Bersandarlah pada Allah, Jangan pada Amal: Analisis Hikmah
Agama | 2026-06-05 07:49:25
REPUBLIKA.CO.ID. JAKARTA - Penyakit ruhani yang paling halus dan sering tidak disadari oleh seorang hamba adalah merasa aman karena amal ibadah yang telah dilakukannya. Ia rajin shalat, puasa, sedekah, zikir, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya, tetapi secara perlahan hatinya bergantung kepada amal tersebut, bukan kepada Allah yang memberi kemampuan untuk beramal.
Fenomena ini menjadi perhatian utama Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam hikmah pertama kitab Al-Hikam:
مِنْ عَلاَمَةِ الاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ
"Di antara tanda seseorang bersandar kepada amalnya adalah berkurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kesalahan atau tergelincir dalam dosa."
Hikmah ini mengajarkan bahwa seorang mukmin diperintahkan untuk beramal secara maksimal, tetapi dilarang menggantungkan keselamatan dirinya kepada amal tersebut. Ia harus tetap bersandar kepada rahmat, taufik, hidayah, dan karunia Allah.
Hakikat Roja' (Harapan) dalam Islam
Roja' adalah harapan seorang hamba kepada rahmat Allah yang disertai usaha mendekatkan diri kepada-Nya.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah."(QS. Az-Zumar [39]: 53)
Ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun seseorang terjatuh dalam dosa, pintu harapan kepada Allah tidak pernah tertutup. Oleh karena itu, berkurangnya harapan kepada Allah setelah melakukan kesalahan merupakan indikasi bahwa hati lebih percaya kepada amal daripada kepada rahmat Allah.
Allah juga berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
"Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."(QS. Al-A'raf [7]: 156)
Rahmat Allah lebih luas daripada dosa manusia. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh mengukur peluang keselamatannya berdasarkan banyak atau sedikit amalnya, melainkan berdasarkan keluasan rahmat Allah.
Amal Bukan Sebab Utama Masuk Surga
Salah satu hadis yang menjadi landasan utama pembahasan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ
"Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya."
Para sahabat bertanya:
وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
"Termasuk engkau wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab:
وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ
"Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku."(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini tidak berarti amal tidak penting. Amal adalah syarat dan sebab yang diperintahkan syariat. Akan tetapi, amal bukan harga yang dapat membeli surga. Surga adalah karunia Allah, sedangkan amal adalah bukti penghambaan seorang hamba.
Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang tentang Allah, semakin kecil rasa bangganya terhadap amalnya.
Analisis Tauhid: Bahaya Bersandar kepada Amal
Kalimat tauhid:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
bukan hanya bermakna "tidak ada Tuhan selain Allah", tetapi juga berarti tidak ada tempat bergantung, berharap, berlindung, dan memohon pertolongan secara mutlak selain Allah.
Allah berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal jika kamu benar-benar beriman."(QS. Al-Ma'idah [5]: 23)
Seseorang dapat terjatuh ke dalam syirik yang sangat halus ketika, merasa bahwa keselamatan dirinya berasal dari amal yang dikerjakannya.
Dirinya berkata dalam hati: Aku selamat karena shalatku. Aku mulia karena ilmuku. Aku dekat dengan Allah karena wiridku. Aku lebih baik daripada orang lain karena ibadahku.
Padahal semua amal tersebut pada hakikatnya merupakan pemberian Allah.
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
"Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka semuanya berasal dari Allah."(QS. An-Nahl [16]: 53)
Termasuk nikmat terbesar adalah kemampuan untuk beribadah.
Pandangan Ulama Akhlak
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin, menjelaskan bahwa salah satu bentuk ujub adalah merasa besar terhadap amal sendiri dan melupakan karunia Allah yang memungkinkan amal itu terjadi.
Beliau menegaskan bahwa seseorang yang ujub terhadap amalnya akan terhalang dari melihat kelemahan dirinya. Sebaliknya, orang yang mengenal Allah akan melihat bahwa seluruh amalnya tidak sebanding dengan nikmat Allah yang diterimanya.
Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus Salihin, menjelaskan "Orang arif tidak memandang amalnya, tetapi memandang karunia Allah yang menggerakkan amal tersebut."
Menurut beliau, amal yang disertai rasa ujub lebih berbahaya daripada dosa yang melahirkan penyesalan dan taubat.
Imam Abdul Qadir al-Jailani dalam Futuh al-Ghaib, beliau menasihatkan "Lepaskan dirimu dari bergantung kepada makhluk, dari bergantung kepada sebab, bahkan dari bergantung kepada amalmu sendiri, dan bersandarlah hanya kepada Allah."
Nasihat ini menunjukkan bahwa ketergantungan kepada amal termasuk hijab yang menghalangi seseorang dari ma'rifatullah.
Selanjutnya, Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi beliau menjelaskan bahwa hakikat tauhid adalah tidak melihat selain Allah sebagai sumber manfaat dan mudarat. Termasuk di dalamnya adalah tidak memandang amal sebagai sumber keselamatan.
Pandangan ulama fuqaha menjelaskan bahwa amal merupakan bentuk ketaatan yang wajib dilakukan. Namun, keterimaan amal sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa."(QS. Al-Ma'idah [5]: 27)
Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti apakah amalnya diterima atau tidak, maka tidak ada alasan untuk bersandar kepada amal tersebut.
Para sahabat yang amalnya jauh lebih besar daripada generasi setelah mereka justru paling takut amalnya ditolak oleh Allah.
Ketika Tergelincir dalam Dosa
Menurut hikmah Ibnu Athaillah, tanda seseorang bersandar kepada amal adalah ketika melakukan kesalahan lalu kehilangan harapan kepada Allah.
Misalnya "Ketika terlambat shalat berjamaah, merasa semua ibadahnya sia-sia. Ketika melakukan maksiat, merasa Allah tidak akan mengampuninya. Ketika gagal menjaga istiqamah, berhenti beribadah sama sekali".
Keadaan ini muncul karena selama ini mengandalkan amal, bukan Allah.
Sebaliknya, orang yang bersandar kepada Allah akan segera kembali kepada-Nya melalui taubat.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. ("QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Dosa membuatnya semakin rendah hati, semakin banyak beristighfar, dan semakin kuat berharap kepada rahmat Allah.
Keseimbangan Syariat dan Hakikat
Letak keseimbangan Islam yang sangat indah. Syariat mengajarkan amal. Allah berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."(QS. An-Najm [53]: 39)
Karena itu, seorang mukmin wajib bekerja, beribadah, berjuang, dan beramal saleh.
Hakikat mengajarkan ketergantungan kepada Allah. Allah berfirman:
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
"Tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah."(QS. Hud [11]: 88)
Artinya, syariat memerintahkan usaha, sedangkan hakikat melarang ketergantungan kepada usaha tersebut.
Seorang mukmin bekerja sekuat tenaga, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah. Ia beribadah dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak merasa amalnya menjamin keselamatannya.
Refleksi Spiritual
Penyembahan terhadap berhala tidak hanya berbentuk batu, kayu, pohon, kuburan, atau manusia. Namun seseorang dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai "berhala" ketika merasa cukup dengan kekuatan, ilmu, kecerdasan, dan amalnya.
Karena itu, para ulama mengajarkan bahwa puncak tauhid bukan hanya meninggalkan penyembahan kepada selain Allah, tetapi juga meninggalkan ketergantungan kepada diri sendiri.
Seorang hamba yang telah memahami makna ini akan selalu berkata "Ya Allah, jika aku beribadah, itu karena Engkau yang memberi taufik. Jika aku istiqamah, itu karena Engkau yang menjaga. Jika aku selamat, itu karena rahmat-Mu. Jika aku tergelincir, aku kembali kepada-Mu memohon ampunan."
Kesimpulan
Hikmah pertama analisis ini mengajarkan fondasi penting dalam perjalanan spiritual seorang mukmin. Amal saleh tetap wajib dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Namun, hati tidak boleh bersandar kepada amal tersebut. Amal hanyalah sebab, sedangkan keselamatan hakiki berasal dari rahmat Allah.
Semakin tinggi kualitas tauhid seseorang, semakin besar harapannya kepada Allah, semakin kecil kebanggaannya terhadap amal, dan semakin kuat keyakinannya bahwa segala sesuatu terjadi karena taufik dan karunia Allah. Dengan demikian, seorang mukmin akan terus beramal tanpa ujub, terus berharap tanpa putus asa, dan terus berjalan menuju Allah dengan hati yang penuh kerendahan serta penghambaan.
Sebagaimana ungkapan ahli hikmah "Beramal adalah kewajibanmu, menerima amal adalah urusan Allah, dan rahmat-Nya adalah harapanmu."
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
