Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Anqiyaa A.

Ketika Malaikat Maut Berkunjung di Malam Hari

Kisah | 2026-01-30 13:45:02

Hari itu, kucingku yang kemarin tidak pulang ke rumah seharian akhirnya muncul di depan rumah, mengeong meminta masuk. Tanpa pikir panjang aku membuka pintu depan dan menyambutnya. Begitu melihat penampilannya, aku tahu ada yang tidak beres.

Tubuhnya yang biasanya bulat dengan perut gendut dan bulu semi panjang itu berubah bentuk. Entah ke mana perginya daging di tubuhnya. Ia kurus sekali. Tulangnya menonjol. Apa yang dia lakukan kemarin di luar rumah sampai menjadi seperti ini, aku tidak tahu.

Ia mengeong, meminta minum. Aku mengisi wadah minumnya dengan air baru, kulihat ia ragu untuk menjulurkan lidahnya seperti biasa. Setelah beberapa saat, barulah dia minum sedikit demi sedikit. Aku belum ambil pusing. Kukira dia hanya tidak begitu haus.

Aku hendak mengambil makanan kucing. Menuangkannya ke wadah plastik. Kucingku yang biasa kupanggil Ojen itu memiliki nafsu makan yang besar. Bayangkan, kucing usia tiga bulan itu biasanya rakus sekali, tidak segan mencuri makanan dari piring Numlew, kucing kami yang sudah dewasa. Tidak hanya dari Numlew, Ojen juga sering kedap air mengambil sisa makanan dari piring-piring kami, bahkan meski itu adalah tulang ayam yang sudah bersih dari daging.

Tetapi kali ini, dia tidak bereaksi sama sekali ketika kusodorkan wadah plastik berisi makanan kering khusus kucing itu. Buku mengatakan bahwa mungkin kucing seperti manusia, menjadi malas makan ketika sedang sakit. Memang, sejak beberapa hari terakhir ini Ojen sakit. Kotorannya menjadi cair dan sangat bau, makanya ia ditaruh di luar agar tidak mengotori bagian dalam rumah.

Ada satu camilan kucing yang Ojen sangat suka. Camilan yang biasanya kami berikan jika ia berhasil melewati proses mandi dan potong kuku. Camilan yang jika ia makan, ia bisa makan itu sambil berdiri di atas dua kaki. Tetapi kali ini, bahkan camilan itu pun tidak menarik perhatiannya. Hidungnya hanya mengendus sebentar, tapi mulutnya tidak bereaksi sama sekali. Matanya memejam, pendinginnya.

Buku bilang mungkin dia ingin istirahat. Aku memangkunya, merasakan tubuhnya yang kini kurus kering di bawah elusan nikmat. Tiba-tiba ia bergerak, kotorannya keluar lagi. Kulihat, ada semburat merah darah di sana. Entah apa yang dia lakukan kemarin di luar, kenapa sampai sebegini parah keadaannya.

Sisa siang itu ia gunakan untuk tidur. Pun sakit. Tidak bergerak, tidak mengeong, tidak makan maupun minum. Hanya diam di atas selembar kain yang digelar di atas kursi kayu. Kami kira ia baik-baik saja. Kendati demikian, kami memutuskan untuk membawanya besok sore ke klinik hewan setelah jam buka di sekolah selesai. Karena, tidak mungkin izin mengajar demi mengantar hewan sakit.

Lepas isya, aku memperhatikan yang masih dalam posisi sama. Wadah udara di dekatnya tidak disentuh. Air saja tidak, apalagi makanan. Baru saja saya memikirkan trik untuk memaksanya makan, tubuhnya bergerak. Tangannya meregang, lalu badannya memutar ke kiri dengan cepat. Terlalu kasar untuk sekedar mengigau.

Aku memanggil kakakku, orang yang menghabiskan paling banyak uang untuk kebutuhan Ojen. Dia segera datang, pun anggota keluargaku yang lain. Ojen sudah berhenti bergerak, kembali ke posisi tidur seperti tadi. Nafasnya semakin kencang. Aku sedang membasahi sikat gigi bekas, mengelusnya dengan itu. Saya pernah membaca di internet bahwa sikat gigi basah membuat anak kucing merasa mereka sedang dielu-elukan induknya. Ojen terlihat tenang setelah kuelus dengan sikat gigi basah itu.

Saya merekomendasikan agar Ojen diberi makan melalui pipet. Kakakku mencampurkan makanan kucing dengan udara, dan berusaha menyiapkannya ke mulut Ojen. Percuma, mulutnya tertutup kuat, dan bahkan aku tidak bisa membuka celah di antara gigi-gigi kecilnya. Mungkin bisa kalau aku memaksa, tapi aku tidak tega.

Saat itu pukul setengah sembilan malam. Kakakku sedang di kamar mandi, meninggalkanku sendirian di depan Ojen. Tiba-tiba ia mengeong. Keras sekali. Berkali-kali. Bukan meongan seperti biasanya ketika ia meminta makan atau minta dipangku. Meongannya seperti menandakan ketakutan. Seperti kucing yang mengira ia hanya sendirian dan memanggil pemiliknya dengan putus asa.

Kakakku datang dengan panik. Airmatanya jatuh sambil mengelus Ojen. Saya bisa berniat untuk izin mengajar besok demi mengantarkan Ojen ke klinik hewan. Keadaannya memang seburuk itu. Aku menampar bahunya, bilang bahwa sebaiknya Ojen dibawa ke kamar kami saja, daripada ditinggalkan di kursi ini, siapa yang akan menungguinya?

Sebuah kotak bekas nasi kebuli menjadi pilihan kami. Dua buah baju bekas yang juga menjadi alas tidurnya selama ini digelar di dasar kotak. Aku mengangkat tubuh Ojen. Sejenak merasa asing dengan tubuh kecil itu. Mana badan gempal yang biasanya melompat ke pangkuan itu? Ojen yang kini kurus kering itu dibaringkan, dan dibawalah ia ke kamar kami berdua. Kardus itu ditaruh di antara kasur kami.

Aku melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda di depan laptop, sedangkan kakakku mengeloni Ojen. Ia mau membuka mulutnya sekarang, kakakku mengelapkan udara ke mulutnya, setidaknya ia mau minum. Aku mengambil selembar kain pasmina yang biasanya dijadikan gendongan untuknya, menjadikannya selimut agar setidaknya ia tetap hangat dan ingat bahwa ia disayang.

Aku tahu, malam itu aku harus merelakannya pergi. Nya tidak membaik, nafasnya semakin sulit Keadaan, dan ia terlihat seperti orang cegukan. Napasnya pendek-pendek, matanya tidak mau menutup. Pupilnya yang kuning cerah tidak lagi fokus menatap. Tiba-tiba, ia mengeong seperti tadi. Berkali-kali. Makin keras seiring tangisan kakakku.

Aku mendekatinya dengan cepat. Berbisik, terima kasih sudah hadir di kehidupanku meski singkat. Ojen menggeliat, nafasnya seperti tercekat, dan di detik berikutnya, ia mengumpulkan semua air yang berhasil ia minum. Cairan bening berbusa itu turun mengotori kain pasmina merah tua. Tangisan sisi kakakku semakin menjadi, tangannya mengusap wajah Ojen yang kotor dan basah bekas muntahan dengan tisu.

Kukira itu akhirnya. Ternyata masih belum. Sungguh, siapakah sangka hewan pun menghadapi sakaratul maut? Kaki belakangnya mengangkat, bergerak liar seolah-olah dia sedang berlari. Mulutnya bersuara, tapi suara itu belum teridentifikasi sebagai meongan. Beberapa detik kemudian, kaki berhenti bergerak. Aku menatap ke dalam dengan nanar. Perut itu tidak lagi naik turun. Dan matanya, kalian akan tahu jika melihatnya, bahwa seperti itulah ketika nyawa dicabut.

Sumber: galeri pribadi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image