Arloji Retak di Meja Bundar
Sastra | 2026-01-31 11:57:35
Cerpen ini mengisahkan tentang ketajaman analisis Detektif Hanif dalam mengungkap kasus pencurian berlian di sebuah kediaman mewah yang tampak mustahil untuk dipecahkan. Di tengah skenario kejahatan yang dirancang dengan technological hubris—mulai dari penggunaan jammer sinyal hingga manipulasi sistem keamanan digital—pelaku berusaha menciptakan false flag untuk menjebak orang yang tidak bersalah. Namun, Hanif membuktikan bahwa kejahatan yang terlihat sempurna sering kali runtuh oleh satu kecerobohan yang sangat manusiawi. Melalui pendekatan logic and deduction yang berfokus pada bukti analog, sebuah arloji tua dengan stress fracture di atas meja bundar menjadi kunci utama. Cerita ini bukan sekadar tentang perburuan pencuri, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana kebenaran selalu menyukai simplicity di tengah dunia yang terobsesi pada complexity.
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang masuk melalui celah blind jendela kantor Detektif Hanif. Di dalam ruangan yang berbau campuran kopi pahit dan kertas tua itu, suasana terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk jalanan di bawah sana. Hanif sedang menyesap espresso-nya dalam diam saat pintu jati di hadapannya diketuk dengan ritme yang tidak sabar.
Seorang wanita dengan setelan blazer mahal dan riasan yang sedikit luntur karena air mata melangkah masuk. Ia adalah Ibu Sarah, istri dari seorang pengusaha tekstil yang baru saja kehilangan brankas kecil berisi berlian koleksi keluarganya.
"Mereka bilang Anda adalah yang terbaik dalam urusan logic and deduction, Pak Hanif," ujar Sarah sambil mengempaskan diri ke kursi beludru. Tangannya gemetar saat membuka tas clutch miliknya.
Hanif meletakkan cangkirnya dengan perlahan, nyaris tanpa suara. "Pujian adalah distraction, Bu Sarah. Saya lebih suka fakta. Ceritakan kronologinya tanpa ada satu pun detail yang terlewat, sekecil apa pun itu."
"Brankas itu ada di ruang kerja suami saya. Hanya ada tiga orang di rumah saat kejadian: si pelayan baru, tukang kebun, dan keponakan saya yang sedang menginap. Tidak ada pintu yang rusak, tidak ada jendela yang dicungkil. Ini benar-benar sebuah inside job yang rapi," urai Sarah dengan nada frustrasi.
Hanif bangkit berdiri, merapikan kerah kemejanya, lalu berjalan menuju papan tulis yang masih bersih. "Tanpa kerusakan fisik pada akses masuk? Itu berarti sang pelaku memiliki kunci duplikat atau mengetahui password-nya. Apakah ada security camera yang aktif?"
"Mati. Semuanya mati tepat lima menit sebelum kejadian. Pelakunya sangat mengerti technicality sistem keamanan kami," jawab Sarah lemas.
"Menarik," gumam Hanif sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang menunjukkan bahwa otaknya sudah mulai bekerja memetakan pola. "Kejahatan yang terlihat terlalu sempurna biasanya menyimpan satu kecerobohan yang sangat manusiawi. Mari kita kunjungi crime scene-nya. Saya ingin melihat meja bundar yang Anda sebutkan di telepon tadi."
"Meja itu? Tapi tidak ada yang hilang dari sana, Pak Hanif. Hanya ada sebuah arloji tua yang kacanya retak milik suami saya," sela Sarah bingung.
"Justru itu," Hanif mengambil mantelnya. "Dalam sebuah misteri, hal yang paling mencolok sering kali adalah hal yang sengaja dibiarkan tampak tidak penting. Siasat sederhana selalu bersembunyi di balik complexity yang dibuat-buat."
Lantai marmer kediaman mewah itu terasa dingin saat Hanif melangkah masuk. Di ruang kerja yang luas, sebuah meja bundar dari kayu jati berdiri kokoh di tengah ruangan. Di atasnya, sebuah arloji tua dengan kaca yang retak seribu menjadi satu-satunya benda yang tampak ganjil di antara tumpukan dokumen yang rapi.
Hanif tidak langsung menyentuh arloji itu. Ia justru memutari meja, mengamati posisi tiga orang yang sudah berdiri berjejer dengan wajah tegang: sI pelayan baru bernama Siti, tukang kebun bernama Pak Jaka, dan keponakan Sarah, seorang pemuda modis bernama Aris.
"Sistem keamanan mati pukul 19.00 tepat," Hanif memulai, suaranya menggema datar. "Brankas dikuras dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Sebuah surgical precision yang luar biasa. Siapa di antara kalian yang berada paling dekat dengan panel listrik?"
"Saya sedang di dapur, Tuan," sahut Siti dengan suara bergetar. "Saya sedang menyiapkan appetizer untuk makan malam. Pak Jaka ada di teras belakang."
Pak Jaka mengangguk cepat. "Benar, Pak. Saya sedang merapikan tanaman bonsai karena besok mau ada tamu. Saya tidak tahu apa-apa soal listrik."
Hanif beralih ke Aris yang tampak sibuk memainkan ponselnya. "Dan Anda, Nak Aris? Saya dengar Anda seorang tech-enthusiast?"
Aris mendongak, menunjukkan senyum sinis. "Hanya hobi, Detektif. Saya sedang di kamar, mendengarkan musik dengan noise-canceling headphones. Saya bahkan tidak tahu lampu sempat berkedip. Lagi pula, kenapa kita meributkan jam tangan rusak itu? Itu barang rongsokan."
Hanif mendekati meja bundar. Ia mengeluarkan sebuah magnifying glass dari saku mantelnya. "Arloji ini menunjukkan pukul 19.05. Kacanya retak, tapi mesinnya masih berdetak. Pak Jaka, apakah Anda melihat arloji ini saat sore tadi?"
"Tadi sore meja itu kosong, Pak," jawab Pak Jaka meyakinkan.
"Menarik," gumam Hanif. Ia kemudian berlutut, memeriksa kaki meja bundar tersebut. "Bu Sarah, Anda bilang ini inside job. Tapi lihatlah, ada sedikit serpihan tanah kering di karpet ini, tepat di bawah meja. Jenis tanah yang hanya ada di area landscape luar rumah."
Wajah Pak Jaka mendadak pucat. "Itu... itu mungkin terbawa sepatu saya saat mengantar pupuk kemarin!"
"Atau mungkin," sela Hanif sambil berdiri tegak, "itu adalah red herring yang sengaja ditaburkan untuk menyudutkan Anda, Pak Jaka. Mari kita bicara soal timing."
Hanif mengambil arloji retak itu dengan sapu tangan. "Aris, kau bilang kau memakai headphones sepanjang waktu? Tapi di catatan router Wi-Fi rumah ini—yang saya minta asisten saya periksa lewat remote access tadi—koneksi ponselmu terputus tepat saat listrik padam dan tidak menyambung lagi selama dua puluh menit. Padahal, mobile data ponselmu dalam keadaan aktif. Kenapa kau tidak menggunakan internet jika kau memang hanya berdiam diri di kamar?"
"Itu... baterai saya habis!" Aris membela diri, keringat mulai membasahi dahinya.
"Baterai habis atau kau sedang sibuk menggunakan alat jammer untuk memastikan backup kamera keamanan tidak berfungsi?" tekan Hanif.
Suasana ruangan menjadi berat oleh suspense. Hanif berjalan mendekati jendela yang terkunci rapat. "Siasat kalian terlalu rumit. Mematikan listrik, menyebar tanah untuk memfitnah tukang kebun, dan menggunakan digital masking. Tapi kalian lupa satu hal mendasar tentang hukum fisika dan kebiasaan manusia."
Hanif meletakkan arloji itu kembali ke tengah meja bundar dengan denting halus. "Arloji ini tidak retak karena jatuh. Pola retakannya memusat, seperti ditekan dengan tenaga besar secara vertikal. Dan posisi meja bundar ini... ia sedikit bergeser dari bekas tekanannya di karpet. Seseorang telah menggunakan meja ini sebagai tumpuan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi."
"Maksud Anda ventilasi udara?" tanya Sarah tak percaya.
"Bukan ventilasi," Hanif menunjuk ke lampu gantung kristal tepat di atas meja. "Tapi hidden compartment di langit-langit. Berlian itu tidak pernah keluar dari rumah ini, bukan? Pelaku hanya butuh tempat persembunyian sementara sampai situasi mendingin. Dan arloji ini... arloji ini adalah kunci yang tertinggal secara ceroboh saat sang pelaku terburu-buru turun karena mendengar suara langkah kaki."
Ruangan itu mendadak sunyi, seolah oksigen di sana baru saja disedot keluar. Hanif masih berdiri dengan tenang di samping meja bundar, sementara matanya yang tajam mengunci pergerakan Aris yang kini tampak gelisah.
"Satu hal yang tidak pernah berbohong adalah mechanical evidence," ujar Hanif sambil mengetuk kaca arloji yang retak itu dengan ujung kukunya. "Kau panik saat mendengar langkah kaki Ibu Sarah mendekati ruang kerja, bukan? Kau baru saja menyembunyikan berlian itu di balik panel chandelier di atas sana, lalu melompat turun ke meja ini. Bobot tubuhmu yang menekan arloji milik pamanmu menciptakan stress fracture yang sangat spesifik pada kacanya."
"Itu hanya teori gila!" bentak Aris, suaranya naik satu oktav. "Kau tidak punya bukti kuat! Tanah itu bisa milik siapa saja, dan masalah Wi-Fi itu hanya kebetulan teknis!"
Hanif tersenyum tipis, sebuah gestur yang sangat unsettling bagi siapa pun yang sedang disudutkan. "Mari kita bicara tentang siasat sederhana. Kau membuat skenario seolah ini adalah high-tech robbery dengan menggunakan jammer dan mematikan sirkuit listrik. Kau bahkan melakukan character assassination terhadap Pak Jaka dengan menaburkan tanah di karpet. Tapi, Aris... seorang tech-enthusiast sepertimu seharusnya tahu bahwa arloji otomatis ini memiliki fitur shock resistance yang cukup baik. Ia tidak akan retak hanya karena jatuh dari meja. Ia retak karena menerima beban statis seberat tubuh manusia."
"Cukup!" teriak Aris. Ia melangkah maju, hendak meraih arloji itu, namun Hanif dengan sigap menggeser benda tersebut.
"Satu detail lagi," sela Hanif dengan nada dingin yang mematikan. "Kau bilang kau memakai noise-canceling headphones dan tidak tahu lampu berkedip. Tapi lihatlah pergelangan tangan kirimu. Ada bekas kemerahan yang melingkar, pola yang sama persis dengan strap arloji tua ini. Arloji ini bukan milik pamanmu yang tertinggal di meja, Aris. Ini milikmu. Kau memakainya saat memanjat, arloji ini tersangkut atau terlepas saat kau melompat, dan karena panik, kau meninggalkannya begitu saja setelah menyadari kacanya pecah, berharap orang akan mengira ini milik pamanmu yang memang sudah rusak."
Wajah Aris berubah dari merah padam menjadi sepucat kertas parchment. Ia melirik pergelangan tangannya sendiri, lalu ke arah Ibu Sarah yang menatapnya dengan pandangan ngeri dan tidak percaya.
"Buka panel lampunya, Pak Jaka," perintah Hanif tanpa mengalihkan pandangan dari Aris.
Pak Jaka dengan ragu mengambil tangga lipat di pojok ruangan, memanjatnya, dan merogoh bagian dalam kap lampu kristal yang megah itu. Detik berikutnya, sebuah kantong beludru hitam jatuh dan mendarat tepat di atas meja bundar dengan bunyi thud yang berat. Isinya berhamburan—berlian-berlian yang berkilau di bawah cahaya lampu yang kini sudah kembali menyala normal.
"Itu adalah perfect crime yang gagal karena kau terlalu meremehkan benda analog di tengah dunia digitalmu," pungkas Hanif. Ia mengeluarkan ponselnya, melakukan speed dial ke kantor polisi terdekat. "Siasatmu terlalu berbelit-belit, sementara kebenaran selalu menyukai kesederhanaan."
Aris jatuh terduduk di kursi beludru, tangannya menutupi wajah. Game over. Tidak ada lagi logical fallacy yang bisa menyelamatkannya dari bukti fisik yang terpampang nyata di atas meja bundar itu. Hanif kembali menyesap sisa espressonya yang sudah dingin, merasa bahwa puzzle ini telah selesai tersusun dengan sempurna.
Suasana di ruang kerja itu seketika pecah saat dua petugas kepolisian masuk dan memborgol Aris yang masih tertunduk lesu. Ibu Sarah berdiri mematung di dekat meja bundar, tangannya gemetar saat mengumpulkan kembali butiran berlian yang sempat berserakan. Ia menatap keponakannya dengan tatapan yang merupakan perpaduan antara kemarahan dan kekecewaan mendalam.
"Mengapa, Aris? Kami memberikan segalanya untukmu," bisik Sarah pelan, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan malam.
Aris tidak menjawab. Ia hanya memberikan death glare ke arah Hanif sebelum akhirnya digiring keluar ruangan. Hanif, di sisi lain, tampak sibuk merapikan kembali magnifying glass miliknya ke dalam saku mantel. Ia tidak menunjukkan euforia sedikit pun; baginya, memecahkan kasus hanyalah bentuk lain dari merapikan barisan angka yang berantakan.
"Terima kasih, Pak Hanif. Jika bukan karena ketelitian Anda pada arloji rongsokan itu, saya mungkin sudah memecat Pak Jaka dan membiarkan musuh dalam selimut menghancurkan keluarga ini," ujar Sarah sambil menyeka sisa air matanya. "Bagaimana Anda bisa begitu yakin sejak awal bahwa itu adalah false flag untuk menjebak Pak Jaka?"
Hanif berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala terang. "Dalam criminal psychology, pelaku amatir sering kali melakukan over-staging. Mereka mencoba terlalu keras untuk terlihat tidak bersalah dengan menciptakan bukti yang terlalu gamblang. Tanah kering di atas karpet mahal? Itu terlalu klise, seolah-olah pelaku ingin berteriak 'Lihatlah si tukang kebun!'. Tapi mereka lupa bahwa kebenaran selalu meninggalkan jejak yang tidak disengaja, bukan yang direncanakan."
"Dan arloji itu..." Sarah menggantung kalimatnya, menatap arloji retak yang kini diamankan di dalam plastik barang bukti.
"Itu adalah Achilles' heel bagi Aris," sambung Hanif datar. "Ia terlalu fokus pada digital camouflage—mematikan CCTV, menggunakan jammer, memutus koneksi Wi-Fi—hingga ia mengabaikan aspek fisik yang paling mendasar. Ia tidak menyangka bahwa benda analog dan tua seperti arloji itu akan menjadi saksi bisu atas berat tubuhnya saat ia melakukan physical leap dari meja ke lampu gantung. Itu adalah sebuah irony; teknologi yang ia banggakan gagal melindunginya dari hukum fisika sederhana."
Hanif kemudian mengambil tasnya dan melangkah menuju pintu. "Saya akan mengirimkan invoice untuk jasa konsultasi ini besok pagi melalui surel asisten saya. Pastikan berlian itu disimpan di bank mulai sekarang, Bu Sarah. Kepercayaan adalah aset yang mahal, tapi keamanan yang berlapis adalah keharusan."
"Anda tidak ingin menunggu polisi selesai membuat berita acara?" tanya Sarah.
"Tugas saya adalah problem solving, bukan administrasi," jawab Hanif sambil memutar gagang pintu. Sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh. "Satu tips tambahan, Bu Sarah. Meja bundar itu sebaiknya dipoles kembali. Bekas tekanan kaki Aris meninggalkan goresan tipis yang merusak serat kayu jatinya. Sangat tidak elok dilihat untuk ruangan seindah ini."
Hanif melangkah keluar, menyusuri koridor rumah mewah yang kini terasa lebih lega. Di luar, udara malam Jakarta menyambutnya dengan hawa panas yang akrab. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, dan kembali ke dalam sunyi. Baginya, kasus Arloji Retak di Meja Bundar hanyalah satu lagi bukti bahwa di dunia yang semakin kompleks ini, jawaban yang paling masuk akal biasanya adalah yang paling sederhana.
Tiga hari setelah insiden di kediaman Ibu Sarah, suasana kantor Detektif Hanif kembali ke setelan pabrik: hening, berbau aroma roasted beans yang kuat, dan dipenuhi tumpukan berkas yang terorganisir secara alfabetis. Hanif duduk di balik meja kerjanya, menatap sebuah amplop cokelat tebal yang baru saja diantarkan oleh kurir. Di pojok kiri atas amplop tersebut, tertera stempel keluarga besar Sarah—sebuah simbol prestise yang kini sedang berupaya membalut luka akibat pengkhianatan orang dalam.
"Kau tidak akan percaya apa yang kudengar dari departemen kepolisian pagi ini, Hanif," suara Baskara, asisten riset Hanif, memecah kesunyian saat ia melangkah masuk sambil membawa tablet digital.
Hanif tidak mendongak. Ia sibuk menyesuaikan fokus pada monocular loupe miliknya. "Biarkan aku menebak, Bas. Aris mencoba menggunakan pembelaan insanity defense atau mungkin dia menyewa pengacara paling mahal di Jakarta untuk mendebat validitas data router Wi-Fi yang kita ambil?"
Baskara terkekeh, lalu duduk di kursi beludru yang tempo hari diduduki Ibu Sarah. "Lebih menarik dari itu. Aris akhirnya mengaku. Ternyata dia bukan sekadar tech-enthusiast amatir. Dia terlilit hutang besar di platform crypto-gambling. Dia membutuhkan berlian itu sebagai collateral untuk pinjaman di pasar gelap. Siasatnya mematikan listrik dan menggunakan jammer itu sebenarnya sangat brilian jika saja lawannya bukan kau."
Hanif meletakkan alat optiknya dan bersandar pada kursi jati. "Brilian? Tidak, Bas. Itu adalah over-engineering. Dia menderita penyakit tipikal kriminal modern: technological hubris. Dia merasa bahwa dengan menguasai software, dia bisa memanipulasi hardware realitas. Dia lupa bahwa dunia ini masih tunduk pada hukum gravitasi dan tekanan statis."
"Tapi tetap saja, Hanif," sela Baskara sambil menggeser layar tablet-nya, menunjukkan foto barang bukti arloji yang kini berada di laboratorium forensik. "Idemu tentang stress fracture pada kaca arloji itu sangat mind-blowing. Polisi mengonfirmasi bahwa pola retakannya memang vertikal, searah dengan beban tumpuan seberat enam puluh lima kilogram—berat badan Aris. Jika dia hanya menjatuhkannya, retakannya akan bersifat radial dan menyebar secara acak."
Hanif bangkit, berjalan menuju jendela dan menyibak blind yang berdebu. Di bawah sana, Jakarta sedang diguyur hujan tipis. "Manusia sering kali membuat labirin yang rumit untuk menyembunyikan langkah mereka, padahal mereka sendiri sering tersandung di pintu masuk. Aris terlalu fokus pada digital camouflage hingga ia lupa bahwa tubuhnya memiliki massa, dan massa membutuhkan tumpuan. Meja bundar itu bukan sekadar furnitur bagi dia, itu adalah tangga menuju keserakahan. Dan arloji itu? Itu adalah silent witness yang dia remehkan karena dianggap barang analog yang sudah mati."
"Ibu Sarah mengirimkan bonus tambahan di dalam amplop itu, bukan?" tanya Baskara sambil melirik amplop cokelat di meja Hanif.
Hanif mengambil amplop tersebut, namun bukannya memeriksa isinya, ia justru memasukkannya ke dalam laci yang terkunci. "Dia mencoba membeli rasa tenang, Bas. Tapi trust yang sudah retak tidak bisa diperbaiki semudah mengganti kaca arloji. Dia berterima kasih karena aku menyelamatkan berliannya, tapi dia tidak menyadari bahwa aku juga telah menghancurkan ilusi tentang keluarganya yang sempurna."
Hanif kembali ke mejanya, mengambil cangkir espresso yang sudah kosong, lalu menatap meja bundar kecil di sudut ruangannya sendiri.
"Kau tahu, Bas?" gumam Hanif pelan. "Dalam setiap kasus, selalu ada satu simple truth yang bersembunyi di balik ribuan complex lies. Tugas kita bukan mencari siapa yang paling pintar dalam berbohong, tapi mencari siapa yang paling ceroboh saat mencoba terlihat pintar. Aris ingin melakukan sebuah perfect crime, tapi dia gagal karena satu prinsip common sense: jangan pernah memijak barang pecah belah jika kau tidak ingin meninggalkan jejak permanen."
Baskara mengangguk paham, lalu bangkit berdiri. "Ada kasus baru dari seorang kolektor barang antik di Menteng. Katanya ada lukisan yang 'menghilang' meskipun ruangan tersebut dijaga sensor gerak terbaru."
Hanif tersenyum tipis, jenis senyum yang menandakan sebuah teka-teki baru telah memicu sinapsis di otaknya. "Sensor gerak? Menarik. Beritahu dia, aku akan datang besok pagi. Dan sampaikan satu hal padanya: katakan padaku apa yang ada di atas lantai, bukan apa yang terdeteksi di layar monitor. Karena di dunia ini, kebenaran sering kali lebih menyukai simplicity daripada circuitry."
Hanif mematikan lampu meja kerjanya, meninggalkan ruangan itu dalam temaram cahaya kota, di mana misteri-misteri baru selalu menunggu untuk dipecahkan dengan sebuah siasat sederhana.
Kasus "Arloji Retak di Meja Bundar" akhirnya tertutup sebagai catatan kaki dalam karier panjang Detektif Hanif, namun gema yang ditinggalkannya jauh lebih dalam daripada sekadar laporan kepolisian. Di balik drama pencurian berlian tersebut, terselip sebuah moral value yang tajam mengenai kondisi manusia di era modern. Kita sering kali terjebak dalam sophistication bias—sebuah kecenderungan untuk percaya bahwa masalah yang rumit membutuhkan solusi yang jauh lebih rumit pula. Aris, dengan segala technological hubris yang ia miliki, adalah representasi sempurna dari generasi yang begitu mendewakan digital security hingga kehilangan kepekaan terhadap physical reality. Ia mampu memanipulasi algoritma dan mematikan jaringan transmisi, namun ia tak berdaya di hadapan hukum gravitasi dan sebuah benda analog yang ia anggap remeh.
Kisah ini memberikan amanat yang luhur bahwa kejujuran tidak memiliki backdoor atau jalan pintas teknis. Sehebat apa pun seseorang membangun facade atau sandiwara untuk menutupi kejahatannya, semesta selalu memiliki caranya sendiri untuk menyisakan satu variabel yang tak terduga. The devil is in the details, dan sering kali detail tersebut bukanlah sesuatu yang terenkripsi, melainkan sesuatu yang sangat manusiawi: rasa panik, kecerobohan, dan rasa percaya diri yang berlebihan (overconfidence). Kejahatan Aris terbongkar bukan karena Hanif lebih canggih secara teknologi, melainkan karena Hanif tetap setia pada prinsip back to basics—kembali ke dasar—dengan mengamati jejak-jejak fisik yang tertinggal pada sebuah arloji tua dan serat kayu jati.
Lebih jauh lagi, koda dari peristiwa ini menyentuh aspek kepercayaan dalam sebuah hubungan. Trust atau kepercayaan adalah sebuah fragile asset yang, sekali retak seperti kaca arloji itu, tidak akan pernah bisa kembali utuh meskipun dipoles dengan ribuan permintaan maaf atau kompensasi materi. Ibu Sarah mendapatkan kembali berliannya, namun ia kehilangan rasa aman dalam rumahnya sendiri; sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah pengkhianatan dari orang terdekat. Pada akhirnya, Hanif mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang semakin bising oleh complexity dan kecanggihan semu, kebenaran akan selalu memilih jalan yang paling sunyi dan sederhana. Karena sejatinya, integritas tidak membutuhkan circuity yang rumit untuk dibuktikan, ia hanya butuh selarasnya antara tindakan dan kenyataan yang ada di depan mata.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
