Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rut Sri Wahyuningsih

Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Semakin Buram

Politik | 2026-04-28 12:26:07

Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 sudah usai, bagi peserta dan orangtua tinggal menunggu hasil, lolos atau gagal masuk di perguruan tinggi negeri favoritnya. Namun, lagi-lagi cerita tidak senormal itu karena tetap diwarnai adanya temuan praktik perjokian. Dua kampus besar di Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair), melaporkan adanya upaya kecurangan dari peserta.

Di Unesa, panitia berhasil mengamankan seorang joki yang mencoba mengelabui petugas dengan dokumen palsu. Sementara di Unair, terduga joki diduga sudah terendus identitasnya hingga akhirnya memilih tidak hadir di lokasi ujian. Hal ini karena panitia Unair sudah mengantongi daftar nama suspect joki berdasarkan data dari pusat SNPMB, sebagaimana yang disampaikan oleh Kordinator Pelaksana Pusat UTBK SNBT Unair, I Made Narsa, pelaku adalah pemain lama. (detik.com, 22-4-2026).

Mengapa praktik joki masih menjadi pilihan? menurut pengamat pendidikan, Totok Amin Soefijanto, praktik joki UTBK tidak lepas dari budaya dan pola pikir masyarakat seperti kebiasaan curang, nilai terhadap kejujuran dan kerja keras, tingkat kepercayaan, keinginan sukses yang instan, rendahnya penghargaan kepada kompetensi, dan sebagainya. Ditambah sebagian besar orangtua masih menganggap bahwa perguruan tinggi negeri (PTN) merupakan yang terbaik. Sehingga memicu adanya tekanan dari orangtua.

Totok menilai, jika calon mahasiswa sudah berani menggunakan jasa joki UTBK dapat diartikan ia sudah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Etika dan moralnya sudah bermasalah, sehingga kelak dia akan cenderung menerapkan pendekatan itu (kompas.com,24-4-2026). Lebih jauh jika kita berkaca pada rentetan peristiwa di sekitar kita, dunia pendidikan kita tak hanya bermasalah di perjokian setiap kali UTBK, dan joki-joki itu untuk memenangkan kursi di Fakultas favorit, seperti kedokteran misalnya.

Namun ada masalah lain yang tak kunjung mendapatkan solusi, buktinya kasus terus berulang. Seperti kasus penganiayaan pelajar di Pandak, Bantul. Pelaku sudah ditangkap namun korban, Ilham Dwi Saputra (16), akhirnya meninggal dunia (tvonenews.com,22-4-2025). Kemudian kasus kekerasan dan pelecehan seksual dengan pelakunya pelajar dan mahasiswa yang terjadi justru ruang sekolah dan kampus, tempat yang seharusnya aman dan terpercaya.

Bahkan pelaku dan pengedar barang haram seperti narkoba bukan lagi preman atau anak putus sekolah, melainkan banyak melibatkan anak sekolah dan mahasiswa. Kasus penghinaan guru hingga guru dipenjara hanya karena memamarahi atau menghukum siswa juga angkanya tak berkurang dari tahun ke tahun. Bukti semakin ke sini adab dan aklak generasi kian memburuk.

Refleksi Hardiknas, Mengapa Pendidikan Kian Kandas?

Tak pernah terlewat, setiap tahunnya kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, nyatanya dunia pendidikan makin buram dan memprihatinkan. Tema resmi Hardiknas tahun ini adalah “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, maknanya menekankan kolaborasi seluruh pihak pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Namun dengan cara bagaimana? Semestinya peringatan kali ini bisa menjadi alarm keras bagi semua pihak. Kita butuh niatan yang lebih besar untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini dibanding sekadar kolaborasi. Yang harus kita sadari pula, pemerintah kita telah gagal dalam upaya implementasi arah peta jalan pendidikan sehingga menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.

Tentu akar masalahnya adalah landasan dibangunnya kurikulum pendidikan hari ini, yaitu sekuler kapitalistik , yang terbukti menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar. Mereka berpikir pragmatis, seolah materi bisa menyelesaikan semua persoalan. Dan cita-cita tertinggi setiap orang adalah sukses dengan standar materi.

Sanksi negara yang boleh dibilang longgar bagi pelaku pelajar, terutama yang masih di bawah umur meski jumlahnya mayoritas memberikan dampak normalisasi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Padahal tak jarang urusannya sudah menyangkut penghilangan nyawa .

Sekuleri kapitalis dengan sengaja memisahkan pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sehari-hari anak didik, sehingga tak membekas apa yang semestinya tertancap kuat dalam benak yaitu akidah, bahkan memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan. Tak ada rasa takut yang dimunculkan ketika agama dipisahkan. Bahkan tak ada rasa pertanggungjawaban kelak seluruh amalnya akan dibalas oleh Allah, bukan yang baik-baik saja namun sekaligus saat seseorang itu berbuat zalim.

Islam, Pendidikan Tak Sekadar Penting, Tapi Wajib

Sebagai agama yang sempurna, yaitu yang memuat akidah dan syariat (aturan) maka hanya Islam yang layak dijadikan sebagai pedoman hidup. Dalam masalah pendidikan misalnya, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan.

Pendidikan Islam fokus pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah) dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Artinya, ketika melakukan sesuatu mereka sudah memiliki kesadaran penuh ada konsekwensi, dan dengan bekal ilmu yang sahih, ia akan cenderung memilih tindakan yang sesuai dengan perintah dan larangan Rabbnya. Bukan sebaliknya, malah memperturutkan hawa nafsu.

Islam jelas akan menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar. Sebab, tujuan bermasyarakat dan bernegara dalam Islam salah satunya adalah menjaga akal. Sehingga apapun yang dikhawatirkan akan mengguncang akal hingga akidah akan disingkirkan dengan aturan hukum yang tegas. Di sisi lain, masyarakat yang dibangun berdasarkan Islam adalah masyarakat yang memiliki perasaan, pemikiran dan aturan yang sama sehingga terwujud suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan.

Maka, jika hari ini hanya imbauan kepada seluruh komponen masyarakat untuk berkolaborasi tanpa mengganti sistemnya, hanya omong kosong. Sebab sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan dan sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara harus berpijak pada akidah dan syariat Islam bukan yang lain. Allah SWT.berfirman yang artinya, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (TQS Al Madinah:50). Wallahualam bissawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image