Cinta dan Penghapusan Diri dalam Novel Maryam
Sastra | 2026-05-21 20:49:40Cinta sering dipahami sebagai ruang paling aman bagi seseorang untuk pulang. Namun kenyataannya, tidak semua cinta memberi rasa aman. Ada cinta yang perlahan meminta seseorang mengubah dirinya sendiri dan bukan sekadar belajar memahami pasangan, melainkan meninggalkan hal-hal yang selama ini membuatnya merasa utuh sebagai manusia.
Fenomena ini terasa dekat dengan kehidupan banyak orang sampai pada hari ini. Demi mempertahankan hubungan, seseorang mengubah cara berpikir, kebiasaan, lingkungan pertemanan, bahkan keyakinannya. Semua dilakukan atas nama cinta dan harapan sederhana: tetap diterima oleh orang yang dicintai .
Pergulatan semacam itu tergambar kuat dalam novel Maryam karya Okky Madasari. Tokoh Maryam hadir sebagai perempuan biasa yang hanya ingin hidup tenang bersama orang yang ia cintai. Ketika bertemu Alam, Maryam merasa menemukan tempat pulang. Ia merasa dipahami, didengar, dan tidak lagi sendiri.
Namun cinta yang datang padanya ternyata tidak sepenuhnya menghadirkan kebebasan. Agar semuanya diterima, Maryam perlahan diminta menjauh dari keyakinan yang sejak kecil ia pegang. Ia juga harus menjaga jarak dengan keluarga dan lingkungan lamanya. Semua berjalan pelan-pelan, seolah-olah pengorbanan itu merupakan sesuatu yang wajar dalam hubungan.
Di titik inilah novel Maryam terasa begitu relevan dengan realitas sosial saat ini. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa hubungan yang baik adalah hubungan yang dipertahankan dengan cara apa pun. Akibatnya, seseorang belajar mengalah terus-menerus, belajar diam, dan terbiasa menyesuaikan diri tanpa pernah bertanya apakah dirinya masih bahagia.
Tidak sedikit pula perempuan yang akhirnya terhenti cita-citanya karena pasangannya tidak menyukai pilihan hidup tersebut. Ada yang menjauh dari teman-temannya karena dianggap tidak cocok. Ada pula yang memaksakan diri menyukai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia sukai hanya agar dianggap pantas oleh orang yang dicintainya.
Perubahan-perubahan kecil itu sering kali terlihat sepele. Namun jika dilakukan terus-menerus, seseorang dapat kehilangan dirinya sendiri tanpa disadari. Ia tidak lagi hidup berdasarkan apa yang diyakininya, melainkan berdasarkan apa yang diharapkan orang lain.
Maryam mengalami kehilangan itu. Setelah berusaha menjadi sosok yang diinginkan oleh orang-orang di sekitarnya, ia justru tetap kehilangan banyak hal. Ia kehilangan keluarganya, kehilangan keyakinannya, dan pada akhirnya kehilangan cinta yang selama ini diperjuangkan.
Barangkali itulah bagian yang paling menyakitkan dari kehilangan diri sendiri. Seseorang tidak hanya kehilangan orang yang dicintainya, tapi juga kehilangan tempat untuk kembali. Sebab ketika identitas perlahan dihapus demi diterima orang lain, yang tersisa hanyalah rasa asing terhadap diri sendiri.
Oleh karena itu, cinta seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan jati diri seseorang. Hubungan yang sehat bukan hubungan yang memaksa seseorang menjadi orang lain demi diterima. Cinta yang sehat justru memberi ruang bagi dua orang untuk tumbuh tanpa kehilangan dirinya masing-masing.
Pada akhirnya, mencintai tidak seharusnya berarti menghapus diri sendiri. Sebab cinta yang baik tidak meminta seseorang meninggalkan siapa dirinya, melainkan menerima dan bertumbuh bersama apa adanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
