Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Edu Sufistik

Arafah dan Sinyal Perpisahan Rasulullah

Agama | 2026-05-28 00:02:56

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

(Founder Edu Sufistik)

Arafah, 9 Dzulhijjah, menerbangkan memori kita melintasi ruang dan waktu pada peristiwa haji yang dilaksanakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama kaum muslimin pada tahun 10 H. Momen yang kemudian dikenal sebagai haji wada’. Haji pertama sekaligus terakhir yang dilaksanakan Rasulullah.

Ketika itu, di lembah Uranah sebelah barat padang Arafah, Rasulullah menyampaikan khutbah arafah dengan lantang, namun tenang dan penuh wibawa. Sebakda tahmid, syukur, dan shalawat, Rasulullah membuka khutbahnya, sebagaimana direkam Imam Muslim, Imam Ibnu Khuzaimah, dan imam hadis lainnya,

“Wahai sekalian manusia, dengarkanlah dan pahamilah apa yang akan aku jelaskan kepada kalian. Karena, sesungguhnya aku tidak tahu apakah masih akan menjumpai kalian setelah tahun ini dan di tempat ini.”

Rasulullah kemudian menyampaikan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan sistem kehidupan. (Sudut pandang pembahasan isi khutbah arafah Rasulullah akan diulas dalam tulisan selanjutnya).

Setelah menyampaikan khutbah arafah, selang beberapa waktu, turunlah wahyu terakhir surat Al-Maidah ayat 3, “ Pada hari ini Aku telah sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Aku telah ridhai Islam sebagai agama kalian ”

Rasulullah menyampaikan wahyu terakhir itu kepada para sahabat yang berhaji bersamanya. Demi mendengar ayat tersebut, sayidina Abu Bakar menepi dan menangis tersedu. Sayidina Umar, yang melihat sayidina Abu Bakar menangis, menghampirinya.

“Wahai Abu Bakar, mengapa engkau menangis? Tidakkah seharusnya engkau berbahagia? Allah telah memenangkan dan menyempurnakan agama ini. Dan, Allah telah ridha Islam menjadi agama kita,” selidik sayidina Umar.

“Wahai Umar, tidakkah engkau menyadari, jika agama Islam ini telah sempurna, bukankah artinya tugas Rasulullah sudah selesai? Bukankah itu artinya Rasulullah akan segera pulang kepada Allah? Rasulullah akan meninggalkan kita,” terang sayidina Abu Bakar.

Sayidina Umar seketika terkesiap. Beliau pun tak kuasa menahan air matanya.

Firasat sayidina Abu Bakar terbukti benar. Sebakda Dzulhijjah, kemudian memasuki Muharam, Shafar, dan Rabiul Awal, Rasulullah sakit. Kian hari sakitnya kian berat. Sampai Rasulullah tidak kuat lagi shalat berjama’ah di masjid Nabawi. Sayidina Abu Bakar menggantikan Rasulullah sebagai imam shalat.

Rasulullah meminta izin kepada istri-istrinya untuk dirawat di rumah bunda Aisyah. Ummahatul mukminin mengizinkan. Kita tahu rumah bunda Aisyah terletak bersisian dengan Masjid Nabawi.

Suatu hari, ketika para sahabat sedang melaksanakan shalat diimami sayidina Abu Bakar, Rasulullah membuka jendela rumahnya demi ingin melihat para sahabatnya yang sedang shalat. Rasulullah tersenyum menyaksikan para sahabat yang sedang shalat.

Ekor mata para sahabat menangkap senyum Rasulullah. Nyaris para sahabat membatalkan shalat karena demikian senangnya melihat Rasulullah tersenyum. Para sahabat berharap Rasulullah sehat kembali dan bisa bersama-sama lagi shalat berjama’ah di masjid Nabawi.

Namun, ternyata itu adalah senyum terakhir Rasulullah. Sebagaimana diriwayatkan bunda Aisyah, tidak lama kemudian malaikat Jibril mendatangi Rasulullah. Jibril menyampaikan pesan Allah agar menawarkan kepada Rasulullah dua pilihan; kembali kepada Allah karena sudah tiba waktunya atau masih ingin hidup bersama para sahabat beberapa waktu lagi?

Seraya mengangkat telunjuknya ke atas, Rasulullah menjawab, “Ila Rafiqil A’la, ila Rafiqil A’la, ila Rafiqil A’la; kembali kepada Kekasih tercinta tertinggi, kembali kepada Kekasih tercinta tertinggi, kembali kepada Kekasih tercinta tertinggi.”

Kata bunda Aisyah, “Rasulullah tidak memilih kita lagi. Rasulullah lebih memilih kembali kepada Allah yang telah mengutusnya. Kembali kepada Kekasih yang paling dicintainya.”

Anas bin Malik mengatakan, “Tiada hari yang paling kelabu bagi kami selain hari wafatnya Rasulullah.”

Rasulullah telah pulang kepada Allah. Namun, beliau senantiasa hidup dalam hati kita. Kita mungkin belum pernah berjumpa Rasulullah. Namun, rasa cinta kita kepadanya semoga seperti cintanya para sahabat kepadanya.

Rasulullah telah meninggalkan pusaka untuk kita, “Aku telah tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah nabi-Nya.” (HR. Muslim)

Karena itu, mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah serta mengamalkannya adalah cara kita agar senantiasa tersambung kepada Rasulullah. Semoga kita berjumpa dengan Rasulullah di akhirat kelak untuk mengucup tangannya yang mulia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image