Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aisya Ismirda

Belenggu: Sunyinya Laki-Laki yang tak Pernah Bercerita

Sastra | 2026-06-01 18:10:41
Novel "Belenggu". Dokumentasi: pribadi

Novel Belenggu karya Armijn Pane masih terasa relevan untuk dibaca hingga hari ini. Armijn Pane (1908–1970) adalah salah satu sastrawan dan salah satu pendiri majalah Pujangga Baru. Meskipun diterbitkan pada tahun 1940, novel ini tidak hanya berbicara tentang cinta dan hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang pergulatan batin yang sering kali sulit diungkapkan. Salah satu persoalan yang menarik untuk dibaca kembali adalah bagaimana tokoh Sukartono menghadapi kegelisahan emosional yang ia pendam dalam dirinya.

Sukartono digambarkan sebagai seorang dokter yang berhasil dan dihormati. Dari luar, hidupnya tampak mapan. Namun, di balik keberhasilan itu, ia menyimpan kegelisahan yang tidak mudah dijelaskan. Hubungannya dengan Tini tidak memberinya kedekatan emosional yang ia harapkan, sementara kedekatannya dengan Rohayah menjadi ruang pelarian dari kekosongan yang selama ini ia rasakan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sosial tidak selalu berjalan seiring dengan ketenangan batin.

Pergulatan itu terlihat ketika tokoh-tokoh dalam novel mempertanyakan kemampuan manusia untuk memahami dirinya sendiri. Dalam salah satu percakapan, Rohayah berkata,

"Bahkan apakah yang aku ketahui tentang diriku, apa yang engkau ketahui tentang dirimu?" (Belenggu, hlm. 48).

Kalimat tersebut menggambarkan betapa rumitnya dunia batin manusia. Bahkan seseorang belum tentu benar-benar memahami dirinya sendiri, meskipun ia menjalani kehidupan itu setiap hari.

Kegelisahan yang sama juga tampak dalam pertanyaan Sukartono kepada Rohayah:

"Tahukah kita dasar hati kita sendiri, apa yang mengalun, bersuara, menangis dalam hati jiwa kita?" (Belenggu, hlm. 98).

Pertanyaan ini memperlihatkan bahwa persoalan terbesar Sukartono bukan hanya konflik dengan orang lain, melainkan keterasingannya terhadap dirinya sendiri. Ia berusaha memahami apa yang sebenarnya ia rasakan, tetapi tidak pernah menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan.

Melalui tokoh Sukartono, Armijn Pane memperlihatkan bahwa seseorang dapat terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain, tetapi tetap merasa kesepian secara emosional. Ia memiliki pekerjaan yang baik, status sosial yang tinggi, dan lingkungan yang menghormatinya. Namun, semua itu tidak otomatis membuatnya mampu memahami dirinya sendiri ataupun menemukan ketenangan batin yang ia cari.

Persoalan yang dialami Sukartono terasa dekat dengan kehidupan laki-laki masa kini. Banyak laki-laki tumbuh dengan tuntutan untuk selalu kuat, tegar, dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Perasaan sedih, bingung, takut, atau rapuh sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas ditunjukkan. Akibatnya, tidak sedikit yang memilih memendam persoalan mereka daripada membicarakannya kepada orang lain.

Ketika perasaan terus-menerus dipendam, seseorang mungkin tetap menjalankan aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Ia tetap bekerja, tetap menjalankan tanggung jawabnya, dan tetap terlihat baik-baik saja. Namun, di balik itu, ada kegelisahan yang terus menumpuk karena tidak pernah mendapatkan ruang untuk diungkapkan. Dalam hal inilah pengalaman Sukartono terasa begitu dekat dengan realitas manusia modern.

Lebih dari delapan puluh tahun setelah Belenggu diterbitkan, pertanyaan yang diajukan Sukartono masih terdengar akrab. Seberapa jauh manusia benar-benar mengenal dirinya sendiri? Seberapa sering kita mendengarkan suara yang muncul dari dalam hati kita? Novel ini mengingatkan bahwa persoalan emosional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari pengalaman manusia yang wajar.

Pada akhirnya, Belenggu menunjukkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan, status sosial, atau hubungan dengan orang lain. Manusia juga membutuhkan ruang untuk memahami dirinya sendiri dan mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sebab, tanpa ruang untuk berbicara, seseorang mungkin tetap hidup seperti biasa, tetapi perlahan semakin jauh dari dirinya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image