Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rahma Kun Zakiyah

Rupiah Melemah, Harga Bawang dan Cabai Ikut Naik: Siapa yang Paling Terdampak?

Ekonomi Syariah | 2026-05-25 11:18:00
Ilustrasi perbandingan uang rupiah dan dolar AS. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.735 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026. (Sumber: ANTARA)

Dalam beberapa minggu terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan pelemahan. Pada 21 Mei 2026, rupiah ditutup di level Rp17.667 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp17.735 di pertengahan Mei (Kompas.com & Pikiran Rakyat).

Angka-angka ini mungkin terdengar seperti laporan ekonomi biasa. Namun bagi ibu-ibu yang setiap pagi berbelanja ke pasar, penurunan nilai rupiah sudah terasa di kantong mereka. Bukan dalam bentuk dolar, melainkan dalam bentuk kenaikan harga bawang, cabai, dan beras yang perlahan-lahan meningkat.

Aktivitas jual beli di pasar tradisional. Harga bawang merah menembus Rp49.150 per kilogram pada April 2026. (Sumber: Pexels.com)

Harga Pangan Mulai Tertekan

Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional per 28 April 2026, sejumlah komoditas pangan utama mengalami kenaikan (Kompas.tv). Bawang merah ukuran sedang meningkat menjadi Rp49.150 per kilogram atau naik sekitar 6,16 persen. Bawang putih ukuran sedang menyentuh Rp41.250 per kilogram, naik 3,77 persen. Di sisi lain, cabai merah besar dan cabai merah keriting masing-masing naik menjadi Rp49.250 dan Rp48.300 per kilogram.

Beras juga tidak ketinggalan dari dampak ini. Beras medium melonjak menjadi Rp16.300 per kilogram, sedangkan beras super mencapai Rp17.400 per kilogram. Kenaikan ini tidak hanya terjadi di tingkat konsumen. Di Jembrana, Bali, harga minyak goreng kemasan merek Kita ukuran 700 ml dilaporkan naik dari Rp15.000 menjadi Rp17.000 per botol. Pedagang setempat menyebut kenaikan harga plastik kemasan, yang merupakan bahan impor, sebagai salah satu penyebab utama (Tribun Bali).

Petani sedang memupuk lahan pertanian. Harga pupuk non-subsidi naik dari Rp350 menjadi Rp600 per kilogram. (Sumber: Pexels.com)

Bukan Hanya Konsumen, Petani Juga Terjepit

Dampak pelemahan rupiah ternyata meluas hingga ke sektor pertanian. Biaya produksi pertanian juga mengalami lonjakan. Pengamat Pertanian dari IPB University, Dwi Andreas Santosa, menjelaskan bahwa harga pupuk non-subsidi naik dari Rp350 menjadi Rp600 per kg, hampir dua kali lipat. Pestisida juga naik 20 hingga 30 persen, bahkan selang irigasi berbahan plastik harganya melambung dua kali lipat (NEXT Indonesia Center via Pikiran Rakyat).

Eliza Mardian dari CORE menyatakan bahwa depresiasi rupiah berdampak pada meningkatnya biaya impor bahan baku. Akibatnya, biaya produksi pertanian ikut melambung, distribusi meningkat, dan harga pangan di kalangan konsumen juga mengalami kenaikan. Ini menunjukkan bahwa petani dan konsumen sama-sama berada di bawah tekanan.

Ini Bukan Isu di Kota Saja

Menariknya, dalam pidatonya di Nganjuk pada 16 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto sempat menyatakan bahwa "rakyat di desa enggak pakai dolar". Namun, peneliti dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Badiul Hadi, berpendapat bahwa pernyataan tersebut perlu ditafsirkan dalam konteks yang lebih luas. "Orang desa memang tidak melakukan transaksi menggunakan dolar. Namun pupuk, BBM, pakan ternak, obat, hingga biaya distribusi pangan sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dolar," ujarnya (Pikiran Rakyat).

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, Hani Perwitasari, juga menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah berdampak langsung pada stabilitas harga pangan nasional. Menurutnya, Indonesia masih tergantung pada impor untuk beberapa komoditas, seperti bawang putih yang 90-95 persen masih didatangkan dari luar negeri (Bisnis.com & Kontan).

Lalu, apa yang sesungguhnya dapat dilakukan? Menurut saya, pemerintah tidak perlu cemas memaksakan kekuatan rupiah dalam waktu singkat. Yang lebih realistis adalah memperkuat stok pangan nasional dan memastikan subsidi pupuk tepat sasaran. Selain itu, ketergantungan pada impor bawang putih dan kedelai harus mulai dikurangi, misalnya dengan mendorong petani lokal untuk menanam komoditas tersebut. Sebab pada akhirnya, ketika harga bawang dan cabai melambung, rakyat tidak bertanya tentang kurs dolar. Mereka hanya bertanya pada diri mereka sendiri: 'Apakah uang saya cukup untuk belanja minggu ini?

Pelemahan Rupiah, Beban Rakyat Kecil

Pelemahan rupiah bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan atau berita ekonomi. Ia adalah kisah sehari-hari para ibu yang melihat harga bawang merah menembus Rp49.000 per kilogram, pedagang yang terpaksa menaikkan harga karena kenaikan bahan kemasan, dan petani yang biaya pupuknya meningkat hampir dua kali lipat.

Pemerintah harus menyadari: jika penduduk kecil kesulitan untuk membeli bawang dan cabai, jangan hanya disuruh memperhatikan kurs dolar. Karena yang mereka butuhkan bukanlah kestabilan nilai tukar, tetapi kestabilan harga di pasar. Selain itu, ketergantungan pada impor, terutama untuk bawang putih dan kedelai, mesti dikurangi secara serius. Pada akhirnya, mereka yang paling merasakan dampak guncangan ekonomi global bukanlah para pelaku saham atau importir, melainkan rakyat kecil di pasar dan sawah yang bahkan tidak pernah memegang dolar seumur hidup mereka.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image