Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indar Cahyanto

Iqra dan Budaya Literasi Memahami Kehidupan Bangsa

Agama | 2026-03-16 14:29:55
https://www.youtube.com/channel/UCMRLNrCOtVCbmTBavOZc7uA

Oleh : Indar Cahyanto

Guru SMAN 25 Jakarta dan Aktivis Muhammadiyah Ciracas Jakarta Timur

Bulan Ramadhan yang merupakan bulan tarbiyah dan juga bulan turunnya Al Quran bagi ummat manusia di muka bumi. Al Quran merupakan kalamullah yang didalamnya berisi firman Allah SWT diyakini dipedomani oleh umat Islam di seluruh dunia sebagai pedoman hidupnya. Al Quran diturunkan pada saat bulan Ramadhan tepatnya di tanggal 17 Ramadan maka dibeberapa tempat turunnya Al quran diperingati sebagai Nuzulul Qur’an.

Dalam pembelajaran Sejarah islam khususnya Ketika Al Quran itu diturunkan pertama kalinya Melalui perjalanan fisik Rasul Muhammad SAW di bumi dan dimulai saat Nabi Muhammad menginjak usia 40 tahun. Kala itu Sebelum bertemu Malaikat Jibril, beliau dipersiapkan secara spiritual melalui "Mimpi yang Benar" (Ar-Ru'ya as-Sadiqah) selama enam bulan. Dari mimpi itulah Rasul Muhammad SAW kemudian menerima wahyu pertama pada hari Senin di bulan Ramadhan, Surah Al-Alaq ayat 1-5 turun sebagai pembuka komunikasi dan kontak antara langit dan bumi. Momen ini menandai babak baru bagi peradaban manusia.

Dalam Firman Allah SWT surat Al Alaq ayat 1-5 allah berfirman : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya

Kemudian dalam Surah Al-Anfal ayat 41 allah Berfirman : Ketahuilah, sesungguhnya apa pun yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqān (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(surat Al Anfal Ayat 41). Di dalammnya ada menyebutkan mengenai Al Furqon Hari bertemunya dua pasukan pada Perang Badar (Jumat, 17 Ramadan 2 H). Sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan permulaan turunnya Al-Qur’an pada malam 17 Ramadan. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/8?from=1&to=75

Ada dua kata dalam Firman Allah secara tersurat yang pertama kata Iqra dan kedua kata Al Furqon. Dua diksi yang memiliki keterkaitan dalam kita memahami teks ayat suci alquran untuk dibawa ke dalam konteks kehidupan sosial Masyarakat saat ini yang Tengah menjalani dinamika kehidupan yang sangat kompleks. Sehingga sebagai umat Islam dibutukan kecermatan dalam hal membaca literasi kehidupan.

Menurut M. Quraish Shihab, Iqra' (bacalah) bukan hanya sekadar membaca teks tertulis, melainkan perintah luas untuk menelaah, meneliti, mendalami, dan memahami segala fenomena alam, sosial, dan diri sendiri (kontekstual). Perintah ini bersumber dari kata qara'a (menghimpun) dan wajib berlandaskan bismi rabbika (demi Allah) untuk mewujudkan peradaban.

Kemudian diksi yang kedua Kata Al-Furqan yang artinya pembeda, diambil dari kata al-Furqan yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah Al-Quran (lihat nama lain Al-Qur'an). Al-Quran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil. Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah swt. dengan kebatilan kepercayaan syirik. https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Furqan

Maka Al-Qur’an bukanlah sekadar deretan teks sejarah yang beku dan taka da arti bagi kehidupan manusia.Akan tetapi Al quran merupakan Kalamullah (perkataan Allah) yang hidup, sebuah mukjizat agung yang turun menembus dimensi langit untuk menjadi kompas petunjuk bagi manusia di dunia. Dalammemahami bagaimana kitab suci ini sampai ke tangan kita pada saat ini adalah bagian dari kesempurnaan iman yang akan membawa kita keluar dari kegelapan menuju cahaya petunjuk yang terang benderang.

Apalagi ketika warna kehidupan dunia yang berubah setiap waktu pada saat ini. Konstelasi politik budaya ekonomi budaya menghantam pondasi kehidupan manusia dalam segala arah maka Al Quran dapat menjadi obat Penawar hati dan keyakinan diri sebagai pembeda antara yang benar dan salah. Sehingga umat membutuhkan Al quran sebagai literasi agar menjadi umat yang literat dalam memahami persoalan hidup.

Proses Sejarah turunnya Wahyu Al quran adalah di Gua Hira penuh dinamika kehidupan yang dialami oleh Rosul Muhammad SAW selama 23 Tahun dan turunnya wahyu Al quran secara bertahap diangsur sesuai situsi kondisi yang dijalani oleh NabI Muhammad Bersama umatnya pada peradaban awal lahirnya Masyarakat muslim. Berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya yang turun sekaligus, Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur. Perjalanan Multidimensi:

Tiga Fase Penurunan Al-Qur’an tidak muncul secara tiba-tiba di bumi. Para ulama menjelaskan bahwa wahyu ini melewati tiga tingkatan eksistensi yang sangat terjaga: Fase Pertama (Lauhul Mahfuz): Al-Qur’an tersimpan rapi di "Papan yang Terjaga", induk dari segala catatan takdir alam semesta. Fase Kedua (Baitul Izzah): Diturunkan secara sekaligus (Al-Inzal al-Jumli) dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Peristiwa besar ini terjadi pada malam yang penuh kemuliaan, pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Fase Ketiga (Hati Rasulullah): Dari langit dunia, Malaikat Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad secara bertahap (Al-Inzal al-Munajjam) selama kurang lebih 23 tahun. https://ejournal.yayasanbhz.org/index.php/Amsal

Di balik metode ini, tersimpan hikmah yang luar biasa: Pertama Meneguhkan Jiwa Sang Rasul Muhammad SAW karena wahyu turun untuk menguatkan hati Nabi setiap kali beliau menghadapi tekanan dan hinaan dari kaum kafir. Kedua Metode Pendidikan Bertahap (Tarbiyah): Memudahkan para sahabat untuk menghafal, memahami, dan mengamalkan aturan Tuhan secara perlahan namun pasti. Ketiga Al-Qur’an sering turun sebagai jawaban langsung atas pertanyaan masyarakat atau solusi atas problematika sosial yang sedang terjadi, seperti proses pelarangan khamar yang dilakukan secara bertahap. https://ejournal.yayasanbhz.org/index.php/Amsal

Sehingga kemurnian Al Quran yang sempurna dan tanpa Cacat antara Lafaz dan Makna Satu hal yang wajib diyakini oleh kita sebagai umat Islam. Al-Qur’an merupaka perkataan langsung dari Allah, bukan sekadar ide yang disusun ulang oleh Malaikat Jibril atau Nabi Muhammad. Malaikat Jibril AS mendengarnya langsung dari Allah, lalu menyampaikannya kepada Nabi tanpa mengubah, menambah, atau mengurangi satu huruf pun. Dan menjadi Benteng Otentisitas merupaka Jaminan Langsung dari Langit Allah memberikan jaminan ketat atas kemurnian Al-Qur’an.

Dalam Surah Al-Haqqah ayat 44-46, ditegaskan bahwa jika Rasulullah berani mengubah atau mengada-adakan satu kata saja atas nama Allah, niscaya Allah akan memberikan hukuman yang nyata. Integritas Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah adalah mutlak. Hal inilah yang menjamin bahwa mushaf yang kita pegang hari ini sama persis dengan apa yang diterima beliau ribuan tahun silam di padang pasir Arab. Tak ada yang bisa dan mampu menandangi secara bahasa dan keilmuan dalam kandungan ayat suci Al quran.

Pada saat ini proses literasi yang dialami oleh bangsa Indonesia pun mengalami pasang surut kehidupan. Apalagi Ketika melihat skor indeks PISA yang didapatkan oleh bangsa Indonesia disbanding negara tetangga maka perlu bercermin bahwa membudayakan memmbaca itu sangat penting dalam mengejar ketertinggalan pada saat. Bagaimana dengan proses membaca literasi Al quran pun bangsa ini masih banyak tertinggal dalam memahami teks narasi dalam Al quran.

Membudayakan literasi yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah dan komunitas Pendidikan literasi. Karena lemah dalam literasi membaca latin mapun lemah dalam lietarasi teks Al quran. Butuh konsisten semua unsur kalangan Masyarakat untuk membudayakan literasi latin dan literasi quran secara Bersama-sama.

Menumbuhkan generasi umat Islam yang literat dalam penguasaan keilmuan dan teknologi sesuai teks ayat suci Al Quran. Kemudian mengubah cara pandang umat Islam dalam memahami lterasi dalam konteks Iqra pun juga dibutuhkan energi positif didalamnya. Maka kehadiran bulan suci Ramadan pada saat merupakan momentum membangkitkan kembali untuk istirahat sambil belajar memahami lterasi latin dan literasi Quran.

Di Tengah kehidupan Masyarakat yang komplek maka proses kegiatan literasi dikedepankan dalam menangkap pesan pemberitaan yang sangat luas. Kemudian Sebagai umat muslim pun juga memiliki kewajiban dalam membaca dan memahami teks ayat Al Quran secara konsisten Sehingga pesan yang disampaikan baik melalui teks latin dapat memiliki arti dengan pesan yang disampaikan melalui Kalamullah Al Quran Karim.

Membangun generasi literat adalah generasi yang senantiasa membudayakan membaca dan menulis. Budaya membaca dan menulis lebih dikenal dengan Literasi. Proses gerakan literasi ini bukan hanya dalam segi wawasan kognitif, tetapi lebih mencakup pada penguasaan berbagai informasi serta mampu mengolah informasi dan mengomunikasikannya. budaya literasi sebagai pembentuk generasi literat bisa dikatakan sebagai akar dari peradaban yang mampu mentransformasi pola pikir dan perilaku. Budaya literasi yang sudah melekat akan menjadikan bangsa lebih kritis, lebih kaya akan wawasan, informasi dan tentunya akan melahirkan berbagai gagasan,konsep serta mampu berkomunikasi secara efektif dan tentunya memiliki pemikiran luas dan cerdas.

Di dalam Australian and New Zealand Institute for Information Literacy (2004) menyebutkan enam standar kemampuan bagi orang yang literasi informasi (literat), yaitu: Pertama. mengenali informasi yang dibutuhkan dan menentukan sifat dan cakupannya, Kedua. menemukan informasi secara efektif dan efisien, Ketiga. mengevaluasi informasi dan proses pencarian informasi secara kritis, Keempat. mengelola informasi yang terkumpul atau didapatkan, Kelima. menggunakan informasi baru dan terdahulu untuk membuat konsep baru atau menciptakan pemahaman baru, Keenam. menggunakan informasi dengan memahami nilai budaya, etika, ekonomi, hukum, dan sosial seputar penggunaan informasi. https://ejournal.brin.go.id/baca/article/download/7631/5825

Diambil dari google ciri-ciri literat seorang Muslim meliputi gemar membaca (terutama Al-Qur'an), memiliki pemahaman mendalam (tafaqquh fiddin), serta mampu mengolah informasi untuk meningkatkan keimanan dan beramal. Mereka mengintegrasikan ilmu dengan akhlak mulia, bersikap kritis-moderat, produktif berkarya, serta memanfaatkan ilmu untuk menebar kemaslahatan.

Berikut adalah ciri-ciri mendetail seorang Muslim yang literat:

  1. Menjadikan Al-Qur'an sebagai Bacaan Utama: Literasi dimulai dari kesadaran terhadap wahyu pertama (Iqra) untuk membaca dan memahami ayat-ayat kauliyah (Al-Qur'an) dan kauniyah (alam semesta).
  2. Gemar Mencari Ilmu (Pembelajar Sepanjang Hayat): Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak berhenti belajar dari buaian hingga liang lahat, baik melalui membaca, diskusi, maupun observasi.
  3. Berpikir Kritis dan Moderat (Wasathiyah): Mampu menyaring informasi, memahami realitas, tidak gegabah, serta mempertimbangkan manfaat dan mudarat sebelum bertindak.
  4. Ilmu Diamalkan dan Bermanfaat: Literasi bukan sekadar wawasan, tetapi diaplikasikan dalam ibadah yang benar dan perilaku sehari-hari, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.
  5. Mengintegrasikan Iman, Ilmu, dan Akhlak: Pengetahuan yang diperoleh memperkuat ketakwaan dan tercermin dalam perilaku yang sopan, santun, dan amanah.
  6. Akurat dalam Informasi: Mengutamakan validitas informasi (tabayyun) dan menghindari berita bohong atau tidak berguna.

Maka Ramadan yang hari ini dijadikan sebagai proses penggiatan kegiatan literasi secara sungguh-sungguh oleh semua kalangan Masyarakat muslim. Membaca dalam teks bahasa latin maupun membaca dalam teks ayat suci Al Quran. Sehingga tercipta harmoni dalam kehidupan Masyarakat yang tampil dalam membangun kemajuan bangsa dan agama. Secara sederhana seorang, muslim yang literat adalah mereka yang cerdas secara intelektual sekaligus saleh secara spiritual, menggunakan literasi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesame umat.

Allah SWT menegaskan pentingnya pena (al-qalam) sebagai alat menegaskan betapa pentingnya belajar, dan Allah memberikan janji dalam QS.Al Mujadalah ayat 11yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan didalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. [QS. Mujadalah:11)

Literasi dalam islam tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis secara teknis. Namun, dalam islam literasi juga mencakup pemahaman kritis, penelitian, dan pengolahan data. Berdasarkan sejarah keemasan islam, budaya literasi, diskusi, penelitian dan penulisan berkembang pesat dan menjadi pilar kemajuan peradaban islam, maka dari itu islam mendorong umatnya untuk terus belajar, dan selalu mengembangkan diri dengan terus menggali potensi.

Kegiatan literasi yaitu menulis dalam Islam tidak hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga sebagai amal jariyah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya."(HR. Muslim)

Menyingkap peristiwa Nuzulul Qur’an menyadarkan kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dinamis yang diturunkan dengan penuh kebijaksanaan Ilahiah. Ia hadir untuk membentuk peradaban, menjawab tantangan zaman, dan yang paling penting: bersemayam di hati setiap mukmin. Dengan menjadi orang literat dalam memahami ayat-ayat suci Al Quran maupun memahami proses pesan informasi yang dikirimkan melalui media yang sangat beragam. Membudayakan Gerakan literasi membuka ruang membina generasi unggul dan berkemajuan dalam melihat kemajuan zaman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image