Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Moe Hadir

Maknai Berani

Senggang | 2026-04-18 23:16:12
Sumber : Pinterest

B E R A N I

Moe Hadir

Pembaca sekalian, kita lanjutkan obrolan memakna sebuah kata. Semoga tidak bosan dengan oretan-oretan ini. Dibutuhkan sebuah keberanian untuk menghadapi kehidupan ini. Teringat akan sebuah wejangan dari guru ngaji yang tinggal di Desa Pekuncen Banyumas Jawa Tengah, ustadz Muhjaeri. Kata beliau, “ Kita harus berani hidup, karena mati sebuah kepastian ”. Banyak orang yang tidak berani menghadapi kehidupan. Karenanya diperlukan sebuah keberanian. Kata kuncinya adalah berani.

Diluar sana, ada sebagian orang yang tidak berani menghadapi hidup. Himpitan ekonomi yang semakin hari semakin sulit. Keras dan beratnya persaingan dalam mencari pekerjaan. Perasaan madesu (masa depan suram) yang menjadikan hidup pesimis. Munculnya ujaran, “ mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal “, menjadikan dirinya setres. Samapai kemudian mengambil jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan, na’udzubilah min dzalik.

Bertanggung jawab. Inilah kata kunci pertama menghadapi hidup. Sebagai sebagai seorang muslim, sikap bertanggung jawab adalah bagian dari perilakunya. “ Setiap kalian dadalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertangungjawabannya ”. Demikian Rasulullah Saw menegasikan.

Tanggung jawab seseorang itu meliputi tanggung jawab dengan rabbnya dan tanggung jawab dengan manusia. Dinatara tanggung jawab kepada rabbnya ialah kelak akan ditanya diakhirat untuk apa hidup yang telah diberikan. Bagaimana cara kita mendapatkan harta serta bagimana pula membelanjakannya. Bagaimana memanfaatkan waktu yang diberikan untuk berbuat apa saja. Untuk beribadahkah atau tidak.

Sedangkan tanggung jawab kepada manusia adalah bahwa apa yang telah manusia percayakan kepada kita, apakah berjalan sesuai dengan kesepakatan atau tidak. Seperti ketika seseorang diberikan jabatan, apakah jabatan dan kebijakan serta program yang dijanjikan sesuai atau tidak. Disini orang akan menilai sejauh manakah kepercayaan dan tanggung jawab dapat terlaksana.

Orang yang bertangung jawab dalam hidupnya ia akan berani menghadapi kehidupan. Kenapa berani ? Karena ia tahu betul konsekwensi yang akan ditanggungnya. Ia menjadi pribadi yang optimis, ia menjadi pribadi yang berani mengambil resiko. Ia menjadi pribadi yang akan mempertimbangkan masak-masak sebelum bertindak.

Enggan lari dari persoalan, menjadi kata kunci kedua dalam hidup. Setiap manusia tidak akan lepas dari persoalan hidup, tidak lepas dari ujian, tidak akan lepas dari tantangan. Tantangan dan persoalan yang diberikan dari Allas Swt kepana manusia, sesungguhnya adalah ujian yang akan menaikan derajatnya. Sebagai seorang muslim, ujian tersebut sebagai barometer keimanan.

Nah ketika ujian itu datang, sikap yang baik adalah engga lari dari persoalan. Hadapi, jangan lari dari persoalan. Sebab lari dari persoalan hidup tidak menjadikan solusi. Justru ketika lari, semakin bertambah persoalannya karena tidak berani menghadapi ujian. Ujian itu bukan untuk dicerca, dikutuk, ditumpuk. Tetapi dicarikan jalan keluarnya. Dibicarakan dengan orang yang sekiranya mampu memberikan solusi.

Atau jika mampu mendapatkan solusi dari diri sendiri itu lebih baik. Jika sudah mendapatkan solusi yang tepat, lakukan langkah-langkah berikutnya agar persoalan itu selesai. Jika persoalan sudah selesai, kita akan bersiap dengan kesigapan menghadapi kehidupan. Jangan mudah menyerah, jangan mudah kalah. Sebab setiap muslim adalah faighter, mujahid, pejuang.

Ketika enggan lari dari persoaal itulah ciri kedewasaan seseorang. Sebab, kedewasaan seseorang akan terlihat ketika ia mampu menghadapi persoalan hidup. Kita perlu memahami bahwa hidup itu sendiri adalah ujian, ini penting. Orang tua adalah ujian, apakah bisa menghormati dan berbakti kepadanya atau tidak. Memiliki saudara adalah ujian, bisakah kita akur tanpa perselisihan dengan sesama saudara. Memiliki teman adalah ujian, apakah bisa menjadi teman yang baik dan memilih teman yang baik. So.. jangan lari, hadapi.

Rajin dalam hidup, kata kunci ketiga hadapi hidup. Orang bijak mengatakan, “ Jika Anda menyendiri jangan menganggur, jika Anda menganggur jangan menyendiri “. Apa sih maksudnya, cuma dibolak balik saja kalimatnya ? Ia memang cuma dibolak balik, kalau dibaca sekilas, namun kata petuah tadi menganjurkan kita untuk menjadi pribadi yang rajin dalam hidup.

Jika teman-teman dalam ketersendirian apa yang akan dilakukan, bengong ? Ngga kan, kita akan berkatifitas melakukan sesuatu untuk menghadapi situasi sendiri. Lakukan hal yang bermanfaat agar ketersendirian menjadi bermaka. Membaca buku, nulis, bersih-bersih rumah dan lain-lain.

Ketika teman-teman belum melakukan ssesuatu aktifitas, artinya itu lagi menganggur. Jangan biarkan terus dalam posisi menganggur, menyendiri. Cari teman untuk mengatasi kekosongan waktu. Teman untuk mengisi kekosongan waktu bisa berarti berkomunikasi dengan teman akrab lewat medsos untuk membahas hal bermanfaat. Menanyakan apakah ada yang bisa didiskusikan, dikerjakan atau bisa jadi mencari informasi lowongan pekerjaan.

Dengan rajin dalam hidup, menjadikan banyak teman, menjadi pribadi yang disukai oleh orang lain, menjadi berani menghadapi hidup sebab mempunyai modal keuletan atau rajin. Rajin akan medatangkan manfaat buat pelakunya. Tidak akan merugi. Bahkan menjadi pribadi yang berprestasi, menjadi orang yang layak mendapat apresiasi. Tidak depresi.

Agendakan apa yang akan dikerjakan, kata kunci keempat hadapi hidup. Dalam bahasa orang yang gemar berorganisasi ada ungkapan yang senantiasa disampaikan dan menjdi motifasi, “ Rencanakan apa yang akan dikerjakan, kerjakan apa yang sudah direncanakan “. Ungkapan tersebut memberikan satu pelajaran bahwa dalam hidup rencana atau agenda adalah bagian yang tak terpisahkan untuk merahih sesuatu yang diinginkan.

Mungkin pernah dijumpai ada orang yang menanggapi ketika ditanya apa agenda atau rencananya, sementara jawaban yang didapatkan adalah mengalir saja seperti air. Jawaban ini sepintas benar, namun jika diperhatikan dengan lebih jernih bahwa orang tersebut tidak mempunyai rencana untuk menghadapi hari-harinya. Jangan sampai terjebak dengan kata mengalir saja. Diperlukan rancangan dalam hidup agar tahapan-tahapan untuk mendapatkan sesuatu dalam hidup dapat diraih.

Orang yang bijak adalah orang yang merencanakan atau mengagendakan hidupnya. Agenda menjadi acuan atau titik tumpu untuk meraih apa yang diinginkan, agenda bermanfaat untuk mengingatkan apakah jalan menuju keinginannya sudah sesuai dengan yang direncanakan. Sebab hidup itu sendiri adalah sebuah agendan atau tancangan. So.. agendakanlah hidup agar hidup makin hidup.

Nikmati perjalanan, kata kunci kelima menghadapi hidup. Menikmati perjalanan hidup adalah menghadirkan penerimaan jiwa atas apa yang telah digariskan atau ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa, Allah Swt. Hal ini diperlukan agar rasa syukur senantiasa mengelilingi hidup, mengalirkan energi positif.

Betapa banyak orang yang mendapat kemudahan-kemudahan dalam hidup, akan tetapi ia tidak dapat menikmati hidupnya. Ia senantiasa merasa kurang atas karunia yang diterima.

Nikmat perjalanan hidup menjadikan hidup enjoy atau ringan. Ketika ada orang merasa tertekan ketika menjalankan hidupnya, sebabnya adalah ia belum bisa menikmati perjalanan atau proses hidupnya. Berhenti dan renungilah. Singkirkan rasa dan bebaan yang ada dipundak dan jiwanya.

Kata “ beban ” perlu dikesmpingkan, karenan kata beban akan menyebabkan berburuk sangka dan berpandangan negatif. Bergeser dan berpikir positif, bahwa hidup adalah perjuangan dan memerlukan perjuangan.

Karena hidup adalah perjuangan, maka ia perlu diperjuangankan dengan sekuat kesungguhan dan pengorbanan. Hadapi tantangan rintangannya, jangan dikutuk kesulitannya. Apalagi bersikap putus asa dalam hidup. Ayo nikmati perjalanan hidup, amat sangat disayangkan jika setiap langkah hidup dilewatkan untuk menikmatinya. Kuncinya adalah nikmati proses dan menambah kesabaran serta kesyukuran.

Ikhlaskan setiap kejadian, kata kunci keenam menghadapi hidup. Kunci keenam menjadi penentu atas kunci-kunci yang lain agar berani menghadapi hidup. Keikhlasan adala totalitas penyerahkan kepada Allah Swt atas hidup yang dijalani. Seorang muslim diajarkan untuk penyerahan hidupnya, “ Sesungguhnya shalatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tuhan seru sekalian alam”. Begitulah Al Qur’an memotofasi.

Keikhlasan adalah totalitas penerimaan apapun yang telah ditetapkan oleh Allah Swt, apa yang diberikan oleh Allah Swt adalah yang terbaik dalam hidup. Ia yang menciptakan manusia, pastilah Allah Swt memberikan yang tebaik.

Penerimaan dengan sepenuh kerelaan memang berat, namun jika dilakukan dengan kelapangan dada akan menumbuhkan rasa husnudzon atau berbaik sangka kepada Allah Swt. Ketika berbaik sangka sudah menjadi kebiasan, ikhlas menjadi seuatu yang mudah. Berbaik sangkalah, karena Allah Swt mengikuti prasangka hambanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image