuntabel secara angka tetapi juga berkah secara nilai. Keadilan ekonomi hanya akan benar-benar tercapai ketika setiap individu menyadari bahwa harta hanyalah titipan sementara yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Masa depan ekonomi umat sangat bergantung pada kesediaan kita untuk kembali memprioritaskan keberkahan di atas segalanya dalam setiap aktivitas produktif harian. Akuntansi syariah harus mampu menjadi instrumen perubahan sosial yang mengedepankan kesejahteraan kolektif daripada keuntungan segelintir kelompok kepentingan. Keadilan fiskal dan ekonomi nasional akan tercapai jika setiap individu merasa bahwa kejujuran adalah bagian utuh dari ketaatan kepada Sang Pencipta dalam setiap transaksi. Mari kita bangun kembali fondasi akuntansi yang tidak hanya pandai menghitung angka laba duniawi tetapi juga pandai menjaga amanah untuk kehidupan di akhirat. Keberkahan adalah janji Allah bagi mereka yang berbisnis dengan hati nurani dan kejujuran yang tidak tergoyahkan oleh gemerlapnya dunia yang fana.
Kontak Penulis: muhradiansyah74@gmail.com
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
