Jika Aku Mati, Kuharap Jangan Ada Penyesalan
Agama | 2026-05-22 05:41:33
Setiap orang tentu mengetahui bahwa usia memiliki batas, tubuh akan melemah, lalu pada waktunya kematian datang tanpa bisa ditolak. Rumah yang dibangun dengan susah payah akan ditinggalkan, jabatan yang dipertahankan dengan penuh perjuangan akan dilepaskan, harta yang dikumpulkan bertahun-tahun akan berpindah tangan, dan semua yang selama ini dianggap membanggakan akhirnya akan ditinggalkan.
Tidak ada manusia yang merasa dirinya akan hidup selamanya, semua mengetahui bahwa dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat menetap. Kesadaran tentang kematian sebenarnya bukan sesuatu yang asing, melainkan hadir dalam pengalaman sehari-hari, dalam kabar duka yang datang tiba-tiba, dalam kepergian orang-orang terdekat, dan dalam kenyataan bahwa waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Ironisnya, mengapa kesadaran yang begitu melekat itu sering tidak mampu mengubah cara hidup manusia? Mengapa seseorang yang tahu bahwa semua akan ditinggalkan tetap menghabiskan seluruh tenaga terbaiknya hanya untuk urusan dunia? Mengapa hati begitu mudah gelisah ketika kehilangan harta, tetapi tetap tenang ketika kehilangan kedekatan dengan Rabb Sang Pencipta? Mengapa masa depan dunia direncanakan dengan sangat rinci, sementara nasib setelah kematian justru jarang benar-benar dipikirkan?
Seharusnya, kesadaran bahwa hidup ini sementara melahirkan kehati-hatian dalam melangkah. Seharusnya, kepastian tentang kematian membuat manusia lebih serius menyiapkan bekal yang akan dibawa pulang, yang sering terjadi justru sebaliknya, dunia diperlakukan seolah tujuan utama, sedangkan akhirat hanya menjadi perhatian di sela-sela kesibukan.
Salah satu sebab paling mendasar mengapa hal itu terjadi adalah karena dunia menghadirkan hasil yang bisa dilihat dengan segera, sedangkan akhirat menuntut keyakinan atas sesuatu yang belum tampak. Ketika seseorang bekerja keras, hasilnya dapat langsung dirasakan melalui penghasilan, pengakuan, atau kenyamanan hidup. Sebaliknya, shalat yang khusyuk, taubat yang sungguh-sungguh, dan kesabaran dalam menjaga ketaatan tidak selalu menghadirkan hasil yang langsung terlihat oleh mata. Karena itulah banyak orang lebih mudah memberi perhatian penuh pada urusan dunia daripada urusan akhirat.
Manusia sering terjebak pada perasaan aman yang semu. Usia yang masih muda, tubuh yang masih sehat, dan rutinitas yang berjalan normal membuat banyak orang merasa bahwa waktu masih panjang. Kematian dipahami sebagai kepastian, tetapi sering dianggap sebagai sesuatu yang masih jauh dari diri sendiri. Akibatnya, kebaikan mudah ditunda, dosa dianggap masih bisa diperbaiki nanti, dan ibadah sering menunggu waktu luang.
Keberhasilan dunia lebih mudah mendapat penghargaan dan pujian, sedangkan kesungguhan dalam ibadah sering dianggap urusan pribadi yang tidak mendesak. Seseorang dipuji karena kariernya, hartanya, atau pencapaiannya, tetapi jarang diperingatkan ketika shalatnya mulai lalai. Lama-kelamaan, ukuran keberhasilan pun bergeser, yang dianggap penting adalah apa yang terlihat oleh manusia, bukan apa yang bernilai di hadapan Allah.
Manusia baru benar-benar menyadari kekeliruannya ketika kesempatan telah berakhir. Pada saat kematian datang, yang paling disesali bukan rumah yang belum sempat dibangun, bukan jabatan yang belum berhasil diraih, dan bukan pula harta yang belum terkumpul. Yang paling menyakitkan justru adalah kesadaran bahwa begitu banyak kesempatan untuk beribadah pernah hadir, tetapi disia-siakan, begitu banyak panggilan Allah yang datang, tetapi dijawab dengan penundaan, dan begitu banyak waktu yang seharusnya menjadi bekal pulang justru habis untuk sesuatu yang akhirnya ditinggalkan.
Keadaan itulah yang digambarkan Allah dalam firman-Nya: “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja ” (QS. Al-Mu’minun: 99–100).
Ayat ini dalam konteksnya menggambarkan penyesalan orang-orang kafir yang menolak kebenaran hingga kematian datang menjemput. Namun pelajaran yang terkandung di dalamnya berlaku bagi seluruh manusia, termasuk orang beriman (az-Zuhaili, 2015), karena kematian selalu menghadirkan penyingkapan yang tidak lagi bisa dibantah. Pada saat itu, manusia tidak meminta hartanya dikembalikan, tidak meminta jabatannya dipertahankan, dan tidak meminta seluruh kenikmatan dunia dihadirkan. Yang diminta hanyalah satu hal, yaitu kesempatan untuk kembali ke dunia, agar dapat memperbaiki apa yang dahulu ditinggalkannya.
Ketika masih hidup di dunia begitu sibuk menjaga nama baik di hadapan manusia, tetapi lupa menjaga dirinya di hadapan Allah, begitu takut kehilangan pekerjaan, tetapi tidak takut kehilangan ampunan dan pahala. Begitu cemas terhadap masa depan keluarga, tetapi lalai memikirkan nasibnya berdiri di hadapan Rabb-nya.
Padahal kematian tidak hanya menimpa mereka yang sudah tua, dan tidak pula hanya mendatangi mereka yang sakit. Kematian juga datang kepada orang yang tampak sehat, yang pagi harinya masih tertawa, yang masih menyusun rencana untuk esok hari, yang masih berkata “nanti saya akan berubah,” Karena itu, menunda-nunda ketaatan merupakan sikap yang sangat berisiko, karena kematian datang tanpa menunggu kesiapan, tanpa melihat usia, tanpa memberi ruang untuk berkata, “beri saya waktu sedikit lagi.”
Mungkin yang perlu diperbaiki pertama kali adalah cara memandang ketaatan. Banyak orang merasa bahwa taat berarti kehilangan banyak kenikmatan, seolah-olah menjauhi maksiat adalah bentuk penderitaan dan menahan diri dari yang haram adalah kerugian. Padahal menjaga ketaatan bukan berarti menolak kenikmatan, melainkan menunda kenikmatan menuju bentuk kenikmatan yang lebih sempurna. Menundukkan pandangan bukan kehilangan, tetapi cara menjaga hati agar layak menerima sesuatu yang lebih indah. Menjaga kehormatan bukan penderitaan, melainkan investasi menuju kemuliaan yang lebih abadi. Karena itu bisa saja seseorang perlu meyakinkan dirinya dengan berkata, “aku tidak sedang menyiksaku dengan ketaatan, tapi aku sedang menukarnya dengan sesuatu yang jauh lebih baik, sesuatu yang jauh lebih nikmat dan sesuatu yang tidak akan ada penyesalan”.
Ketika cara pandang itu berubah, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai jalan keselamatan sekaligus jalan pulang. Shalat bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan dosa, tetapi pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya yang sangat menyayanginya, setiap sujud yang terasa berat sebenarnya sedang membangun istana di surga, setiap air mata taubat sejatinya sedang memadamkan kobaran api yang mengancamnya, dan setiap godaan maksiat yang berhasil ditinggalkan sedang ditukar dengan kenikmatan yang jauh lebih besar.
Jika demi cinta manusia sanggup berjuang luar biasa, mengapa demi cinta Allah yang lebih nikmat mudah menyerah? Jika demi seseorang yang belum tentu menjadi milik kita, kita rela memperbaiki diri, mengapa demi pasangan surga yang dijanjikan Allah kita sering menunda taat? Jika demi pujian manusia kita mampu menjaga penampilan, mengapa demi pandangan Allah kita sering lalai menjaga amal?
Mungkin masalahnya bukan kita tidak ingin surga dan bukan pula karena tidak takut neraka. Masalahnya adalah kita belum cukup menghidupkan gambaran keduanya dalam hati, kita belum benar-benar membayangkan keindahan surga dan belum cukup merindukanya, dan kita mengetahui dahsyatnya siksa neraka, tetapi belum sungguh-sungguh takut terhadapnya. Keindahan surga masih terasa seperti cerita yang jauh, dan siksa neraka belum cukup hadir sebagai ancaman yang nyata.
Maka beribadahlah dengan dua rasa, yaitu harapan dan rasa takut. Rindukanlah surga seakan itu istana yang sedang menunggu kepulanganmu, dan takutlah pada neraka seakan kobaran api itu sedang menunggu setiap kelalaianmu. Sebab dengan harapan akan rahmat Allah dan rasa takut terhadap azab-Nya, seorang hamba sedang berjalan menuju Rabb-nya.
Wallahu a’lam bish-shawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
