Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dr Drg Laelia Dwi Anggraini SpKGA

Di Antara Kampus, Tanah Suci, dan Mimpi Menghadirkan Kebermanfaatan

Agama | 2026-05-21 23:41:44

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas akademik dan padatnya amanah kepemimpinan perguruan tinggi, ada satu ruang pengabdian yang terus dijaga oleh Prof. Dr. H. Sukamta — mendampingi jamaah haji menapaki perjalanan spiritual menuju Allah.

Bagi sebagian orang, menjadi pembimbing haji di sela kesibukan sebagai dosen dan pemimpin kampus mungkin terasa melelahkan. Namun bagi Prof. Sukamta, justru di sanalah ia menemukan makna lain tentang ilmu, kepemimpinan, dan kehidupan.

Di kampus, ia membersamai mahasiswa bertumbuh lewat pendidikan.Di Tanah Suci, ia membersamai manusia bertumbuh lewat ibadah.

Baginya, haji bukan sekadar perjalanan lintas negara atau rangkaian ritual yang harus dituntaskan. Haji adalah perjalanan pulang menuju diri yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada sesama.

Karena itu, ia tidak hanya mendampingi jamaah agar mengetahui tata cara ibadah yang benar, tetapi juga membantu mereka memahami makna di balik setiap langkah yang dijalani.

“Haji bukan hanya tentang pernah sampai di Makkah, tetapi tentang bagaimana seseorang pulang sebagai manusia yang lebih baik,” menjadi semangat yang kerap ia sampaikan kepada jamaah.

Dalam berbagai kesempatan, Prof. Sukamta mengajak jamaah merenungi filosofi ibadah haji.

Saat mengenakan ihram, manusia belajar bahwa seluruh atribut dunia pada akhirnya ditanggalkan. Jabatan, gelar, status sosial, dan kemewahan melebur dalam dua lembar kain sederhana.

Saat thawaf mengelilingi Ka’bah, manusia diingatkan bahwa hidup seharusnya tidak berpusat pada ego dan kepentingan diri, melainkan berputar mengelilingi kehendak Allah.

Ketika menjalani sa’i, jamaah belajar dari keteguhan Siti Hajar bahwa pertolongan Allah hadir melalui ikhtiar yang tidak pernah berhenti.

Sementara di Arafah, jutaan manusia berdiri tanpa sekat dan perbedaan. Semua sama di hadapan Tuhan, membawa doa, harapan, dan pengakuan atas kelemahan diri.

Lalu ketika melontar jumrah, menurutnya, manusia sedang belajar melawan sisi-sisi buruk dalam dirinya sendiri — kesombongan, kemarahan, kerakusan, dan cinta dunia yang berlebihan.

“Kalau filosofi itu benar-benar dipahami, maka haji tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual, tetapi berubah menjadi cara hidup,” tuturnya.

Di balik pengabdian tersebut, tersimpan pula sebuah mimpi pribadi yang terus ia rawat bersama keluarga: menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas namun tetap terjangkau bagi masyarakat luas.

Gambar 1. Prof Sukamta dan penulis

Ia berharap suatu hari dapat berdiri rumah sakit atau klinik yang tidak hanya modern dan bermutu, tetapi juga ramah bagi masyarakat kecil.

Bagi Prof. Sukamta, cita-cita itu bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Mimpi tersebut justru lahir dari pelajaran besar yang ia temukan selama mendampingi perjalanan haji.

Menurutnya, kemabruran tidak selesai ketika seseorang menuntaskan thawaf wada’, lalu pulang membawa oleh-oleh dan cerita perjalanan. Kemabruran justru mulai diuji ketika kembali ke tengah masyarakat.

Apakah setelah haji seseorang menjadi lebih jujur.Lebih peduli.Lebih ringan membantu orang lain.Dan lebih menghadirkan manfaat.

Dari jutaan manusia yang berkumpul di Arafah tanpa pembeda, ia melihat pelajaran besar tentang kemuliaan manusia. Bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat, termasuk dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Karena itu, baginya membangun rumah sakit atau klinik yang berkualitas namun tetap terjangkau adalah bagian dari menerjemahkan nilai-nilai haji ke dalam kehidupan nyata.

“Jika haji mendekatkan manusia kepada Allah, maka haji juga harus mendekatkan manusia kepada persoalan manusia,” ujarnya.

Ia percaya, tanda haji mabrur bukan terletak pada gelar yang bertambah di depan nama, melainkan pada manfaat yang semakin luas setelah seseorang pulang dari Tanah Suci.

Kepada jamaah haji Indonesia tahun 2026, khususnya dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Sukamta menitipkan pesan sederhana namun mendalam:

Jangan jadikan haji sekadar perjalanan yang selesai di bandara.Jangan jadikan haji hanya kumpulan foto dan kenangan.

Pahami makna setiap rukun, wajib, dan sunnah haji, lalu bawa pulang menjadi akhlak dan keputusan hidup sehari-hari.

Biarkan ihram mengajarkan kesederhanaan.Biarkan thawaf mengajarkan arah hidup.Biarkan sa’i mengajarkan kerja keras.Biarkan Arafah mengajarkan kerendahan hati.Dan biarkan jumrah mengajarkan keberanian melawan diri sendiri.

Sebab pada akhirnya, haji yang mabrur akan terlihat dari perubahan kecil yang dirasakan orang-orang di sekitar.

Dari kejujuran dalam pekerjaan.Dari kelembutan dalam memimpin.Dari keberanian menolong sesama.Dan dari karya-karya yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik.

Di antara ruang kuliah, ruang rapat, dan lorong-lorong Tanah Suci, Prof. Dr. H. Sukamta tampaknya sedang menempuh satu perjalanan yang sama: mempertemukan ilmu, ibadah, dan pengabdian dalam satu tujuan — menjadi manusia yang semakin bermanfaat bagi sesama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image