Komunikasi dan Pemikiran Abbas Araghchi dalam Diplomasi Politik
Politik | 2026-04-14 12:37:16Dalam diplomasi dan diskursus politik Islam kontemporer, Seyed Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, mengomunikasikan sebuah narasi yang menjembatani jurang konseptual antara tradisi Islam dan tuntutan modernitas. Hal ini juga terlihat dalam diplomasi politiknya di tengah kecamuk perang Iran melawan Amerika dan Israel di Timur Tengah.
Araghchi (1996) menjelaskan bahwa partisipasi politik dalam Islam bukanlah entitas yang statis, melainkan hasil evolusi panjang dari penafsiran teks suci menuju sistem pemerintahan yang fungsional.
Upaya ini penting untuk memberikan pemahaman kepada dunia Barat bahwa Islam memiliki mekanisme internal untuk mengadopsi demokrasi tanpa harus kehilangan identitas teologisnya.
Transisi pemikiran ini dapat dipahami lebih jernih jika kita menengok akar sejarah bahwa konsep awal pemerintahan dalam Islam sangat dipengaruhi oleh gagasan tentang mandat Tuhan (Crone, 2004).
Araghchi mengambil titik ini untuk menunjukkan bagaimana konsep pemerintahan Tuhan tersebut bertransformasi di abad ke-20 menjadi kedaulatan yang dijalankan melalui partisipasi rakyat, sebuah pergeseran yang ia gambarkan sebagai bentuk kedewasaan politik umat.
Namun, pemahaman Barat sering kali terjebak pada simplifikasi bahwa politik Islam bersifat monolitik dan didominasi oleh tradisi Sunni semata. Araghchi mengoreksi pandangan ini dengan menegaskan bahwa tradisi Syiah memiliki kontribusi yang sama besarnya, bahkan lebih dinamis dalam hal pembentukan negara.
Keragaman dalam pemikiran politik Islam mencakup spektrum yang luas, di mana Syiah memberikan warna unik melalui doktrin Imamah dan otoritas ulama yang terstruktur (Bowering et al., 2013).
Terdapat perbedaan pendekatan antara Sunni dan Syiah dalam merespons tantangan abad ke-20. Enayat (1982) dalam Modern Islamic Political Thought.menunjukkan bahwa sementara pemikiran Sunni seperti Al-Ikhwan al-Muslimun atau gerakan Salafi sering kali berfokus pada restorasi tatanan masa lalu, pemikiran Syiah di bawah arahan ijtihad yang hidup berhasil menciptakan terobosan revolusioner.
Araghchi menggunakan argumen ini untuk membuktikan bahwa di Iran, politik Islam tidak hanya menjadi wacana oposisi, tetapi telah sukses membentuk identitas negara-bangsa dalam wujud Republik Islam.
Sejarah panjang evolusi ini juga diperkuat oleh Antony Black (2011) dalam The History of Islamic Political Thought, yang mencatat bagaimana pemikiran Islam bergerak dari era Nabi hingga era negara modern.
Araghchi melihat bahwa keberhasilan revolusi di Iran adalah puncak dari aktivisme politik Syiah yang mampu mengorganisir massa di bawah kepemimpinan religius yang sah. Hal ini kontras dengan gerakan Sunni yang terkadang mengalami kesulitan dalam merumuskan konsep negara yang stabil pasca-runtuhnya sistem kekhalifahan tradisional (Belkeziz, 2009).
Sesungguhnya pemikiran politik Islam selalu bersinggungan dengan realitas kekuasaan sejak masa awal (Watt, 1968). Araghchi membawa perspektif ini ke masa kini untuk menjelaskan bahwa diplomasi Iran saat ini terutama dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel bukanlah sekadar reaksi emosional, melainkan manifestasi dari filsafat politik Syiah yang mengutamakan keadilan dan perlawanan terhadap penindasan.
Dalam konteks hubungan internasional, persepsi Barat terhadap Islam sering kali dibentuk oleh kepentingan politik dan ketakutan masa lalu (Malcolm, 2019). Araghchi merespons tantangan ini dengan menunjukkan wajah politik Islam yang lebih intelektual dan sistematis.
Ia membuktikan bahwa diplomasi yang ia jalankan di meja perundingan nuklir atau konflik regional berakar pada kedalaman teori partisipasi politik yang mengakui martabat manusia sekaligus kedaulatan ilahi.
Keberhasilan Araghchi dalam memetakan pemikiran ini terletak pada kemampuannya menyajikan Islam Syiah sebagai model yang hidup dan sukses. Ia ingin menekankan bahwa ketika dunia membicarakan politik Islam, mereka harus melihat melampaui gerakan Salafi atau Hizbut Tahrir.
Di Iran, teori politik telah menjadi praktik kenegaraan yang mampu bertahan menghadapi isolasi global, menunjukkan ketangguhan ijtihad dalam merespons krisis geopolitik yang paling akut sekalipun.
Ulasan Araghchi terhadap pemikiran politik Islam memberikan pesan perdamaian yang tegas bahwa dialog antara Islam dan Barat sebenarnya dimungkinkan jika Barat bersedia melihat Islam dalam keberagamannya. Sungguh ada logika demokrasi yang bekerja di dalam kerangka Republik Islam sehingga ketegangan diplomatis dapat dikelola dengan lebih rasional.
Pemikiran politik Syiah, dengan segala kekayaan intelektualnya, menawarkan alternatif tata dunia baru yang tidak hanya didasarkan pada kekuatan militer, tetapi pada keadilan dan pengakuan atas hak-hak kaum yang tertindas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
