Hidup Seperti...
Senggang | 2026-04-22 16:14:56
HIDUP SEPERTI .
Oleh : Moe Hadir
Sesuatu yang ada disekitar kita bisa jadi memberikan sebuah maka. Ia bisa berupa sebuah gambar atau simbol yang bisa diartikan. Seperti halnya marka atau petunjuk jalan, gambar yang terpajang merupakan tanda atau arah petunjuk jalan, anjuran atau bahkan larangan. Ketika bisa mengerti maksud marka tersebut, kita akan melakukan sesuai dengan arahannya.
Begitupun hidup ini, ia akan memberikan simbol atau gambar agar bisa membacanya. Siapa yang bisa menangkap maksud yang terdapat dalam gambar tersebut, ia akan mengerti maksud perjalanan hidupnya. Sebab tak semua petunjuk hidup ini berupa kata atau kalimat jelas. Kepekaan untuk menangkap pesan tersebut menjadi nilai lebih bagi yang mampu menerjemahkannya. Sebab hidup terkadang seperti-seperti .
Hidup seperti huruf O. Huruf O itu bulat, karena bulat ia jadi bisa berputar. Ini pandangan saya. Begitulah hidup ini, terus berjalan dan berputar. Putaran hidup setiap manusia berbeda-beda. Ada benarnya sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa hidup itu berputar, akan terjadi pergiliran. Ada saatnya ia berada diposisi atas, posisi samping, bahkan posisi bawah.
Mempersiapkan diri untuk menghadapi posisi yang berbeda tersebut sebuah keniscayaan. Ketika bisa mempersiapkan diri dengan baik, apapun posisi yang nanti dijalani tidak menjadi canggung untuk menghadapinya, apalagi menjadi tekanan. Diantara kesiapan itu adalah kesiapan penerimaan jiwa menghadapi perubahan situasi, kesiapan menghadapi kenyataan, kesiapan menghadapi tekanan atau benturan dan kesiapan untuk sebuah kehilangan.
Hidup yang seperti huruf O tersebut akan senantiasa berputar, akan ada pergiliran atau pergantian. Ada kalanya dilapangkan rizkinya, ada kalanya ditahan. Ada waktunya sehat, ada pula akan berjumpa dengan sakit. Ada bagian hidup yang bahagia, ada pula mendapatkan duka. Ada bertemu dengan keberhasilan, ada pula berjumpa dengan kegagalan. Apa yang terjadi tersebut adalah sunatullah, sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt yang Maha Kuasa.
Hidup seperti huruf O itu seperti dalam kata “ opportunity “, kesempatan. Hari kemarin disebut dengan last day. Huruf O nya tidak ada. Kesempatannya sudah berlalu. Yang bisa dilakukan adalah evaluasi, perenungan dan pengambilan pelajaran, akan kesempatan waktu yang ada. Tak bisa dikembalikan, tak ada lorong waktu. Tak ada siaran tunda atau siaran ulang. Kesempatannya hanya sekali.
Hari ini disebut dengan to day. Huruf O nya satu. Inilah kesempatan yang bisa dipergunakan semaksimal mungkin. Sekuat tenaga. Karena kita tidak tahu, apakah usia menyampaikan ke hari berikutnya. Beramal atau bekerja untuk dunia, seolah-olah akan hidup selamanya. Beramal untuk akhirat, seolah-olah akan mati besok. Umur tidak ada yang tahu, kapan batas kuota yang diberikan dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Jika ajal menjemput, tak bisa ditawar. Harganya pas. Pasti.
Untuk menghadapi hari ini kuncinya adalah lakukan yang terbaik agar berbuah ahsanul amalaa, amal yang terbaik. Hasil terbaik, prestasi terbaik, pekerjaan terbaik, karya terbaik. Sebab dunia ini adalah ladang untuk mengumpulkan bekal. Bekal menuju kehidupan yang abadi.
Hari esok disebut dengan tomorrow. Banyak huruf O nya. Dalam bahasa arab, tiga itu baru disebut jamak atau banyak. Hari esok banyak huruf O nya. Banyak kesempatan yang akan diraih. Yang bisa dilakukan adalah merencanakan. Belum bisa melakukan. Sebaik-baik rencana, merencanakan hari akhirat. Dan kehidupan akhirat jauh lebih baik dari pada yang awal atau dunia. Untuk mendapat catatan amal dengan tangan kanan, digolongkan sebagai ashabul yamin.
Hidup seperti huruf I, lurus. Tak berbelok. Selalu dalam garis kebaikan atau istiqomah, tetap berpegang teguh pada nilai ketuhanan. Berani mengatakan ‘tidak’ untuk ketidak baikan. Mengatakan kebenaran walaupun itu pahit. Berani mengatakan tidak tahu, kalau tak empunya jawaban.
Komitmen dalam kebaikan itu seperti menggenggam bara api, begitu Rasulullah Saw memperingatkan. Ia akan senantiasa diuji sejauh mana mampu untuk melaksanakan kebaikan. Akan diuji dengan keburukan yang menggoda dalam hidup, godanya akan begitu terasa, begitu dekat memikat.
Tegak lurus itu tegas dalam hal-hal yang perinsip, baik masalah keagamaan maupun keduniaan. Inilah yang disebut dengan perinsip dalam hidup. Seperti menyakini kebenaran agama yang dianutnya. Islam mengajarkan kepada kita untuk menghormati keyakinan agama orang lain, pada saat yang bersamaan menyakini kebenaran Islam. “ Untuk mu lah agamamu, untuk kulah agamaku “. Inilah yang disebut dengan toleransi.
Hidup seperti huruf S, banyak belokan. banyak godaan. Karena banyak belokan, yang diperlukan yaitu kehati-hatian. Jangan sampai tersungkur, jatuh. Apalagi sampai celaka. Ketika masuk dalam perangkap setan, itulah keterjatuhan. Yaa rabb, kami berlindung dari godaan dan kehadiran syaitan yang terkutuk.
Godaan itu akan senantiasa ada selama kehidupan manusia itu masih ada. Dan diantara godaan itu akan muncul dititik lemah. Ketika titik lemah itu ada pada harta, maka akan digoda dengan harta, apakah mendapatkan dengan jalan yang halal atau yang haram. Dengan cara legal atau ilegal.
Jika titik lemahnya pada kedudukan, ia akan digoda dengan kedudukan, apakah ia menjadi orang yang rendah hati dengan kedudukannya atau menjadi sombong dan angkuh dengan kedudukannya. Jika titik lemahnya pada wanita atau pria, ia akan digoda dengan kehadiran wanita atau pria yang akan menggodanya.
Huruf S itu mengingatkan bahwa dalam hidup itu juga akan mendapati tikungan tajam, sebuah area yang berbahaya yang bisa mengancam keselamatan hidup. Apa yang dilakukan ketika menghadapi tikungan hidup ? Kurangi kecepatan laju, injak rem, lihat kanan kiri. Inysa Allah akan selamat dan mampu melanjutkan perjalanan.
Hidup itu seperti huruf Y, akan bertemu dengan pilihan-pilihan. Dan memang kita diperkenankan untuk memilih oleh Allah Swt, dengan potensi akan yang diberikan. Akan jadi manusia baik, atau manusia buruk. Fujur atau takwa. Beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya. Dan merugilah orang yang mengotori jiwanya. Hidup harus memilih. Dan setiap pilihan hidup, akan diminta pertanggung jawaban. Setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin dimintai tanggung jawabnya.
Sebab hidup adalah pilihan, maka yang di piih hanya satu. Tidak bisa memilih kedua duanya, atau memilih abstain untuk tidak memilih diantara dua pilihan. Seperti orang yang sudah berumah tangga, kemudian dihadapkan dengan godaan orang lain. Pilihannya mencintai orang yang dinikahi, atau menikahi orang yang dicintai. Yang pertama adalah kepastian, yang kedua adalah kemungkinan.
Hidup itu seperti huruf V, victory, kemenangan. Jika hidup dihadapkan dengan godaan-godaan, kemudian lolos dari godaan tersebut, sesungguhnya ia mendapatkan kemenangan karena tidak terjerumus. Kemenangan disematkan pula kepada orang-orang yang senantiasa berjalan dalam kebaikan. Orang yang mendapatkan kemenangan sesungguhnya digolongkan oleh Allah Swt sebagai muflihun, orang-orang yang beruntung. Dimana letak keberuntungan adalah diganjar dengan pahala yang akan berbuah surga.
Kemenangan merupakan kebahagiaan bagi setiap orang. Puas rasanya jika apa yang diperjuangkan berbuah kemenangan atau keberhasilan. Bagi orang beriman kemenangan dimaknai sebagai anugerah dari Allah Swt. Sebab itu perlu disyukuri dan tidak terjebak dengan eforia yang berlebihan. Bahkan Allah Swt menganjurkan untuk beristighfar dan memuji Nya dengan mengucapkan alhamdulillah ‘ala kulli hal.
Hidup seperti ketika menulis huruf M. ketika menulis huruf M ada jeda dalam penulisannya. Begitulah hidup, perlu jeda atau rehat sebentar dari aktifitas untuk memulihkan tenaga. Tidak memaksakan badan untuk terus berkativitas tanpa istirahat, sebab badan punya hak untuk diistirahatkan.
Rasulullah Saw menjadikan shalat bagian dari rehat atau jeda untuk beristirahat dari aktifitas beliau. Ketika waktu shalat tiba, Nabi Saw meminta Bilal bin Rabbah Ra untuk mengumandangkan adzan dengan mengatakan, “ Yaa Bilal, arihna bishshalat, wahai Bilal istirahatkan kami dengan shalat”. Inilah jeda Rasulullah Saw.
Hidup sepeti rambu-rambu. Ada aturan yang melingkupi setiap aktifitas. Aturan dibuat untuk kebaikan bersama. Ada perintah, ada larangan. Tiap perintah ada manfaat yang bisa didapat. Tiap larangan, ada hikmah yang bisa di petik. Jangan merasa terganggu dengan aturan, sebab aturan menjadikan hidup ini menjadi harmonis. Menjadi berirama, menjadi bermakna.
Apa jadinya jika hidup tanpa aturan, tentu akan terjadi disharmoni. Akan saling bertabrakan satu dengan yang lainnya. Akan timbul kekacauan, akan muncul keburukan demi keburukan. Pada akhirnya merugikan semua pihak.
Karena hidup seperti-seperti, maka pilihlah dan jangan sampai salah pilih. Sebab jika salah pilih akan menyesal diujungnya. Pilihlah yang baik, karena yang baik akan menentramkan. Sedangkan pilihan yang buruk akan menyengsarakan. Optimis dan yakinlah, bahwa Allah Swt akan memampukan jika dikerjakan dengan kesungguhan.
“ Beramallah, bekerjalah. Allah, Rasul dan orang-orang mukmin akan menilai hasil kerjamu “
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
