Ukhuwah, Silaturahmi dan Adab
Agama | 2026-04-14 06:52:29Menjalin Ukhuwah, Meningkatkan Silaturahmi, Menuju Pribadi yang Beradab
M. Saifudin,
Mukadimah
Kegiatan silaturahmi di Hari Idul Fitri dan sesudahnya adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat untuk mempererat tali persaudaraan dan persahabatan. Tradisi ini telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Silaturahmi tersebut menghadirkan suasana hati yang “terurai”, yaitu dilapangkan, saling memaafkan, dan saling mengikhlaskan kesalahan yang pernah terjadi.
Salah satu tujuannya adalah menjalin ukhuwah, yaitu dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang mempertemukan satu dengan yang lain dalam suasana hati yang lapang. Sehingga, kegiatan itu dapat meningkatkan ikatan silaturahmi dengan saudara, sahabat, dan siapa pun. Sehingga kegiatan tersebut akan membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter mulia dan beradab. Maka, jika dilakukan dengan niat karena Allah dan dengan sungguh-sungguh, maka akan terbentang jalan meraih hidayah dan ridha Allah:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Menjalin Ukhuwah
Kegiatan ini menjadi sarana merajut persaudaraan sesama orang-orang beriman. Mengapa harus merajut persaudaraan dengan sesama mukmin? Karena iman adalah satu-satunya frekuensi yang mampu menyatukan manusia lintas zaman dan tempat, bahkan hingga kehidupan akhirat kelak. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Merajut persaudaraan sesama orang beriman berarti kembali kepada fitrah manusia, sebagai makhluk sosial yang memiliki kecenderungan untuk hidup bersama, saling bekerja sama, dan saling peduli. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan hubungan ini dengan sangat indah:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan rajutan ukhuwah ini, baik antar keluarga, tetangga, sahabat, maupun dalam lingkungan persyarikatan, akan tumbuh kepekaan sosial. Dari sini lahir kepedulian, gotong royong, dan semangat untuk bersama-sama meraih ridha Allah Ta’ala
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Meningkatkan Silaturahmi
Secara bahasa, silaturahmi berasal dari kata rahim, yang bermakna hubungan kekerabatan. Namun dalam praktiknya, silaturahmi mencakup hubungan yang lebih luas, yakni hubungan sesama saudara, sesama muslim, bahkan sesama manusia.
Dalam perjalanan hidup, hubungan itu tidak selalu lancar. Ada kalanya muncul salah paham, ego, bahkan konflik yang berujung renggangnya hubungan. Maka momen pertemuan dan saling bertemu di hari-hari yang penuh keberkahan ini menjadi kesempatan sangat penting untuk memperbaiki dan menguatkan kembali tali silaturahmi yang sempat cedera.
Lebih dari itu, silaturahmi memiliki nilai keberkahan yang luar biasa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kabar baik ini adalah janji Allah Ta’ala yang akan dikabulkan dalam waktu dekat atau pada waktu yang tepat. Sederhananya, secara logika orang yang menjaga hubungan baik, biasanya lebih dipercaya, lebih dicintai, dan lebih mudah mendapatkan jalan dalam kehidupannya.
Menuju Pribadi yang Beradab
Ketika silaturahmi terus dijaga dan diuri-uri, insya Allah, sifat-sifat negatif dalam diri perlahan akan terkikis. Penyakit hati seperti iri, dengki, kikir, ghibah, ujub, dan takabur akan melemah, karena hati terus dilatih untuk lapang dan memaafkan. Dan hati yang senantiasa dilatih (riyaḍah) akan membentuk pribadi yang lebih baik:
النَّفْسُ كَالطِّفْلِ، إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى حُبِّ الرَّضَاعِ، وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمْ
“Jiwa itu seperti anak kecil, jika dibiarkan ia akan tumbuh mengikuti hawa nafsunya, namun jika dilatih dan ditahan, ia akan terdidik.” (Qasidah Al Burdah Al Busyairi)
Oleh karenanya, semakin terlatih hati seseorang, semakin baik pula akhlak dan kepribadiannya. Sementara hati yang jarang dilatih dalam kebaikan justru akan semakin jauh dari sifat dasarnya, yakni suci dan bersih, sehingga merugilah
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Dan penyakit-penyakit hati inilah yang menjadi penghalang turunnya rahmat Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah, kecuali orang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya.” (HR. Muslim).
Dengan terjaganya silaturahmi, seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak. Dan pribadi seperti inilah yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).
Penutup
Momentum silaturahmi ini, selain sebagai kesempatan saling bermaafan, juga menjadi momen membersihkan hati, khususnya dari penyakit-penyakit yang berkaitan dengan interaksi dengan sesama (hablun minannas). Dengan demikian, akan meningkatkan jalinan silaturahmi lebih baik.
Silaturahmi yang tulus, insya Allah akan melahirkan ketenangan dan semakin mendekatkan kita kepada rahmat Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga persaudaraan dan kebersamaan kita, yang dibangun di atas kebaikan, dan melindungi kita dari setiap keburukan. Dan dengan rahmat-Nya, kita terus berproses menjadi pribadi-pribadi yang berkemajuan di atas iman dan akhlak mulia. Nashrun minallahi wafathun qarib
(Disampaikan dalam kegiatan Halal Bi Halal PCA Weru, 14/04/2026)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
