Astronomi, Hilal, dan Ijtihad Global: Mengapa Muhammadiyah Berlebaran 20 Maret?
Agama | 2026-03-16 11:18:21
Ramadan selalu mengajarkan satu hal penting: bahwa ibadah tidak hanya berkaitan dengan spiritualitas, tetapi juga dengan cara manusia membaca alam semesta. Setiap tahun, umat Islam menengadahkan pandangan ke langit, menanti tanda kecil yang menentukan kapan puasa dimulai dan kapan ia berakhir—sebuah sabit tipis yang disebut hilal. Dari sepotong cahaya yang hampir tak terlihat itulah kalender umat Islam disusun.
Di era ilmu pengetahuan modern, pertanyaan tentang hilal tidak lagi hanya dijawab dengan pengamatan mata, tetapi juga dengan perhitungan astronomi yang sangat presisi. Pergerakan bulan, jaraknya dari matahari, hingga kemungkinan terlihatnya sabit bulan dapat dihitung dengan akurasi tinggi. Di titik inilah ilmu pengetahuan dan ijtihad fikih bertemu. Penetapan awal bulan tidak sekadar persoalan teknis astronomi, tetapi juga hasil penalaran keagamaan tentang bagaimana umat Islam memahami tanda-tanda langit.
Dalam konteks itu, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini bukan keputusan yang berdiri di ruang hampa, melainkan didasarkan pada kombinasi perhitungan astronomi modern dan ijtihad fikih global yang dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Ijtimak: Titik Awal Bulan Baru
Dalam astronomi, awal fase bulan baru dimulai dari peristiwa yang disebut ijtimak atau konjungsi. Peristiwa ini terjadi ketika bulan dan matahari berada pada garis bujur yang sama jika dilihat dari bumi. Pada saat itu, sisi bulan yang menghadap bumi hampir tidak memantulkan cahaya matahari sehingga bulan tidak terlihat.
Perhitungan astronomi menunjukkan bahwa ijtimak akhir Ramadan terjadi pada 19 Maret 2026 pukul sekitar 01:23 UTC, atau sekitar 08:23 WIB. Setelah peristiwa ini terjadi, bulan mulai bergerak menjauhi matahari dan sabit bulan mulai terbentuk.
Namun ijtimak saja belum cukup untuk menentukan awal bulan. Para astronom juga melihat kemungkinan visibilitas hilal, yaitu apakah sabit bulan sudah mungkin terlihat dari bumi.
Parameter Astronomi Hilal
Dalam kajian astronomi modern, kemungkinan terlihatnya hilal ditentukan oleh beberapa parameter penting, di antaranya:
Umur bulan, yaitu waktu sejak ijtimak.
Elongasi, yaitu jarak sudut antara bulan dan matahari.
Ketinggian bulan di atas ufuk saat matahari terbenam.
Selisih waktu terbenam bulan dan matahari (lag time).
Parameter-parameter ini digunakan dalam berbagai model visibilitas hilal yang diakui secara internasional, seperti model Yallop dan Odeh, yang dikembangkan dari ratusan data observasi hilal di seluruh dunia.
Pada 19 Maret 2026 saat matahari terbenam di Indonesia, data astronomi menunjukkan:
Umur bulan: sekitar 9–10 jam
Elongasi: sekitar 5–6°
Ketinggian bulan: sekitar 2° di atas ufuk
Dengan parameter seperti ini, hilal masih sangat muda sehingga kemungkinan terlihat dari Indonesia sangat kecil.
Namun kondisi langit tidak sama di seluruh bumi.
Hilal yang Mungkin Terlihat di Barat Bumi
Karena bumi berputar dari barat ke timur, wilayah yang lebih barat mengalami matahari terbenam beberapa jam lebih lambat dibanding Asia. Akibatnya umur bulan menjadi lebih tua dan posisi bulan lebih tinggi di langit.
Di wilayah Amerika Selatan, khususnya sekitar Peru dan Chile, pada saat matahari terbenam 19 Maret 2026 parameter hilalnya kira-kira sebagai berikut:
Umur bulan: sekitar 21–22 jam
Elongasi: sekitar 11–12°
Ketinggian bulan: sekitar 9–11° di atas ufuk
Selisih waktu terbenam bulan–matahari: sekitar 45–60 menit
Dalam kajian astronomi hilal internasional, kondisi seperti ini sudah termasuk dalam zona kemungkinan hilal terlihat (possible visibility). Umumnya para astronom menyatakan bahwa hilal mulai realistis terlihat ketika:
elongasi mendekati atau lebih dari sekitar 10°,
ketinggian bulan lebih dari sekitar 5°,
dan umur bulan sekitar 18–20 jam atau lebih.
Parameter di wilayah Amerika Selatan pada hari itu memenuhi ketiga kondisi tersebut. Artinya secara astronomi hilal sudah berada pada kondisi yang memungkinkan untuk diamati.
Ijtihad Fikih: Kalender Hijriah Global
Selain pertimbangan astronomi, Muhammadiyah menggunakan pendekatan fikih dalam konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa fenomena bulan adalah fenomena kosmik yang berlaku bagi seluruh bumi.
Landasan utamanya antara lain hadis Nabi:
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Muhammadiyah memahami bahwa perintah tersebut ditujukan kepada umat Islam secara umum, bukan terbatas pada satu wilayah geografis. Karena itu jika secara astronomi terdapat wilayah di bumi yang memungkinkan hilal terlihat setelah ijtimak, maka bulan baru secara prinsip telah dimulai.
Pendekatan ini juga merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang bersifat global, sehingga umat Islam di berbagai belahan dunia dapat memiliki rujukan waktu yang sama.
Mengapa Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret 2026
Berdasarkan perhitungan astronomi, ijtimak terjadi pada 19 Maret 2026 pagi, dan pada hari yang sama terdapat wilayah di bumi yang memenuhi parameter visibilitas hilal. Karena kalender Hijriah dimulai sejak matahari terbenam, maka malam 19 Maret sudah masuk tanggal 1 Syawal 1447 H.
Dengan demikian, Idul Fitri dirayakan pada pagi hari berikutnya, yaitu Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan ini menunjukkan bagaimana astronomi modern dan ijtihad fikih dapat saling melengkapi. Langit menyediakan tanda-tandanya melalui pergerakan bulan, sementara manusia menggunakan ilmu dan penalaran untuk memahaminya. Dari interaksi antara keduanya, lahirlah keputusan tentang kapan umat Islam menutup Ramadan dan merayakan kemenangan di hari raya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
