Terhempas dari Langit Mugello: Balada Sang Calon Bintang
Sastra | 2026-02-02 17:42:17
Cerpen ini mengisahkan balada tragis Sergio Garcia, seorang pembalap Moto2 berbakat yang harus merasakan pahitnya jatuh dari puncak ekspektasi ke dasar realita. Di tengah musim 2024 yang gemilang, Sergio bukan hanya memimpin klasemen, tetapi juga dipuja sebagai rookie impian oleh juara dunia MotoGP, Fabio Quartararo. Namun, janji-janji manis dari tim pabrikan besar ternyata hanyalah fata morgana.
Terperangkap dalam pusaran PHP (Pemberi Harapan Palsu) dan kebijakan strategis tim yang lebih memilih senioritas, mental Sergio perlahan hancur. Ketegangan psikis ini menjelma menjadi gangguan fisik yang merusak performanya di lintasan, hingga ia harus kehilangan kursi balapnya di tim MSI tepat sebelum seri Mugello 2025 dimulai. Melalui narasi yang emosional, cerpen ini memotret sisi gelap industri balap motor yang brutal, di mana bakat besar bisa seketika sirna jika kehilangan ketangguhan mental (resilience). Ini adalah cerita tentang pengkhianatan harapan, kehancuran karier di depan mata, dan upaya sunyi seorang petarung untuk bangkit kembali setelah terhempas dari langit impiannya.
Matahari bulan Juni di Sirkuit Mugello, Italia, seharusnya menjadi saksi kepulangan seorang pahlawan. Namun bagi Sergio Garcia, aspal panas Toscana pagi itu terasa seperti panggung eksekusi yang sunyi. Ia berdiri di sudut paddock tim QJMotor MSI, menatap baju balapnya yang masih tersemat logo-logo sponsor, namun hatinya tahu bahwa benang-benang nasibnya di tim ini telah putus.
Hanya setahun yang lalu, namanya adalah mantra yang dibisikkan dengan penuh kekaguman di sepanjang pit lane. Saat itu, Sergio bukan sekadar pembalap; ia adalah championship leader kelas Moto2, penguasa klasemen yang membuat para rivalnya tampak seperti bayangan di belakang knalpotnya.
"Kamu lihat bagaimana dia mengambil tikungan itu? Sangat presisi," ujar Fabio Quartararo, sang juara dunia MotoGP, dalam sebuah wawancara santai di sela-sela GP Jerman tahun lalu. Fabio tidak pernah segan menunjukkan kekagumannya. "Siapa yang saya inginkan untuk tim satelit Yamaha yang baru? Saya akan bilang Sergio Garcia. Dia adalah seorang hard worker. Saya sangat menyukai cara dia mengendarai motornya."
Kata-kata dari El Diablo itu seperti menyuntikkan bahan bakar turbo ke dalam mimpi Sergio. Di dalam motorhome-nya yang dingin, Sergio sempat teringat percakapannya dengan sang agen saat rumor itu memanas.
"Sergio, Yamaha mulai mendengarkan Fabio. Mereka butuh darah muda untuk proyek Pramac-Yamaha," bisik agennya dengan mata berbinar. "Pintu MotoGP sudah di depan mata. Kamu adalah rookie impian mereka."
Sergio tersenyum, membayangkan dirinya memacu M1 yang legendaris. "Saya memiliki relasi yang baik dengan Fabio. Jika itu terjadi, kenapa tidak? Saya sangat menghormatinya dan Yamaha sedang melakukan pekerjaan hebat. Itu adalah opsi terbaik untuk naik kelas," jawabnya saat itu dengan nada penuh optimisme yang meluap-luap.
Namun, dunia balap motor adalah industri yang tidak mengenal rasa iba. PHP—Pemberi Harapan Palsu—menjadi racun yang perlahan membunuh karier Sergio. Yamaha akhirnya memilih jalur aman dengan merekrut pembalap veteran, Miguel Oliveira dan Jack Miller, demi pengembangan motor yang sedang krisis. Harapan Sergio untuk promosi seketika layu. Pukulan mental itu kian telak saat ia melihat rekan setimnya sendiri, Ai Ogura, justru dipromosikan ke kelas utama oleh Trackhouse Racing.
"Kenapa bukan aku?" tanyanya dalam hati setiap kali melihat papan klasemen. Ketegangan psikologis itu mulai merayap ke fisiknya. Di Misano, badannya terlihat gemetar hebat setelah balapan, sebuah manifestasi dari hancurnya mental sang calon juara. Perselisihan dengan tim mengenai racing strategy menjadi bumbu pahit yang memperkeruh suasana.
"Kita harus mengikuti data, Sergio! Jangan keras kepala dengan instingmu sendiri!" teriak salah satu mekanik di tengah ketegangan box musim lalu. Sergio membalas dengan tatapan kosong, merasa suaranya tak lagi didengar setelah ia gagal mendapatkan tiket ke kelas utama.
Kini, di pertengahan musim 2025, realita menghantamnya lebih keras dari kecelakaan mana pun. Setelah dirundung cedera yang membuatnya absen di empat seri awal, Sergio mendapati dirinya terdampar di posisi bawah klasemen, bahkan kalah poin dari pembalap Indonesia, Mario Aji, yang juga sering absen. Ruang ganti yang dulu penuh sorak-sorai kini berubah menjadi meja negosiasi yang dingin untuk sebuah kata "sepakat berpisah". Kursinya kini resmi menjadi milik Eric Fernandez, sementara Sergio harus melangkah keluar dari paddock dengan status yang menyakitkan: dari calon bintang MotoGP menjadi pembalap tanpa motor, tanpa tim, dan tanpa kepastian masa depan.
Langit Mugello yang biru cerah seolah mengejek badai yang berkecamuk di dalam box tim MSI. Sergio duduk di atas ban cadangan, menatap nanar pada layar monitor yang menunjukkan namanya merosot ke posisi bawah. Ketegangan itu bukan lagi rahasia. Sejak mimpi MotoGP-nya dikoyak oleh keputusan Yamaha dan Trackhouse, sesuatu dalam diri Sergio telah patah.
"Ban belakangmu habis di lima lap terakhir, Sergio. Kami sudah bilang gunakan compound keras, tapi kamu bersikeras dengan instingmu!" Teo Martin, pemilik tim, berdiri dengan tangan di pinggang, suaranya meninggi di antara deru mesin motor lain yang sedang warm-up.
Sergio tidak mendongak. Tangannya masih gemetar—sebuah getaran ritmis yang mulai sering muncul sejak GP Misano musim lalu. "Insting adalah satu-satunya yang tersisa saat kalian mulai meragukanku," bisik Sergio tajam. "Data kalian tidak memperhitungkan bagaimana rasanya dikhianati oleh janji-janji paddock!"
"Jangan bawa-bawa urusan Yamaha ke sini! Tugasmu adalah membalap untuk tim ini, bukan meratapi kursi Pramac yang tidak pernah menjadi milikmu!" balas Teo sengit.
Ketegangan itu kian memuncak saat agen Sergio masuk dengan wajah pucat, membawa kabar yang lebih buruk dari sekadar kegagalan teknis. "Sergio, bisa kita bicara sebentar? Di luar."
Di belakang motorhome, di bawah bayang-bayang truk logistik, sang agen menarik napas panjang. "Trackhouse resmi mengambil Ai Ogura. Mereka tidak lagi melihatmu sebagai opsi rookie. Dan Yamaha... mereka sudah menandatangani kontrak dengan Oliveira dan Miller. Mereka butuh senior rider untuk development motor M1."
Dunia seolah berhenti berputar. Sergio menyandarkan punggungnya ke dinding truk yang panas. "Jadi... Ai naik kelas? Padahal poinnya di bawahku hampir sepanjang musim lalu?"
"Dunia MotoGP tidak hanya soal poin, Sergio. Ini soal momentum, soal pasar, dan soal siapa yang paling stabil secara mental saat ini," agennya menjawab dengan nada yang nyaris seperti permintaan maaf. "Dan jujur saja, perselisihanmu dengan tim mulai menjadi headline yang buruk di media."
Sergio tertawa miris. "Aku adalah championship leader! Fabio menyebutku dream rider-nya! Bagaimana mungkin dalam sebulan aku berubah dari calon bintang menjadi sampah yang tidak diinginkan?"
Kehancuran psikis itu berdampak fatal pada performanya di lintasan. Sergio mulai kehilangan racing line-nya. Di seri-seri berikutnya, ia bukan lagi pembalap yang berani melakukan late braking di tikungan tajam. Ia menjadi ragu-ragu. Puncaknya adalah cedera parah yang memaksanya absen di empat seri awal musim 2025.
Saat ia kembali di Le Mans, kenyataan pahit kembali menamparnya. Di papan pengumuman pit wall, namanya berada di bawah Mario Aji, pembalap muda Indonesia yang juga sempat didera cedera.
"Sergio, kamu finis ke-13. Mario yang jarang balapan saja punya poin lebih banyak darimu sekarang," sindir seorang mekanik saat Sergio melepas helmnya dengan kasar.
"Tutup mulutmu!" teriak Sergio. Napasnya memburu. "Motor ini tidak punya grip! Kalian tidak memberiku setelan yang benar sejak aku menolak mengikuti team order di Phillip Island!"
"Bukan motornya yang salah, Sergio," Teo Martin menyela, masuk ke dalam kerumunan mekanik dengan selembar dokumen di tangannya. Matanya dingin, tidak ada lagi kehangatan untuk pembalap yang dulu ia banggakan. "Jiwa pembalapmu sudah tertinggal di Jerman tahun lalu, saat kamu terlalu sibuk bermimpi tentang Yamaha hingga lupa cara mengendalikan motor Moto2-mu."
Teo meletakkan dokumen itu di atas meja kerja. "Kami sudah berbicara dengan manajemen Eric Fernandez. Kami butuh seseorang yang benar-benar ingin membalap, bukan seseorang yang hanya meratapi fata morgana."
"Apa maksudnya ini?" suara Sergio melemah, ia sudah tahu jawabannya namun hatinya menolak menerima.
"Ini adalah mutual agreement untuk berpisah, Sergio. Secara efektif, sebelum bendera start dikibarkan di Mugello akhir pekan ini, kamu bukan lagi bagian dari MSI. Pergilah cari tim yang mau menampung ghost of the past sepertimu."
Sergio terdiam. Di luar, suara motor Moto2 milik Eric Fernandez mulai menderu, melakukan shakedown di lintasan. Itu adalah bunyi masa depannya yang sedang dicuri. Ia menatap telapak tangannya; getaran itu masih ada, lebih hebat dari sebelumnya. Sang calon bintang itu kini benar-benar terhempas, bukan karena kecelakaan di lintasan, melainkan karena harapan yang diterbangkan terlalu tinggi lalu dijatuhkan tanpa jaring pengaman.
Suara raungan mesin dari motor bernomor lain yang kini menghuni box-nya terdengar seperti simfoni kematian bagi karier Sergio. Ia berdiri mematung di area paddock, sementara para kru mulai mencopot stiker namanya dari dinding pit. Tak ada pelukan perpisahan, tak ada jabat tangan hangat; yang tersisa hanyalah aroma bensin dan dinginnya profesionalisme yang brutal.
"Jadi, ini akhirnya?" Sergio menatap Teo Martin yang tengah sibuk memberikan instruksi kepada Eric Fernandez. "Setelah semua podium yang kuberikan? Setelah aku memimpin klasemen dan membuat nama tim ini disegani?"
Teo menoleh, matanya setajam aspal Mugello. "Balapan tidak memiliki spion, Sergio. Kami tidak melihat ke belakang. Kamu terjebak dalam delusi rookie impian Yamaha, sampai kamu lupa bahwa di Moto2, kamu harus bertarung seperti anjing setiap minggunya hanya untuk bertahan hidup. Lihat dirimu sekarang, bahkan poinmu lebih rendah dari Mario Aji. Bagaimana aku bisa menjelaskan itu pada sponsor?"
"Aku cedera, Teo! Aku hancur secara mental karena mereka memberiku harapan lalu membuangku begitu saja!" teriak Sergio, suaranya parau tertelan deru motor yang melintas di straight.
"Itu masalahnya, Sergio," sela sang agen yang datang membawa tas perlengkapan balap Sergio yang sudah dikemas. "Pembalap besar mengubah kekecewaan menjadi motivasi, bukan menjadi tremor di tangan. Kamu membiarkan diri kamu terkena PHP oleh industri ini. Kamu sudah kalah sebelum lampu start menyala."
Sergio merebut tasnya dengan kasar. Ia berjalan keluar menuju area service road, menatap tikungan pertama, San Donato, tempat di mana para pembalap memacu adrenalin hingga batas maksimal. Di sana, ia melihat bayangan dirinya setahun lalu—berani, agresif, dan penuh determinasi. Kini, bayangan itu pudar, digantikan oleh kenyataan bahwa ia hanyalah sebuah angka yang telah dihapus dari kalkulasi Grand Prix.
Ia merogoh ponselnya, melihat kembali kutipan wawancara Fabio Quartararo yang dulu ia simpan sebagai azimat. “Sergio adalah seorang hard worker... dia adalah pembalap yang sangat baik.” Sergio tertawa getir, sebuah tawa yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Kau salah, Fabio," bisiknya pada angin Toscana. "Aku bukan pekerja keras. Aku hanya pemimpi yang lupa bangun saat fajar menyingsing."
Di kejauhan, layar besar sirkuit menampilkan klasemen sementara. Nama Sergio Garcia merosot jatuh, terbenam di bawah deretan nama yang dulu ia kalahkan dengan mudah. Tidak ada lagi Pramac-Yamaha, tidak ada lagi M1, tidak ada lagi masa depan yang berkilauan. Yang ada hanyalah keheningan di tengah kebisingan Mugello. Ia telah terhempas dari langit, bukan karena gravitasi, melainkan karena ia terlalu percaya pada sayap yang dipinjamkan oleh kata-kata manis orang lain.
Sergio melangkah menuju tempat parkir penonton, membaur dengan ribuan orang yang tidak lagi mengenalinya sebagai sang calon bintang. Hari itu, balada Sergio Garcia berakhir bukan dengan kecelakaan yang dramatis, melainkan dengan sebuah tanda tangan di atas surat pemutusan kontrak yang dingin.
Gerbang keluar Sirkuit Mugello tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan sisa-sisa harga diri Sergio. Di pundaknya, tas perlengkapan balap yang berat terasa seperti memikul beban seluruh kegagalannya. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah paddock yang kini mulai sibuk dengan persiapan sesi kualifikasi. Di sana, Eric Fernandez tengah dikerumuni mekanik—posisi yang seharusnya milik Sergio.
"Satu tahun, Sergio. Hanya butuh satu tahun untuk menjadi asing di rumah sendiri," gumamnya pelan.
Sebuah tepukan ringan di bahu mengejutkannya. Ia menoleh dan menemukan sosok yang tak asing: Fabio Quartararo. Sang juara dunia itu mengenakan topi tim pabrikannya, menatap Sergio dengan sorot mata yang tak lagi berisi pujian teknis, melainkan empati yang tulus.
"Aku mendengar beritanya, Sergio. Lo siento... aku turut sedih," ujar Fabio dengan suara rendah.
Sergio tersenyum getir, menghindari kontak mata. "Terima kasih, Fabio. Kata-katamu tahun lalu... itu membuatku merasa seperti raja dunia. Tapi kurasa, aku terlalu sibuk memoles mahkota yang bahkan belum benar-benar ada di kepalaku."
Fabio menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas. "Dunia ini kejam, kawan. Paddock ini seperti jungle. Saat aku menyebut namamu sebagai dream rider, aku sungguh-sungguh. Tapi Yamaha butuh hasil instan, mereka butuh seniority untuk memperbaiki motor yang hancur. Mereka memilih jalan aman, dan kamu menjadi korban dari sistem itu."
"Aku tidak menyalahkanmu, Fabio. Aku hanya benci pada diriku sendiri karena membiarkan harapan itu memakan kewarasanku," jawab Sergio, suaranya parau. "Lihat tanganku. Di Misano, ini adalah tanda kehancuran. Sekarang? Ini adalah tanda bahwa aku sudah kosong."
"Lalu, apa rencanamu? Kembali ke Burriana?" tanya Fabio.
Sergio menatap aspal jalanan umum di luar sirkuit, jalan yang tidak memiliki kerb warna-warni atau steward yang berjaga. "Mungkin. Aku perlu menjauh dari bau bensin untuk sementara. Aku perlu belajar lagi bagaimana cara bernapas tanpa harus melihat lap time. Aku melihat Mario Aji dan pembalap lainnya berjuang dari bawah dengan luka mereka masing-masing, sementara aku... aku hancur hanya karena sebuah janji yang tak ditepati."
"Jangan berhenti, Sergio," potong Fabio tegas. "Pembalap yang hebat bukan diukur dari bagaimana dia naik ke MotoGP, tapi bagaimana dia bangkit setelah highside yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Kembalilah saat getaran di tanganmu itu berubah menjadi rasa lapar akan kemenangan lagi."
Sergio hanya mengangguk kecil. Ia tidak menjanjikan apa-apa. Saat Fabio berjalan kembali menuju motorhome-nya untuk bersiap menghadapi free practice, Sergio terus melangkah menuju mobil sewaannya.
Di dalam mobil, ia mematikan notifikasi ponselnya yang dipenuhi berita tentang "Terdepaknya Sang Calon Bintang". Ia menghidupkan mesin, perlahan meninggalkan hiruk-pikuk Mugello. Di kaca spion, siluet sirkuit di atas perbukitan Toscana perlahan mengecil. Sergio Garcia Dols, pemuda yang pernah digadang-gadang akan mengguncang dunia, kini pergi dalam kesunyian.
Baladanya telah usai di Mugello, meninggalkan sebuah pelajaran pahit di balik dinding pit: bahwa di lintasan balap, harapan yang terlalu tinggi tanpa pijakan yang kuat hanya akan menjadi gravitasi yang menjatuhkanmu lebih keras ke bumi. Langit Toscana tetap biru, namun bagi Sergio, ia harus belajar berjalan kembali di atas tanah, sebelum berani bermimpi untuk terbang lagi.
Enam bulan berlalu sejak gema mesin Moto2 di Mugello menghilang dari pendengaran Sergio. Kini, bukan deru engine Triumph 765cc yang membangunkannya di pagi hari, melainkan suara deburan ombak di pesisir Burriana. Namun, bagi seorang pembalap, kesunyian adalah jenis kebisingan yang paling menyakitkan.
Sergio duduk di sebuah kafe kecil di pinggir pantai, jemarinya melingkari cangkir kopi dingin. Ia memperhatikan tangannya sendiri. Getaran itu sudah hilang, digantikan oleh kulit yang mulai halus karena tak lagi sering bergesekan dengan handlebar. Di atas meja, sebuah koran olahraga lokal menampilkan foto Ai Ogura yang tengah merayakan poin perdananya di MotoGP bersama Trackhouse Racing.
"Pagi yang tenang, Sergio?" sebuah suara familiar memecah lamunannya. Itu adalah ayahnya, pria yang pertama kali membelikannya motor mini saat ia masih balita.
Sergio menghela napas panjang, matanya tetap terpaku pada koran itu. "Terlalu tenang, Ayah. Terkadang aku merasa seperti hantu. Orang-orang di sini menyapaku, tapi aku tahu apa yang mereka bicarakan di belakang. 'Itu dia, pembalap yang hampir jadi bintang Yamaha, tapi sekarang hanya jadi penonton'."
Ayahnya menarik kursi, duduk di hadapannya dengan tatapan teduh. "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu bukan gagal karena tidak bisa membalap, kamu hanya kalah dalam permainan monopoly orang-orang berbaju kemeja di kantor pusat mereka."
"Tapi Ayah, lihat Mario Aji. Dia tetap bertahan di sana dengan luka-lukanya. Eric Fernandez sekarang memakai motor yang seharusnya menjadi tempatku membuktikan diri," sahut Sergio, suaranya naik satu oktav. "Aku merasa seperti outsider. Aku melihat mereka di TV dan merasa bahwa hidupku berhenti di bulan Juni itu."
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari sebuah nomor internasional. Sergio membacanya dengan dahi berkerut.
"Jangan biarkan api itu padam sepenuhnya. Ada tim di Superbike yang menanyakan namamu. Mereka tidak butuh 'rookie impian', mereka butuh Sergio Garcia yang liar di tikungan. Kau mau bicara?"
Itu dari mantan agennya. Sergio menatap pesan itu lama, seolah-olah kata-kata di layar itu adalah starting light yang sedang ditunggunya.
"Apa itu?" tanya ayahnya.
"Sebuah pintu kecil," bisik Sergio. Ia memandang ke arah laut, membayangkan dirinya kembali mengenakan racing suit yang ketat, merasakan sensasi knee slider yang bergesekan dengan aspal, dan aroma racing fuel yang membakar paru-paru.
"Ayah tahu," Sergio melanjutkan sambil tersenyum tipis untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, "Fabio pernah bilang padaku di Mugello bahwa pembalap hebat diukur dari bagaimana dia bangkit setelah highside paling menyakitkan. Selama ini aku mengira jatuhku adalah akhir. Tapi mungkin... itu hanya pit stop yang terlalu lama."
Sergio berdiri, meninggalkan kopinya yang tak habis. Ia mengambil ponselnya dan mulai mengetik balasan. Ia tahu jalannya kembali ke Grand Prix mungkin sudah tertutup, atau mungkin harus memutar sangat jauh melalui kompetisi lain. Namun, ada satu hal yang ia sadari pagi itu: menjadi 'korban PHP' pabrikan besar tidak menentukan siapa dia. Yang menentukan siapa dia adalah apa yang ia lakukan setelah debu di bajunya dibersihkan.
"Aku akan pergi ke pusat kebugaran sore ini, Ayah. Aku perlu memastikan otot-ototku tidak lupa bagaimana cara menahan beban G-force," ujarnya mantap.
Saat ia berjalan pergi, angin laut berhembus kencang, menerbangkan koran di meja yang tadi ia baca. Lembaran yang menampilkan kejayaan rival-rivalnya itu kini terinjak di bawah langkah kakinya yang mantap. Sergio Garcia mungkin telah terhempas dari langit Mugello, namun di bawah langit Burriana yang tenang, sang mantan calon bintang itu baru saja memutuskan untuk berhenti menjadi balada yang sedih, dan mulai menulis babak baru sebagai seorang petarung yang lahir kembali dari abu kekecewaan.
Kisah Sergio Garcia bukanlah sekadar drama tentang kontrak yang robek atau kursi balap yang hilang; ia adalah cermin retak bagi siapa pun yang pernah menggantungkan seluruh harga dirinya pada janji manis sebuah otoritas. Di dunia yang bergerak secepat Grand Prix, batas antara menjadi "calon bintang" dan "masa lalu yang terlupakan" hanyalah setipis garis finish. Namun, tragedi sesungguhnya bagi Sergio bukan terletak pada keputusan Yamaha yang memilih pembalap veteran, melainkan pada bagaimana ia membiarkan ekspektasi eksternal meracuni insting internalnya.
Amanat yang tertinggal dari balada ini adalah tentang ketangguhan mental dalam menghadapi uncertainty (ketidakpastian). Sergio mengalami apa yang disebut sebagai kehancuran psikis karena ia terlanjur merayakan kemenangan sebelum bendera start dikibarkan. Ia membiarkan narasi PHP—Pemberi Harapan Palsu—menjadi narasi utama hidupnya, hingga ia kehilangan fokus pada apa yang bisa ia kendalikan: performa di atas motor Moto2-nya sendiri. Kegagalan Sergio mengajarkan kita bahwa pujian setinggi langit dari seorang juara dunia sekalipun hanyalah angin lalu jika tidak dibarengi dengan kaki yang tetap berpijak di bumi.
Dalam setiap industri, baik itu di lintasan balap maupun di meja kantor, akan selalu ada kebijakan corporate yang tidak memihak pada talenta murni demi alasan strategic atau keamanan finansial. Menjadi korban dari sistem adalah sebuah kesialan, namun tetap terpuruk dan membiarkan tangan bergetar karena trauma adalah sebuah pilihan. Kita belajar dari sosok Mario Aji yang, meski tertatih oleh cedera, tetap bertahan dalam sunyi—membuktikan bahwa resilience (daya lenting) jauh lebih berharga daripada bakat yang rapuh oleh ego.
Koda dari kisah ini mengingatkan kita: Jangan pernah membiarkan mimpi yang belum terwujud membunuh kemampuanmu untuk bekerja di masa sekarang. Jangan menjadi the ghost of the past yang hanya meratapi fata morgana. Jika pintu utama tertutup, pastikan kau masih memiliki kekuatan untuk mendobrak jendela atau mencari jalan memutar. Karena pada akhirnya, seorang petarung sejati tidak didefinisikan oleh seberapa tinggi ia terbang saat dipuja, melainkan oleh seberapa cepat ia membersihkan debu di bajunya setelah terhempas keras ke aspal kenyataan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
