Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dr Drg Laelia Dwi Anggraini SpKGA

Belajar Memahami Iklim Makkah Agar Jamaah Tetap Sehat dan Khusyuk Beribadah

Agama | 2026-05-22 01:26:44

Di tengah jutaan jamaah yang memadati Kota Suci Makkah, ada satu hal yang hampir selalu menjadi cerita pertama para jamaah asal Indonesia: rasa kering yang begitu berbeda. Bibir pecah-pecah, kulit terasa tertarik, tenggorokan cepat haus, hingga tubuh yang mudah kehilangan cairan.

Menurut Djati Mardiatno, Pakar Geomorfologi dari Universitas Gadjah Mada yang juga pernah menjabat sebagai mantan Direktur Pusat Studi Bencana UGM dan mantan Direktur Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, kondisi itu sangat wajar karena jamaah Indonesia sedang menghadapi perbedaan iklim yang sangat ekstrem dibanding tanah air.

“Makkah berada di wilayah Jazirah Arab dengan kategori iklim gurun atau iklim arid. Ciri khasnya adalah curah hujan yang sangat rendah dan kelembaban udara yang juga sangat rendah,” jelasnya.

Jika di Indonesia kelembaban udara rata-rata bisa mencapai 80 persen, maka di Makkah kelembaban rata-ratanya hanya sekitar 25 persen. Perbedaan inilah yang paling kuat dirasakan tubuh jamaah ketika pertama kali tiba di Tanah Suci.

“Bukan hanya suhu panas yang terasa, tetapi kelembabannya sangat berbeda. Kulit menjadi cepat kering, bibir pecah-pecah, dan tubuh lebih mudah kehilangan cairan,” ungkapnya.

Pada siang hari, suhu di Makkah rata-rata berada di atas 40 derajat Celsius. Bahkan pagi hari pun masih berada di kisaran 30 derajat Celsius. Kondisi itu jauh berbeda dengan Indonesia, termasuk Yogyakarta, yang suhu paginya sekitar 24 derajat Celsius dan siangnya berkisar 33 derajat Celsius.

Karena itu, Prof. Djati mengingatkan jamaah agar tidak menunggu haus untuk minum. Ia justru menyarankan pola minum sedikit tetapi sering.

“Setiap sekitar 10 menit, minumlah satu sampai dua teguk air. Lebih baik sering buang air kecil daripada tidak bisa buang air kecil karena kekurangan cairan,” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar jamaah tidak terlalu sering mandi. Dalam kondisi udara gurun yang sangat kering, mandi berulang kali justru dapat memperparah kekeringan kulit.

“Cukup mandi sekali sehari. Setelah mandi, gunakan pelembab pada kulit tubuh dan pelembab bibir agar kulit tidak pecah-pecah,” katanya.

Di balik penjelasan ilmiah tersebut, Prof. Djati juga mengajak jamaah memahami bahwa bentang alam Arab Saudi memang sangat berbeda dengan Indonesia.

Sebagai ahli geomorfologi, ia menjelaskan bahwa batuan di Arab Saudi lebih banyak mengalami pelapukan fisik-mekanik akibat suhu panas dan kondisi kering. Akibatnya, tanah yang terbentuk sangat tipis dan tidak berkembang dengan baik.

“Bukit-bukit dan dataran di Saudi Arabia berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia, pelapukan banyak dibantu air hujan sehingga terjadi pelapukan kimia yang membuat material batuan menjadi lebih halus dan berkembang menjadi tanah subur,” jelasnya.

Gambar 1. Narasumber menjadi bagian dari KBIH Aisyiyah Yogyakarta Kloter 6 YIA

Perbedaan itulah yang membuat vegetasi di Arab Saudi tidak tumbuh sebaik di Indonesia. Pepohonan rindang dan tanaman hijau relatif lebih jarang ditemukan di kawasan gurun.

Meski demikian, Pemerintah Arab Saudi terus melakukan berbagai upaya penghijauan melalui rekayasa lingkungan. Di sejumlah kawasan, kini mulai tumbuh rumput dan tanaman perindang yang membantu mengurangi panas di area tertentu.

Menutup penjelasannya, Prof. Djati menyampaikan harapan sederhana namun penuh makna bagi seluruh jamaah haji Indonesia.

“Semoga jamaah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk, sehat, mampu melaksanakan rukun, wajib, dan sunnah haji dengan baik, lalu pulang menjadi haji yang mabrur,” tuturnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image