Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dr Drg Laelia Dwi Anggraini SpKGA

Eyang Sumiwi: Saya hanya Ingin Naik Haji

Agama | 2026-05-25 14:07:52

Di Tanah Suci, seorang nenek dari Pugeran Yogyakarta ditemani tiga "anak" yang baru dikenalnya. Kisah tentang kerinduan pulang, dan pulang yang sebenarnya.

Pesawat Garuda baru saja mendarat di Madinah. Di antara ratusan jemaah yang sibuk mengurus koper, ada seorang nenek 76 tahun berjalan pelan dengan tongkat. Tas selempang melintang di dadanya. Tidak ada anak, tidak ada cucu yang menggandeng. Hanya nama “Sumiwi” tertulis di kartu jemaah.

Asalnya dari Pugeran, Yogyakarta. Berangkat sendiri.

“Anak saya nggak ada. Ada anak tiri 3, tapi mereka sudah berkeluarga. Jadi ya berangkat sendiri,” katanya pelan saat ditemui di pelataran tenda Mina ketika Tarwiyah, suaranya hampir hilang ditelan gemuruhnya suara AC tenda Mina.

Eyang Sumiwi bukan jemaah biasa. Ia anggota Aisyiyah Mantrijeron, tidak bisa naik turun lift, tidak paham kunci elektrik pintu kamar hotel, dan sering bingung arah. Setiap malam ia duduk di pinggir kasur, menatap pintu, dan berbisik, “Kapan pulang? Aku kangen rumah.”

Rumah yang ia maksud bukan rumah di Madinah. Bukan juga kamar hotel di Makkah. Tapi rumah kecil di Pugeran yang sudah 60 tahun ia tempati.

Eyang berangkat atas biaya sendiri. Menabung dari pensiun 1 juta dari th 2012. Eyang pelayan toko Batik Cokrosuharto, sampai sekarang masih kerja, dg gaji 2 juta per bulan. Bekerja sejak th 1976. Dari toko disanguin 200 riyal.

*Diopeni Tiga Mbak yang Jadi Anak*

Di sinilah kisah Eyang Sumiwi berubah. Di kloter 6 Embarkasi YIA, ia bertemu Mbak Titut, Mbak Dewi, dan Mbak Laeli. Tiga perempuan asal Yogya yang awalnya hanya teman satu kamar.

“Dok, nenek ini nggak bisa pencet kartu kamar. Takutnya nyasar,” kata Mbak Titut. Sejak itu, ketiganya memutuskan: Eyang Sumiwi diopeni bareng-bareng.

Mereka yang mengajari Eyang cara buka pintu kamar. Menuntunnya naik turun lift. Saat tawaf, pakai kursi roda, didorong Mbak Dewi, Mbak Laeli dan Mbak Titut.

“Kalau nggak kami jagain, Eyang bisa hilang. Beliau selalu bilang mau pulang. Tapi pulang ke mana kalau nggak kami temani?” kata Mbak Laeli.

Selama 40 hari di Madinah dan Makkah, Eyang Sumiwi tidak pernah jauh dari ketiganya. Ia memanggil mereka “Mbak”.

“Mbak Titut, airnya mana? Mbak Dewi, aku mau ke mushola. Mbak Laeli, aku kangen Pugeran,” begitu terus yang ia ucapkan.

Dan ketiga “mbak” itu tidak pernah bosan menjawab.

Puncak haru terjadi saat di Mina. Eyang Sumiwi duduk di tenda, menatap langit. Tangan keriputnya menadah ke atas. Mata kiri sudah tdk bisa melihat.

“Aku nggak minta apa-apa, Gusti Allah. Cuma pengin ketemu Ka’bah sekali sebelum mati. Sekarang sudah,” katanya.

Ternyata, “pulang” yang Eyang Sumiwi cari bukan Pugeran. Ia mencari pulang ke hadapan Tuhan. Dan ia menemukan jalan pulang itu lewat kebaikan tiga perempuan yang baru dikenalnya.

Kisah ini sederhana. Tentang seorang nenek tanpa anak yang naik haji sendiri. Tentang tiga perempuan yang memilih menjadi anak untuk 40 hari.

Tentang bagaimana Tanah Suci kadang tidak hanya mempertemukan manusia dengan Tuhannya. Tapi juga mempertemukan manusia dengan keluarga yang tak pernah ia miliki.

Kisah ini disusun berdasarkan wawancara langsung dengan Eyang Sumiwi, Mbak Titut, Mbak Dewi, dan Mbak Laeli di bawah tenda Tarwiyah Mina. Kemabruran haji sudah tampak dari sini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image