Alarm Kesehatan Mental Anak Kita
Pendidikan | 2026-03-16 13:10:00
Mengapa di tengah kemajuan pendidikan dan teknologi, justru semakin banyak anak yang mengalami tekanan mental bahkan kehilangan ketahanan jiwanya? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika berbagai kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja terus bermunculan, bahkan hingga memicu tindakan menyakiti diri.
Pemerintah sendiri telah merespons kondisi ini dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani sembilan kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanganan kesehatan mental anak. Berbagai faktor disebut sebagai pemicu, mulai dari konflik keluarga, tekanan akademik, masalah psikologis, hingga perundungan di lingkungan sekolah.
Namun, jika dicermati lebih dalam, faktor-faktor tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri. Konflik keluarga, tekanan belajar, maupun perundungan lahir dari cara pandang hidup dan sistem nilai yang berkembang di masyarakat.
Hari ini keberhasilan sering kali diukur dari prestasi akademik dan capaian materi. Anak-anak didorong untuk berkompetisi sejak dini. Sementara itu, ruang untuk membangun ketenangan jiwa, kedewasaan emosi, dan kekuatan spiritual justru semakin sempit. Di sisi lain, arus budaya bebas melalui media dan dunia digital juga semakin kuat memengaruhi cara berpikir generasi muda.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan, tetapi miskin pegangan nilai. Tidak mengherankan jika berbagai persoalan mental semakin sering muncul. Dalam kondisi seperti ini, berbagai kebijakan penanganan yang dibuat negara sering kali baru menyentuh gejala, bukan akar persoalan yang melahirkannya.
Dalam pandangan Islam, persoalan generasi tidak dapat dipisahkan dari sistem kehidupan yang mengaturnya. Islam memandang negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga masyarakat, termasuk memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual.
Negara dalam Islam berperan sebagai ra’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara wajib memastikan sistem pendidikan, keluarga, dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan nilai yang menjaga manusia dari kerusakan moral dan tekanan hidup yang tidak wajar.
Karena itu, krisis kesehatan jiwa pada anak tidak cukup diselesaikan dengan berbagai program penanganan semata. Yang lebih mendasar adalah memperbaiki sistem nilai yang membentuk kehidupan masyarakat. Tanpa perubahan mendasar tersebut, berbagai krisis pada generasi muda dikhawatirkan akan terus berulang di masa depan.
Nonny Irayanti
Lembang, Kabupaten Bandung Barat
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
