Bukan Cuma Kejar Nilai! Menilik Kembali Fondasi Nilai-Nilai Islam
Edukasi | 2026-07-08 20:55:26
Ujian selesai, lembar jawaban dikumpulkan, lalu nilai keluar. Bagi banyak pelajar dan mahasiswa, angka-angka itulah sesuatu yang akan menentukan kita di masa depan padahal angka nilai itu hanya salah satu ukuran hasil belajar, bukan tujuan akhir dari proses menuntut ilmu. Pelajar dan mahasiswa di zaman sekarang, masa-masa ujian saat ini kerap berubah menjadi ajang formalitas yang melelahkan. Mereka belajar serta menghafal dengan sistem kebut semalam yang hanya akan dituangkan pada kertas ujian, dan akan melupakannya dalam sekejap. Padahal esensi belajar begitu luas, bukan karena validasi untuk mendapat nilai A. Ketika kita melihat kembali para sejarawan Islam, kita akan menemukan perbedaan. Islam tidak akan memandang ilmu sebagai barang dagangan yang hanya bisa diukur lewat angka-angka.
Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam
Jika kita menilik dalam khazanah Islam, kita akan melihat bahwa pendidikan Islam tidak berhenti dalam selembar kertas atau angka nilai di rapor. Hakikatnya adalah untuk membentuk manusia yang berilmu serta berakhlak, bukan hanya menjadikan lulusan yang mampu menghafal materi tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat ini tercermin pada lima istilah, yaitu tarbiyah (proses untuk membina karakter), ta’lim (untuk mengajarkan ilmu pengetahuan), ta’dib (untuk membentuk etika serta tata krama), tadris (untuk menekankan strategi belajar yang efektif), dan tazkiyyah (untuk menyucikan jiwa dari sifat tercela)(Susanti & Harahap, 2025). Tujuan pendidikan Islam yaitu untuk membentuk akhlak atau etika yang untuk memenuhi perintah Allah, bukan hanya untuk memperoleh kebahagiaan di dunia(Zakiah & Nursikin, 2024). Fungsi utama pendidikan Islam yaitu manusia mampu menjalankan dua peran sekaligus yaitu sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dan khalifah fil ardh (pemimpin di muka bumi)(Tarigan et al., 2024).
Urgensi Adab dan Lurusnya Niat
Untuk menjalankan peran besar sebagai khalifah fil ardh maka ada salah satu kondisi yang semakin terkikis dalam pendidikan saat ini, yaitu hilangnya adab. Untuk mengembalikan nilai-nilai yang mulai terkikis maka kita bisa mengikuti pada literature klasik seperti karya Imam Az-Zarnuji. Dalam hal ini beliau menjelasakan bahwa pentingnya beradab sebelum berilmu, di dalammya beliau menegaskan bahwa pentingnya niat. Niat menjadi hal utama dalam menuntut ilmu, karena ilmu bisa menghilangkan kebodohan dan dengan niat itu kita juga bisa mencari ridho Allah(Widura et al., 2021), bukan hanya untuk sesuatu hal duniawi atau hanya dalam selembar nilai-nilai yang cuma ada di dunia. Ketika kita sudah meniatkan dengan benar, dengan yang lurus maka nilai akademis hanyalah bonus, bukan tujuan utama yang dapat membuat seseorang pusing maupun bingung sampai ia berbuat curang dalam belajar.
Setelah meluruskan niat dengan benar, maka langkah selanjutnya adalah proses belajar yang dilakukan dengan benar atau sering kita sebut yaitu adab ketika belajar. Para ulama sudah menjelaskan banyak sekali adab-adab yang harus diperhatikan yaitu keseriusan, ketekunan, serta cita-cita yang luhur. Saat ini banyak sekali orang yang mengandalkan belajar untuk cita-cita yang luhur. Dengan adanya cita-cita tersebut membuat seorang murid maupun mahasiswa termotivasi untuk belajar, karena motivasi itulah mereka menjadi serius dan tekun dalam belajar dengan tujuan agar cita-cita yang mereka inginkan tercapai dan dapat bermanfaat untuk orang lain(Husna & Fahmi, 2025).
Adab Kepada Pendidik (Guru)
Selain itu, adab kepada guru atua dosen juga tidak kalah penting. Adab inilah terkadang juga sering terlupakan oleh seorang pembelajar. Dalam khazanah Islam, pendidik sebagai pewaris para Nabi karena seorang pendidik harus berpedoman pada konsep amar ma’ruf nahi munkar(Zamzam et al., 2023). Banyak sekali sebutan pendidik atau guru dalam Al-Qur’an, yaitu
1. Murabbi (seseorang yang mengajarkan agar pemahaman anak muridnya terus meningkat serta memperbaiki kepribadian anak muridnya menjadi lebih baik),
2. Mu’allim (seseorang yang mengajarkan ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta membimbing muridnya menuju kesempurnaan ilmu),
3. Mu’adib (seseorang yang mengajarkan adab maupun akhlak muridnya),
4. Mudarris (seseorang yang mengembangkan ilmu pengetahuan secara terus-menerus),
5. Mursyid (seseorang yang menjadi teladan dalam sikap dan perilaku dan membimbing dengan akhlak yang baik),
6. Ustadz (seseorang yang mengajarkan, mengarahkan, membimbing, membina anak muridnya.
Sikap Wara’ Di Tengah Integrasi Akademik
Selain itu, ada adab yang tidak kalah penting yaitu wara’ atau sikap berhati-hati menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat(Putri, 2022). Sikap ini harus dimiliki oleh semua penuntut ilmu. Di era digital, godaan untuk memperoleh nilai tinggi seperti plagiarism, penggunaan kecerdasan buatan (AI) tanpa etika, dan mencontek saat ujian semakin besar. Semua penuntut ilmu hanya ingin mendapat nilai sempurna yang pada akhirnya mereka akan mencari jalan pintas untuk mendapatkan nilai sempurna. Padahal nilai yang kita dapatkan secara jujur lebih baik dan lebih bermartabat. Sikap wara’ inilah yang menjaga integritas kita sebagai pembelajar.
Tawakal dan Indikator Keberkahan Ilmu
Ketika niat sudah lurus, proses belajar sudah benar, maka setelah itu yang harus diperhatikan adalah tawakal dengan semua yang sudah kita lakukan. Kita berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ada hikmah ketika kita tawakal kepada Allah, yaitu dapat meningkatkan ketenangan hati dan lebih menerima apa yang akan di dapat(Martoyo & Cinli, 2024). Dengan sikap inilah seorang murid maupun mahasiswa tidak mudah stress, depresi, atau merasa merendah karena melihat nilai yang tidak sesuai ekspetasinya.
Indikator keberkahan ilmu itu bukan karena mendapat nilai yang bagus, tetapi bagaimana ilmu itu berkah dan bermanfaat untuk lingkungan, masyarakat luas, bahkan sampai ia meninggal dunia. Ilmu yang berkah itu ilmu yang digunakan untuk mengubah peradaban menjadi lebih baik. Ada beberapa faktor agar ilmu yang diberikan menjadi berkah(Fatoni, 2025), yaitu
1. Ikhlas ketika meunutut ilmu
2. Mengamalkan serta mengajarkan ilmu
3. Menghormati seseorang yang telah mengajarkan ilmu
Hal tersebut agar ilmu yang telah dipelajari bermanfaat dan tidak akan terbuang sia-sia saat kita sudah mempelajarinya, sikap ini dinamakan tawadhu’ yaitu sikap rendah hati kepada ilmu dan sesama. Seorang murid yang tawadhu’, ia tidak akan sombong, akan menghargai pendapat oranglain. Sikap ini akan menjadikan seorang murid berkarakter dan beradab dimana pun dan kapan pun ia berada(Aini et al., 2026).
Kesimpulan
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukan semata-mata ditentukan oleh angka nilai diatas kertas, melainkan bagaimana karakter yang terbentuk saat proses belajar. Nilai akademik memanglah penting, tetapi ia bukan tujuan akhir. Pendidikan Islam mengajarkan bahwa sejatinya ilmu itu untuk mendekatkan diri kepada Allah (Taqarrub). Dengan tujuan untuk melahirkan penuntut ilmu yang memiliki akhlak yang mulia serta memberi manfaat bagi sesama. Ketika niat sudah diluruskan, adab selalu dijaga, dan ilmu senantiasa diamalkan, maka keberhasilan tidak lagi diukur dari tinggi rendahnya nilai, melainkan dari sejauh mana ilmu itu yang menghadirkan keberkahan dalam kehidupan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Aini, N. S. N., Aziz, H. A., Nurhakim, R., Latifah, L., & Fakhiroh, S. Z. (2026). INTEGRASI ILMU DAN AKHLAK DALAM PERSPEKTIF KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALIM: IMPLIKASI BAGI PENDIDIKAN KARAKTER. At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian Dan Pendidikan Agama Islam, 3, 171–182. https://journal.staittd.ac.id/index.php/at/article/view/827
Fatoni, I. (2025). TAKLIM MUTA’ALIM: MENANAMKAN ADAB DAN KEBERKAHAN DALAM PENDIDIKAN. Al ‘Ulum: Jurnal Pendidikan Islam, 5, 73–81.
Husna, Q. A., & Fahmi, M. (2025). KONSEP PENDIDIKAN ADAB MENURUT IMAM ZARNUJI DALAM KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALLIM. 10.
Martoyo, M., & Cinli, C. (2024). Tawakal Dalam Menuntut Ilmu. Jurnal Dakwah Dan Sosial Humaniora, 5. https://journal.staiypiqbaubau.ac.id/index.php/Tabsyir/article/download/1315/1430
Putri, A. (2022). KONSEP ADAB MENUNTUT ILMU MENURUT KITAB TANBIHUL MUTA’ALLIM DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA. Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, 12(01). https://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/idaroh/article/view/12254?__cf_chl_f_tk=ya63yCvukhBwU3Wvl2PT6IRLqwaqQ_r3ZCvsWOEm34Q-1783259946-1.0.1.1-r5wnTCqyc6Bb6QkCEOqna5GKUZ6TgyXOq0fjBp35JV0
Susanti, E., & Harahap, N. (2025). HAKIKAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM: TARBIAH,TA’LIM, TA’DIB, TADRIS DAN TAZKIYYAH. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosia, 12, 3023–3034. https://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/nusantara/article/view/19681/11379
Tarigan, M., Safitri, A. H., Lubis, S. K. S., Hermaini, U., & Rozzaq, B. K. (2024). Manusia Sebagai Abdullah dan Manusia Sebagai Khalifah Fil Ardh. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4, 16974–16980.
Widura, S. W., Mubarok, A., Yusuf, A., & Mohtarom, A. (2021). Telaah Relevansi Konsep Menuntut Ilmu dalam Kitab Ta’lim Muta’allim dengan Kepribadian Santri. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam, 3, 49–60. https://e-journal.stai-iu.ac.id/index.php/tabyin/en/article/view/707/311
Zakiah, S. S., & Nursikin, M. (2024). Konsep Pendidikan Nilai dalam Filsafat Pendidikan Islam: Perspektif K.K. Hasyim Asy’ari dan Buya Hamka. Afeksi: Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 5, 347–361. https://pdfs.semanticscholar.org/4be9/44e6969816eeea1482d57fe6f4351df4bffc.pdf
Zamzam, A. F., Izzati, A. N., & Prabowo, M. I. (2023). Peran Guru dalam Pendidikan Islam Perspektif Al- Qur ’ an dan Hadits. 7, 251–259.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
