Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rahil Dwi

Program Makan Bergizi Gratis: Apakah Memang Bergizi?

Eduaksi | 2026-04-28 07:40:29

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sejatinya dirancang sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak sekolah. Sejumlah menu yang ditemukan di dapur penyedia MBG menunjukkan ciri khas makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), serta mengandung berbagai zat aditif. Karakteristik ini sering dijumpai pada produk industri seperti sosis, nugget, mi instan, roti manis, maupun biskuit. Dengan pemberian produk tersebut, muncul pertanyaan: apakah makanan seperti ini layak menjadi bagian dari program yang mengusung label “bergizi”?

Sumber: dietpartner.id

Kekhawatiran ini juga didukung oleh berbagai penelitian dalam satu dekade terakhir yang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi makanan Ultra Processed Food (UPF) dengan peningkatan risiko masalah kesehatan. Pola konsumsi tinggi UPF dikaitkan dengan meningkatnya kejadian obesitas hingga penyakit jantung. Hal ini tidak terlepas dari sifat makanan tersebut yang umumnya tinggi energi, tetapi rendah serat serta mikronutrien penting bagi tubuh.

Risiko tersebut menjadi semakin serius ketika pola makan ini terbentuk sejak usia dini. Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) berpotensi membawa kebiasaan tersebut hingga dewasa. Di sinilah letak ironi program MBG. Inisiatif yang seharusnya memperbaiki kualitas gizi justru berpotensi memperkenalkan pola konsumsi yang dipertanyakan nilai gizinya.

Penggunaan label “bergizi” pada program makan seperti ini dapat membentuk persepsi yang keliru. Anak-anak dapat menganggap produk seperti roti manis, nugget, atau biskuit kemasan sebagai standar makanan sehat, terutama jika disajikan secara rutin dalam program resmi pemerintah. Padahal, program makan di sekolah tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga membentuk kebiasaan makan yang sehat dan berkelanjutan.

Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa program serupa dapat menjadi sarana edukasi gizi yang efektif seperti di Jepang, program makan siang sekolah (kyūshoku) dirancang untuk memperkenalkan pola makan seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayuran, dan sup. Pendekatan ini menegaskan bahwa program makan sekolah tidak sekadar memberi makan, tetapi juga membentuk budaya makan. Makanan juga disajikan panas karena dapur umum berada di sekolah. Sedangkan di China, makan siang di sekolah China, khususnya wilayah pedesaan, dikelola secara terpusat melalui program Nutrition Improvement Program for Rural Compulsory Education Student (NIPRCES) dengan makanan dimasak langsung di sekolah dan mendorong penggunaan bahan pangan lokal yang segar.

Sumber: pedomanrakyat.co.id

Di Indonesia, kritik terhadap penggunaan makanan UPF dalam MBG telah berulang kali disampaikan oleh kalangan kesehatan publik. Data menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) berkontribusi terhadap naiknya angka penyakit tidak menular. Dalam konteks ini, paparan UPF sejak dini dikhawatirkan akan memperburuk tren tersebut di masa depan.

Padahal, BGN telah menyatakan bahwa makanan UPF seharusnya tidak menjadi bagian dari menu MBG. Dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 8 Tahun 2025 tentang pelayanan MBG ditegaskan bahwa menu MBG yang diberikan tidak boleh berupa produk UPF dan harus memenuhi prinsip gizi seimbang. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa produk pangan olahan masih kerap muncul dalam menu. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi implementasi kebijakan.

Selain isu kesehatan, aspek lain yang juga perlu diperhatikan adalah ketergantungan pada bahan pangan impor, seperti gandum. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang beragam dan bernilai gizi tinggi. Jika program MBG lebih mengutamakan bahan lokal, manfaatnya tidak hanya pada perbaikan gizi, tetapi juga penguatan ketahanan pangan nasional. Sebaliknya, dominasi bahan impor berpotensi membentuk preferensi makan yang bergantung pada produk yang tidak diproduksi secara mandiri.

Pada akhirnya, program makan di sekolah bukan sekadar intervensi jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk generasi sehat. Apa yang disajikan kepada anak-anak hari ini akan menjadi standar mereka dalam memahami makanan sehat di masa depan. Jika yang diberikan adalah makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), maka persepsi itulah yang akan terbentuk.

Pertanyaan yang muncul di ruang publik menjadi sangat relevan, ketika sebuah program disebut sebagai “makan bergizi”, maka masyarakat berhak memastikan bahwa nilai gizi benar-benar menjadi prioritas utama, bukan hanya sekadar label.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image