Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image erni febriyani

Residu Baja

Sastra | 2026-04-10 19:12:25

Residu BajaOleh: Erni Febriyani
Ada alasan mengapa aku membiarkan tangan ini tetap hitam. Aspal dan oli yang mengerak di sela kuku bukan hanya tentang malas mencuci tangan, tapi tentang kamuflase. Kalau kau melihat tanganku yang kasar seperti amplas ini, kau tak akan pernah menyangka bahwa lima lalu, tangan yang sama pernah menggenggam selembar kertas dan logam berkilau —dua benda yang dulu sempat kupercaya bisa mengangkat derajat kedua orang tuaku.

Wajahku di cermin pecah ini tampak asing. Kulit yang menghitam—menyerupai masker komedo permanen, adalah topeng terbaik yang pernah kupakai untuk bersembunyi dari dunia. Di sini, di balik deru mesin, orang-orang hanya mengenalku sebagai “Har”—buruh dari kampung yang selalu tertawa paling keras, tanpa mereka ketahui isi hidupku lebih jauh. Dan memang seharusnya tak perlu tahu.

Aku berdiri di atas scaffolding lantai sepuluh, menatap lampu kota yang awalnya ingin kutaklukkan dengan selembar kertas dan logam berkarat itu. Sedangkan sekarang? Aku hanya akrab dengan panasnya besi, kotornya oli, dan kasarnya sisa semen yang mengeras di sela-sela kuku, atau aspal cair yang baunya mencekik paru-paru. Aku menuruni anak tangga scaffolding satu persatu. Bunyi sepatu safety-ku yang berat beradu dengan besi terdengar seirama dengan detak jantungku yang mulai melambat. Di bawah, deru mesin molen masih setia menemani malam.

“Har! Belum balik?” Teguran itu datang dari Bang Dika, mandor proyek yang perutnya bulat seperti bakso—selalu sukses membuat perutku terasa keroncongan tiap kali melihatnya, tak lupa sebatang rokok yang selalu setia terselip di telinga kirinya.

Aku menyengir lebar, menampilkan wajah paling ramah yang bisa kubentuk dari sisa tenaga hari ini. "Belum, Bang! Lagi betah liatin lampu kota, siapa tahu ada bidadari nyangkut di crane," sahutku sambil tertawa renyah.

Bang Dika terbahak, menepuk bahuku keras-keras sampai debu semen berterbangan dari rompi kerjaku. "Bidadari matamu! Yang ada kuntilanak naksir sama bau badanmu itu. Sudah, balik sana! Jangan rajin-rajin, nanti kamu cepat kaya, aku jadi nggak punya saingan di proyek ini."

Aku ikut tertawa, suara tawaku paling keras di antara deru mesin molen. Tapi begitu Bang Dika berbalik dan langkahnya menjauh, tawa itu hilang secepat uap aspal. Mataku kembali dingin. Tertawa itu memang mudah. Yang sulit adalah meyakinkan diri sendiri bahwa aku benar-benar bahagia menjadi 'Har' yang ini.

Aku menatap telapak tanganku yang dibalut sarung tangan kulit yang sudah bolong di bagian jempol. Di bawah sana, ada bekas luka bakar kecil—oleh-oleh dari percikan api las tadi siang yang menembus baju kerjaku. Perihnya tak seberapa, jauh lebih perih saat aku menyadari bahwa tangan yang dulu lihai menari di atas kertas ujian nasional ini, sekarang harus terbiasa memilin kawat bendrat sampai jari-jariku kaku.

Aku adalah seorang Steel Fixer. Tugasku adalah memastikan tulang-tulang besi gedung ini terikat kuat sebelum beton cair menenggelamkan mereka selamanya. Sama seperti hidupku; aku sedang membangun kerangka masa depan untuk adikku, sambil membiarkan mimpiku sendiri tenggelam dalam beton takdir yang dingin. Aku merogoh tas ranselku yang dekil. Di selipan paling dalam, tersembunyi sebuah foto kecil Ibu dan adikku. Itulah bahan bakar yang membuatku tetap tegak di atas scaffolding, meski sebenarnya jiwaku sudah lama ambruk.

Laki-laki sepertiku tak punya ruang untuk mengeluh. Apalagi untuk jatuh cinta—lagi. Setelah harga diriku dilumat habis oleh perempuan yang menganggap laki-laki tanpa uang hanyalah sampah, aku bersumpah, biarlah tanganku berkarat, asal harga diri keluargaku tetap mengkilap. Biarlah orang berkata aku lajang tua, atau lelaki yang tak laku. Atau mungkin mereka yang berkata aku tak menyukai perempuan. Biarlah kita berada dalam kesalahpahaman yang tak akan ada habisnya. Selagi itu tak merugikanku, aku tim bodo amat. Prinsip!

Aku memacu motor tua ini—satu-satunya warisan dari Ayah yang tersisa selain tanggung jawab berat untuk menjaga Ibu dan Maya. Membelah angin malam, menyusuri jalanan kota yang lampunya tumpah ruah di atas aspal basah. Suasana cukup riuh, tipikal malam Minggu yang penuh pamer kasih sayang. Banyak lelaki beruntung melintas dengan bidadari di boncengan mereka, tampak kontras denganku yang pulang dengan aroma asap las dan sisa keringat yang mengering di balik rompi. Rasanya seperti menonton film romantis dari balik kaca yang buram. Aku ada di sana, tapi aku bukan bagian dari mereka.

Untungnya, hari ini Bang Dika tidak memintaku lembur borongan. Aku masih punya sisa waktu untuk berbincang dengan Ibu dan Adik sebelum tengah malam menyergap. Harusnya, mereka masih terjaga, menunggu kepulanganku seperti malam-malam biasanya.

Aku menepi sejenak di gerobak kayu yang uapnya mengepul wangi.
"Mie ayamnya pakai bakso kan, Mas?" Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya mengacungkan kedua jempol pada penjual bakso langgananku itu—seorang lelaki tuli yang selalu tahu porsiku tanpa perlu banyak bicara. Kami berbagi sunyi yang sama. Di dunia yang terlalu bising dengan tuntutan dan drama ini, diam adalah kemewahan yang paling kupahami. Sambil menunggu pesanan, aku menatap pantulan diriku di spion motor yang retak. Wajahku yang legam tertutup residu aspal seolah berteriak: Laki-laki sepertimu tidak punya hak untuk malam Minggu. Aku tersenyum tipis.
Biarlah. Malam Minggu ini milik mereka yang punya uang dan cinta. Malamku? Malamku milik kepul asap mie ayam untuk Ibu dan tumpukan buku pelajaran Adik yang harus kubayar lunas harganya.

Dua bungkus mie ayam yang masih mengepul itu kugantung di stang motor. Baunya yang gurih sesaat menutupi aroma solar yang menempel di jaketku. Aku memacu motor pelan, sengaja mengambil jalan pintas yang gelap agar tak perlu berpapasan dengan lebih banyak lampu merah yang memamerkan kemesraan orang lain.
Begitu sampai di depan pagar, aku menarik napas panjang. Aku mengusap wajahku sekali lagi dengan kain kumal, mencoba menghapus sebanyak mungkin residu proyek yang bisa kubersihkan tanpa sabun. Aku tidak ingin Ibu melihat topeng hitam ini terlalu tebal malam ini.

"Assalamualaikum," ucapku pelan sambil mendorong pintu kayu yang berderit.
"Waalaikumsalam. Har? Baru sampai, Nak?" Ibu muncul dari balik tirai kamar, wajahnya yang teduh tampak sedikit lelah, tapi matanya berbinar saat melihatku.

"Iya, Bu. Tadi Bang Dika nggak minta lembur, jadi aku mampir beli mie ayam langganan," kataku sambil mengangkat bungkusan plastik itu, memamerkan senyum paling 'ceria' yang bisa kupasang. Senyum yang sudah kulatih ribuan kali di depan cermin pabrik.

"Hore! Kak Har bawa mie ayam!" Suara cempreng itu datang dari kamarnya. Adik perempuanku, Maya, keluar dengan buku tulis di tangannya. Dia kelas tiga SMA, tahun terakhirnya sebelum dia harus menghadapi tembok besar yang dulu menghancurkanku.

Kami duduk di lantai beralaskan tikar pandan yang sudah mulai lepas anyamannya. Di sana, di bawah lampu bohlam lima watt yang mulai redup, aku melihat mereka makan dengan lahap.

"Kak, alhamdulillah aku masuk eligible urutan tiga. Ujian sekolahku juga sudah selesai, tinggal tunggu surat kelulusan, dan wisuda. Tapi, Kak masalah bayaran kemarin belum lunas. Nanti aku nggak bisa ambil surat kelulusan.” Maya menghentikan kunyahannya, menatapku dengan ragu. Kedua jarinya saling memilin satu sama lain. “T-tapi kalau Kakak belum ada uang, nggak apa-apa. Aku minta tambahan waktu ke walikelas.”

Jantungku seperti dihantam palu godam. Perihnya melampaui luka bakar di lenganku. Aku menelan ludah, menatap telapak tanganku yang kasar dan menghitam di bawah sorotan lampu—tangan yang sama yang dulu memegang piagam siswa eligible.

"Maaf, May. Kakak lupa. Nanti Kakak bayar lunas langsung, ya," sahutku cepat, suaraku tetap stabil, tetap 'si kakak yang bisa diandalkan'. "Kakak punya tabungan borongan dari proyek lantai sepuluh kemarin. Cukup, kok. Kamu fokus belajar saja, biar nanti piala dan kertas di kamarmu itu nggak cuma jadi hiasan debu. Siapa tahu impianmu menjadi dokter bisa terwujud."

Ibu menatapku dalam, ada sesuatu yang tersirat di matanya—mungkin rasa syukur, atau mungkin dia tahu kalau aku sedang berbohong soal 'tabungan' itu. Padahal, uang itu adalah jatah makanku seminggu ke depan yang harus kupangkas habis.

"Terima kasih ya, Har. Maaf Ibu terus-terusan jadi beban buat kamu," bisik Ibu pelan.
Aku tertawa, tawa yang paling keras malam ini. "Beban apa sih, Bu? Har senang bisa kerja. Daripada di rumah saja jadi pengangguran pintar tapi nggak bisa beli apa-apa, mending jadi kuli tapi dapur kita tetap ngebul, kan?"

Aku kembali menyuap mie ayamku yang sudah mendingin. Rasanya hambar di lidahku. Karena setiap kali aku mengunyah, aku teringat perempuan itu—perempuan yang dulu menghina tangan ini karena tidak bisa membelikannya kemewahan. Sekarang, tangan yang dia sebut sampah ini sedang membangun masa depan adikkku. Dan aku bersumpah, setetes aspal pun tak boleh menyentuh hidup Maya. Biar hitamnya di aku saja.

Malam itu ditutup dengan senyuman Maya, tapi bagiku, itu adalah lonceng dimulainya ronde baru. Begitu pintu kamar kukunci, tawa ceria yang tadi kupasang langsung rontok ke lantai. Aku duduk di tepi kasur yang pernya sudah menusuk punggung. Tanganku yang gemetar meraih tas kerja dekil di sudut ruangan. Aku merogoh lapisan terdalam, mengeluarkan sebuah kotak beludru kusam yang sudah kehilangan warnanya.
Di dalamnya, sebuah medali perak olimpiade matematika menatapku balik dengan sinis. Logam itu dulu adalah harga diriku, bukti kalau otakku pernah diakui negara. Sekarang? Dia hanya rongsokan yang diam-diam kusimpan sebagai pengingat: kecerdasan tanpa uang tidak bisa menebus obat Ibu atau masa depan Maya.
"Kak? Maya boleh pinjam penghapus?"Suara ketukan pintu membuatku tersentak. Dengan gerakan kilat, aku menyembunyikan kotak itu di bawah tumpukan baju kerja yang bau oli. Aku membuka pintu dengan wajah yang kembali tenang.
"Ini, pakai saja. Jangan tidur terlalu malam, May," kataku datar. Maya menatapku sekilas, matanya beralih ke noda hitam di lenganku yang belum bersih. Dia diam, tapi aku tahu dia merekam semuanya dalam ingatan.
*Tiga Bulan Kemudian*
Alur hidupku berputar cepat antara debu dan besi. Deadline proyek lantai sepuluh makin gila. Bang Dika makin sering berteriak, dan tubuhku makin mirip mesin yang dipaksa lembur tanpa pelumas.
Siang itu, matahari di atas gedung seperti ingin melelehkan helm safety-ku. Aku sedang mengelas sambungan girder utama ketika mataku menangkap sesuatu yang janggal pada cetak biru yang tergeletak di meja mandor. Sebagai mantan siswa eligible urutan kelima, mataku otomatis menghitung beban.
"Bang Dika! Sambungan di blok C ini salah hitung. Kalau dipaksa cor sore ini, strukturnya nggak bakal kuat nahan beban hidup!" teriakku di tengah bising gerinda.
Bang Dika menoleh, wajahnya merah padam karena tekanan atasan. "Har! Kamu itu steel fixer, tugasmu cuma pasang besi dan las! Jangan sok jadi insinyur. Kerjakan saja apa yang diperintahkan atau bonusmu kupotong!"
Aku terdiam. Harga diriku bergejolak hebat, beradu dengan logika teknis yang masih menyala di kepalaku. Aku tahu persis, sambungan blok C ini adalah titik buta yang mematikan; bangunan ini bisa rubuh kapan saja. Namun, aku juga tahu satu kenyataan yang lebih menakutkan: jika aku membantah mandor sekarang, aku akan dipecat, dan Maya tidak akan bisa membayar UKT semester pertamanya.
Ya, Maya berhasil. Dia diterima di Jurusan Kedokteran salah satu perguruan tinggi negeri—mimpi yang dulu nyaris kurenggut sendiri, kini mekar di tangannya. Aku kembali menunduk, menyembunyikan tatapan mataku di balik topeng las yang gelap. Tanganku mencengkeram stang las dengan getaran yang tak sanggup kukendalikan. Di satu sisi, aku merasa seperti pengkhianat ilmu pengetahuan. Di sisi lain, aku adalah seorang Kakak yang sedang menebus nyawa.
Aku memilih diam. Aku memilih menjadi kuli yang patuh dan dungu, demi lembaran rupiah yang akan mengantar Maya melewati gerbang kampus—gerbang megah yang dulu mengharamkan kehadiranku hanya karena aku tak punya biaya. Biarlah beton ini nanti bicara sendiri, asalkan hari ini, kursi kuliah adikku sudah aman dalam genggaman.
Sore hari, saat aku sedang kotor-kotornya—wajah penuh jelaga hitam dan baju basah oleh keringat—sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang proyek. Seorang perempuan turun, anggun dengan pakaian kantoran yang sangat mahal. Jantungku berhenti berdetak. Itu dia. Perempuan yang dulu membuangku karena aku "hanya sampah tanpa masa depan". Dia berdiri di sana, menatap bangunan yang sedang kubangun dengan tatapan kagum, tanpa menyadari kalau lelaki yang dia hina sedang berdiri di atas scaffolding lantai sepuluh, menatapnya dengan rasa benci yang bercampur rindu yang menyakitkan.
Dia adalah salah satu calon pembeli unit di gedung ini. Aku menarik masker debuku erat-erat. Aku tidak ingin dia mengenaliku dalam keadaan seburuk ini. Tapi di saat yang sama, aku sadar: gedung yang akan dia tempati ini punya cacat struktur yang hanya diketahui oleh "kuli pintar" sepertiku.
"Har! Turun! Bantu angkat material di bawah!" teriak Bang Dika.
Aku harus turun. Aku harus berhadapan dengannya. Antara menyelamatkan harga diriku dengan tetap bersembunyi, atau menunjukkan padanya bahwa sampah ini adalah orang yang memegang nyawanya di dalam gedung ini. Aku turun dari scaffolding dengan langkah berat. Masker debu kututup rapat, menyembunyikan wajah legamku yang penuh jelaga.
Di depan gerbang proyek, perempuan itu—Siska—berdiri dengan anggun, sibuk memotret progres bangunan dengan ponsel mahalnya. Dia tidak melihatku, atau mungkin, dia memang tidak sudi melihat sosok kumal sepertiku.
"Har! Cepat bantu angkat besi itu!" bentak Bang Dika, suaranya parau karena debu.
Aku bergerak maju, tepat saat mata Siska beralih padaku. Dia mengernyit, ada kilat pengenalan yang ragu-ragu di matanya. Aku segera menunduk, mencengkeram besi panas dengan tangan kasarku yang bergetar.Tiba-tiba, suara derit besi yang mengerikan membelah udara.
_KRTAK!_
Prediksiku benar. Sambungan blok C yang salah hitung itu menyerah. Struktur girder raksasa di lantai sepuluh mulai miring, meluncur turun tepat ke arah tempat Siska yang berdiri terpaku karena syok.
"AWAS!" teriakku. Suaraku yang parau memecah bising mesin.
Instingku sebagai steel fixer yang tahu titik lemah bangunan bekerja lebih cepat dari akal sehatku. Aku berlari, bukan untuk menyelamatkan diri, tapi untuk mendorong Siska menjauh dari zona jatuh. Tubuhku menghantamnya keras hingga dia tersungkur ke area aman, namun malang, kakiku tersangkut kawat bendrat yang belum kupotong.
Dalam detik-detik terakhir, aku menatap ke atas. Beton cair yang belum mengeras dan balok besi raksasa itu turun seperti air terjun hitam yang haus nyawa.
Aku jatuh terlentang. Masker debuku terlepas. Di sisa detik itu, mata Siska bertemu mataku. Dia membelalak. Dia mengenaliku. Dia melihat sampah yang dulu dia buang, kini menjadi satu-satunya alasan dia masih bernapas. Aku tidak tersenyum, tapi aku merasa menang. Harga diriku kembali utuh di matanya, justru di saat aku akan hancur.
_BRAAAKKKK!_
*Satu Minggu Kemudian*
Suasana rumah Ibu sunyi, namun tidak gelap. Di meja makan, ada sebuah amplop besar berisi uang asuransi kematian proyek dan santunan yang sangat besar—cukup untuk membiayai kuliah Maya sampai lulus dan membayar sisa pengobatan Ibu selamanya. Di sampingnya, tergeletak medali perak olimpiade matematika yang sudah dibersihkan Maya dari debu.
Setelah pemakaman selesai, Maya duduk di kamar Kakaknya. Dia menemukan sebuah buku catatan teknik yang sampulnya sudah mengelupas karena terkena oli dan semen. Buku itu berisi coretan rumus struktur bangunan—bukti bahwa otak Har tidak pernah benar-benar berhenti berpikir meski tangannya bekerja kasar. Di halaman paling belakang, di bawah coretan perhitungan beban lantai sepuluh, Maya menemukan tulisan tangan Har yang seperti ceker ayam namun tegas. Itu bukan surat untuk mereka, tapi ikrar Har pada dirinya sendiri yang ditulis sebulan lalu saat dia merasa tubuhnya nyaris remuk.
_"Satu lantai lagi, Har. Sedikit lagi UKT Maya lunas. Jangan menyerah. Sloganku harus tuntas: angkat derajat Ibu dan Maya setinggi gedung yang kubangun ini. Setelah itu, barulah aku bisa istirahat dengan tenang. Bagiku, dinginnya beton tidak ada apa-apanya dibanding perihnya hidup tanpa harga diri."_
Maya terisak, lagi dan lagi.
Sedangkan di pemakaman, Siska datang berdiri jauh di belakang. Dia menatap nisan bertuliskan namaku dengan tangan gemetar. Dia hidup, tapi dia akan selalu dihantui oleh kenyataan bahwa nyawanya dibeli oleh laki-laki yang pernah dia sebut sampah.
Har menang. Dia mati sebagai pahlawan, bukan sebagai kuli yang kalah.
TAMAT.

Note: foto diambil dari pinterest!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image