Rasa Aman Membuat Doa Melemah
Agama | 2026-02-24 10:54:35
Dalam kehidupan modern, manusia semakin terlatih untuk memaksimalkan kemampuan dirinya. Pendidikan yang tinggi, keterampilan yang terasah, jaringan yang luas, dan teknologi yang canggih memberi kesan bahwa hampir semua persoalan dapat diurai dengan logika dan perencanaan. Risiko bisa dihitung, peluang bisa dipetakan, dan strategi bisa disusun dengan presisi.
Kondisi tersebut perlahan-lahan bisa menumbuhkan perasaan “cukup” yang nyaris tidak terasa. Namun sayangnya perasaan cukup tersebut bukan cukup dalam arti syukur, melainkan perasaan cukup dalam arti merasa mampu. Mampu mengatur arah hidup, mampu mengelola usaha, mampu menyelesaikan persoalan. Bahkan kegagalan pun sering dianggap sebagai bagian dari proses yang dapat diperbaiki dengan pendekatan yang lebih tepat.
Budaya profesionalisme dan kemandirian memperkuat pola ini. Seseorang dinilai dari kapasitasnya mengambil keputusan, dari ketegasannya mengendalikan situasi, dari kemampuannya berdiri tanpa bergantung pada orang lain. Ketergantungan dianggap kelemahan. Kemandirian dianggap kematangan.
Di tengah suasana seperti itu, hubungan batin dengan Allah perlahan mengalami pergeseran yang halus. Doa tetap dipanjatkan, tetapi porsinya berubah. Doa hadir di awal acara resmi, di penutup pertemuan, atau di sela-sela rutinitas. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, keputusan sering lebih banyak ditentukan oleh perhitungan rasional daripada kesadaran akan ketergantungan kepada-Nya.
Yang menarik, keadaan ini jarang dipandang sebagai persoalan karena semuanya tampak berjalan baik, target tercapai, reputasi terjaga, dan kehidupan relatif stabil. Stabilitas memberi rasa aman, dan rasa aman sering membuat hati merasa cukup. Pada titik itu, doa tidak benar-benar ditinggalkan, tetapi intensitas kebutuhan terhadapnya tidak lagi sama. doa tetap dipanjatkan, namun tidak lagi menjadi sandaran utama, melainkan pelengkap dari usaha yang dianggap sudah memadai.
Doa cenderung memanjang ketika lapisan rasa aman itu mulai terganggu, keadaan mulai tidak terkendali, saat sakit, saat usaha terguncang, saat rencana berantakan, saat ketidakpastian meningkat. Pada saat rapuh, manusia kembali berhadapan dengan fakta bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Dalam keadaan rapuh seperti itu, rasa membutuhkan berdoa kembali hadir. Orang itu kembali tersadarkan bahwa ada wilayah kehidupan yang tidak bisa dipastikan oleh kemampuan dan perhitungan manusia semata.
Fenomena ini sangat manusiawi. Hampir semua orang mengalaminya dalam kadar tertentu. Namun jika direnungkan, di situlah letak ujian yang tidak selalu disadari, ujian rasa cukup. ujian ketika keberhasilan membuat seseorang merasa menjadi pusat kendali.
Padahal dalam ajaran Islam, doa bukan sekadar permintaan ketika terdesak. Doa adalah bentuk pengakuan bahwa manusia pada hakikatnya fakir di hadapan Allah. Doa adalah ibadah yang menegaskan posisi hamba dan Rabb-nya. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban). Bahkan dalam riwayat lain, Aisyah R.A mengatakan, “Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya”.
Pesan ini bukan sekadar anjuran memperbanyak permintaan, tetapi mengajarkan cara memandang diri. Bahwa sekecil apa pun kebutuhan, tetap berada dalam lingkup kekuasaan Allah. Bahwa kemampuan manusia bukan sumber utama, melainkan sarana yang Allah SWT berikan.
Ketika seseorang membiasakan diri meminta dalam perkara kecil, sejatinya orang itu sedang melatih kesadaran bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar dimiliki secara mutlak. Meskipun orang itu tetap bekerja, tetap menyusun strategi, tetap berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun di dalam hatinya ada pengakuan bahwa semua bergantung kepada izin-Nya.
Seseorang boleh saja menyusun rencana usaha dengan matang, menghitung risiko, dan menyiapkan strategi terbaik. Namun ketika sebelum melangkah terlebih dahulu “berkonsultasi” dengan Allah melalui doa, ada perbedaan yang tidak kasat mata. Profesionalisme tetap dijalankan, perhitungan tetap digunakan, tetapi hati tidak lagi merasa berjalan sendirian.
Menariknya, ketenangan itu tidak selalu bergantung pada hasil yang sesuai rencana. Jika hasilnya berbeda dari harapan, kekecewaan mungkin tetap ada, tetapi tidak disertai kehampaan. Ada kepuasan batin karena sejak awal keputusan telah melibatkan Dzat Sang Pencipta dalam doa. Yang dicari bukan hanya keberhasilan, melainkan keberkahan dan ridha-Nya. Di situlah doa menghadirkan ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh perhitungan rasional semata.
Pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang rencana yang berhasil dijalankan, melainkan tentang hati yang tetap tenang setelah segala ikhtiar diserahkan kepada-Nya. Dan ketenangan seperti itu hanya lahir ketika doa tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan menjadi bagian dari setiap keputusan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
