Hikayat Nabi Ismail
Agama | 2026-05-21 05:42:09Abdul Hadi tamba.
Hikayat Nabi Ismail.
Dalam perspektif pandangan kami kisah Nabi Ismail adalah puncak dari konsep mahabbah (cinta tertinggi kepada Allah) dan taslim (penyerahan diri mutlak).
Air mata dan keharuan dalam peristiwa ini bukan sekedar tangisan kesedihan, melainkan manifestasi spiritual dari penyaksian keagungan Ilahi.
Peristiwa ini mendasari syariat kurban yang bermakna mengorbankan ego (hewan) demi mendekatkan diri kepada Allah.
Sumber Dalil dalam Al-Qur'an.
Kisah dialog yang mengharukan serta kepasrahan Nabi Ismail diabadikan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102-103:
"Maka tatkala anak itu sampai pada umur yang sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
'Wahai anakku !
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu !
Ia menjawab:
'Wahai ayahku !
Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;
insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'.
" (QS. Ash-Shaffat: 102).
Pada ayat selanjutnya, Allah berfirman:
"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya)."
(QS. Ash-Shaffat: 103).
Hadis Pendukung
Para ulama ahli hikmah merujuk pada keteladanan dan keikhlasan Nabi Ismail yang tergambar dalam riwayat-riwayat (at-Tsar) mengenai kata-kata penyerahan dirinya.
Meskipun Nabi Ibrahim menangis terharu saat memegang pisau, Nabi Ismail tetap meminta agar diikat kuat agar tidak meronta dan baju ayahnya disingkapkan agar tidak terkena percikan darah.
Nabi Ismail juga berpesan, "Palingkanlah wajahmu agar engkau tidak merasa kasihan kepadaku.
" (HR. Ibnu Jarir dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk).
Hal ini menunjukkan keimanan yang teguh di mana cinta kepada Sang Pencipta mengalahkan naluri kemanusiaan.
Pandangan dan Fatwa Ulama Muktabar (Sufi)
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani (Fathul Rabbani):
Menyatakan bahwa peristiwa kurban mengajarkan seorang hamba untuk menyembelih "nafsu kehewanan" atau ego duniawi (keinginan selain Allah) di dalam hatinya.
Ketika seseorang berhasil menundukkan nafsunya demi perintah Tuhan, saat itulah ia mencapai derajat keridaan tertinggi.
Imam Al-Ghazali (Ihya 'Ulumuddin):
Dalam konteks ibadah kurban, beliau menekankan bahwa pisau yang diletakkan di leher adalah simbol mematikan sifat-sifat tercela (seperti kesombongan dan ketamakan).
Tangisan Nabi Ibrahim dan Ismail dimaknai sebagai titik leburnya rasa cinta kepada selain Allah (fana').
Ibnu 'Arabi (Fushush al-Hikam):
Memandang penyerahan diri Ismail sebagai perwujudan kepasrahan seorang hamba yang murni.
Pengorbanan nyawa adalah tebusan cinta hakiki, di mana cinta Ilahi menuntut penyerahan total atas segala hal yang dicintai di dunia.
Kisah agung ini menjadi teladan abadi bagi setiap Muslim bahwa ujian terberat dalam hidup adalah menaklukkan ego demi cinta kepada Allah SWT.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
