Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fadhla Annisa

Mengapa Kejujuran Justru Dijauhi? Belajar dari Cerpen Karya Idrus

Sastra | 2026-05-21 21:05:36

Pernahkah kita merasa dijauhi karena terlalu jujur?

Ilustrasi Open

Di sekolah, kampus, organisasi, bahkan dunia kerja, orang yang berbicara tentang apa pun sering dianggap terlalu blak-blakan. Mereka dinilai tidak pandai menjaga perasaan, sulit menyesuaikan diri, atau membuat suasana menjadi tidak nyaman. Sebaliknya, mereka yang pandai berbasa-basi dan mengikuti keadaan justru lebih mudah diterima.

Fenomena semacam ini ternyata sudah lama dibicarakan dalam sastra Indonesia. Salah satunya melalui cerpen Jalan Lain ke Roma karya Idrus. Cerpen tersebut mengisahkan tokoh bernama Open, seorang laki-laki yang sejak kecil diajarkan untuk selalu berkata jujur. Bahkan namanya berasal dari kata Belanda openhartig , yang berarti terbuka atau terus terang. Terbuka tumbuh menjadi sosok yang tidak suka berpura-pura. Ia selalu mengatakan apa yang menurutnya benar, meskipun sering kali terdengar pahit bagi orang lain.

Namun, kejujuran tidak membuat hidup Terbuka menjadi lebih mudah. Ia berpindah-pindah pekerjaan, mulai dari guru, penulis, hingga penjahit. Di mana pun ia berada, hasilnya tetap sama: Open gagal bertahan . Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan, melainkan karena lingkungan di sekitarnya tidak benar-benar siap menerima kebenaran. Orang-orang lebih nyaman dengan sikap yang aman, kata-kata manis, dan kebiasaan menjaga citra. Ketika Open berbicara terus terang, ia justru dianggap aneh, keras kepala, bahkan merepotkan.

Kisah tersebut terasa dekat dengan kehidupan saat ini. Di media sosial, lebih banyak orang memilih menampilkan kehidupan terbaik daripada menunjukkan kenyataan yang sebenarnya. Di lingkungan pertemanan, orang yang terlalu jujur sering dicap “jutek” atau “tidak enakan”. Sementara di dunia kerja, mereka berani mengkritik kadang-kadang dianggap mengganggu kenyamanan bersama.

Kita hidup di tengah budaya yang sering kali lebih menghargai kepura-puraan dibandingkan ketulusan. Selama seseorang terlihat ramah dan menyenangkan, orang lain tidak terlalu peduli apakah sikap itu sungguh-sungguh tulus atau sekadar pencitraan. Sebaliknya, orang yang jujur justru diminta untuk lebih menjaga ucapan dan menyesuaikan diri.

Di sinilah letak kritik sosial Idrus. Melalui tokoh Open, Idrus menunjukkan bahwa masyarakat sering memuji kejujuran sebagai nilai moral, namun belum tentu siap menghadapi orang yang benar-benar jujur. Kita mengajarkan sejak kecil bahwa berkata jujur adalah hal yang baik. Namun ketika ada seseorang yang terlalu terbuka, kita malah merasa terganggu.

Barangkali karena itulah banyak orang akhirnya memilih untuk tidak terlalu jujur. Mereka belajar mengatakan hal-hal yang ingin didengar orang lain. Mereka memilih diam agar tidak menimbulkan masalah. Mereka belajar menjadi “aman”, padahal sebenarnya harus menyembunyikan diri.

Lalu, apakah jujur memang tidak lagi berguna?

Tentu bukan itu maksudnya Idrus. Cerpen ini tidak mengatakan bahwa kejujuran adalah sesuatu yang salah. Idrus hanya menampilkan bahwa mempertahankan kejujuran memang tidak mudah. Selalu ada harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih tetap memegang prinsipnya.

Open mungkin gagal diterima oleh banyak orang. Namun, ia tidak pernah kehilangan dirinya sendiri. Dan di dunia tengah yang semakin terbiasa dengan kepura-puraan, mungkin orang-orang seperti Open justru semakin dibutuhkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image