Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indeska Putra

Pengamen Anak: Gejala Kemiskinan Struktural yang Butuh Solusi

Rubrik | 2026-07-08 20:35:37

Dalam ilmu sosiologi keluarga, pengertian anak tidak hanya merujuk pada individu berdasarkan usia biologis, akan tetapi, anak juga sebagai pemilik posisi sosial, peran, dan status dalam struktur keluarga serta masyarakat. Anak juga memiliki beberapa fungsi dalam keluarga, Pertama, anak sebagai agen sosialisasi primer, dimana seorang anak dalam keluarga berperan menerima dan meneruskan nilai dan norma yang ada dalam sebuah keluarga. Kedua, pemeliharaan ikatan keluarga, dimana anak menjadi penghubung antargenerasi dan sebagai penguat kohesi sosial. Ketiga, anak juga berkontribusi dalam merawat anggota keluarga yang berusia lanjut. Keempat, anak sebagai pelanjut keturunan keluarga.

source: https://news.republika.co.id/berita/mk9to9/satgas-pa-jangan-beri-uang-pada-anak-jalanan

Selain itu, seorang anak juga memiliki beberapa hak yang harus dipenuhi oleh keluarganya, seperti hak perlindungan (protection), dimana anggota keluarga memberikan kasih sayang, menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang seorang anak. Selain itu, seorang anak juga memiliki hak atas pemenuhan dalam bidang pendidikan, kesehatan, memiliki standar hidup yang layak serta rekreasi. Dalam bidang pendidikan, seorang anak memiliki kewajiban wajib belajar selama 9 tahun, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Dalam bidang kesehatan, seorang anak memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Seorang anak juga selayaknya mendapatkan standar hidup yang layak seperti timpat tinggal, tempat bermain, kebutuhan dasarnya seperti sandang, papan dan pangan telah terpenuhi. Dalam bidang rekreasi, seorang anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan tentu membutuhkan waktu dan tempat yang mendukung tumbuh kembang mereka. Seorang anak harus memiliki kebebasan untuk bermain dengan teman sebayanya agar proses sosialisasi mereka dengan lingkungan sekitar juga ikut berjalan.

Akan tetapi, tidak semua anak beruntung untuk memperoleh semua hak dasarnya. Banyak anak yang masih dalam tahap sekolah diharuskan berhenti sekolah karena tidak memiliki biaya, dan dipaksa bekerja oleh orang tuanya. Banyak anak yang memilih jalan pintas menjadi pengamen di jalanan. Pengamen anak biasanya berkeliling disepanjang pertokoan dan tempat makan. Berbekal sebuah Gitar, Ukulele dan kadang membawa speaker mereka menjajakan suara dan belas kasih dari orang-orang yang mereka temui. Terkadang mereka mengamen secara sendiri, ada juga yang berkelompok. Bahkan ada juga yang mengamen bersama orang tuanya.

Femonema anak yang mengamen dengan orang tuanya sudah cukup banyak terjadi di Kota Padang. Di sekitar daerah Pasar Baru, Kecamatan Pauh, setiap malam sering ditemui ibu-ibu beserta beberapa anak-anaknya yang masih kecil membawa microphone dan menarik speaker sambil bernyanyi disepanjang jalan Pasar Baru. Sambil bernyanyi, anak tersebut akan menyodorkan ember plastik sebagai tempat menaruh uang bagi orang-orang yang tergerak hatinya untuk memberikan sedikit rezekinya. Tak jarang mereka hanya mendapatkan ucapan terimakasih dengan anggukan kepala dari orang sekitar. Kemudian, mereka kembali melanjutkan mengamen ke tempat yang lain. Sebagai refleksi, melihat anak-anak mengamen apakah kita harus memberikan uang? Tentu jika kita terbiasa memberikan uang kepada mereka, maka kebiasaan mengamen tersebut akan dilanggengkan dan terus berulang menjadi mata pencaharian yang menjanjikan.

Jika kita renungkan, fenomena pengamen anak bukan sekedar masalah gangguan ketertiban, ini merupakan gejala nyata dari kemiskinan struktural yang terjadi dalam keluarga mereka. Anak-anak terpaksa harus ikut bekerja mencari nafkah karena tekanan ekonomi di dalam rumah. Akar masalahnya tidak selalu berasal dari kemalasan atau ketidakberdayaan orang tua, disisi lain mereka turun ke jalan karena sistem yang telah gagal menyediakan akses terhadap mereka seperti dalam bidang pendidikan yang layak dan inklusif, lapangan kerja bagi orang tua dan anak muda, jaminan kesehatan, serta perlindungan hukum dan jaminan sosial bagi kelompok marginal seperti mereka. Kemiskinan ini bersifat turun-temurun (diwariskan), jika tidak ditanggulangi maka akan terus berulang, merampas masa depan mereka.

Apa solusi konkret yang bisa ditawarkan? Tentu dimulai dari hal yang paling mendasar yaitu keluarga. Keluarga harus bisa menjalankan fungsinya kembali seperti fungsi ekonomi, dimana orang tua harus memenuhi kebutuhan dasar anaknya. Fungsi afeksi, dimana keluarga harus memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dengan membiarkan bahkan mengajak mereka turun mengamen ke jalan sampai larut malam, bahkan sampai kehujanan tentu telah melanggar hak dasar mereka. Cara lainnya yang bisa diterapkan adalah dengan memperkuat jaringan pengamanan sosial keluarga, terutama keluarga rentan. Memberikan bantuan sosial yang tepat sasaran dan berbasis data perlu dilakukan, agar menyasar mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan. Karena selama ini masih sering ditemui keluarga yang seharusnya mendapatkan bantuan sosial tidak mendapat bantuan, malahan keluarga yang hidupnya mampu yang terdata menerima bantuan tersebut. Pendataan kembali keluarga rentan ini sangat perlu dilakukan agar menyasar keluarga yang benar-benar membutuhkan uluran tangan.

Selain itu, sangat diperlukan membenahi sistem yang sudah ada supaya bisa menjangkau mereka yang terpinggirkan. Dimulai dari membangun sistem pendidikan yang inklusif, biaya yang terjangkau, memberikan beasiswa, serta sekolah harus dilengkapi dengan fasilitas yang memadai sehingga mereka bisa mengakses pendidikan yang layak, bisa mengembangkan diri serta keterampilannya. Selain itu, penegakan hukum dan perlindungan terhadap anak-anak juga perlu dilakukan dan diperkuat kembali. Hak-hak dasar mereka sebagai seorang anak perlu diperjuangkan dan ditegakkan. Pentingnya sosialisasi terkait larangan eksploitasi anak sehingga akan menimbulkan kesadaran bersama bahwa anak-anak belum sepatutnya terlibat dalam kegiatan ekonomi keluarga. Solusi lainnya dengan menciptakan lapangan kerja bagi orang tua, bisa melalui pelatihan keterampilan seperti memasak, menjahit, merajut, dan sebagainya yang bersifat kreatif dan inovatif. Setelah mereka dinilai layak, maka pemberian bantuan modal usaha perlu dilakukan agar keterampilan yang telah didapat bisa diaplikasikan. Atau bisa juga dengan jaminan penempatan kerja sesuai dengan keterampilan yang dimiliki.

Solusi terhadap fenomena anak pengamen tentu bukan hanya sekedar mengambil anak dari jalan kemudian membawa mereka ke panti dan tempat penampungan anak. Akan tetapi, sangat diperlukan membangun sistem yang memastikan keluarga mereka punya sumber daya dan sumber dana yang mencukupi untuk hidup layak, sehingga anak-anak mereka mendapatkan kesempatan belajar, bertumbuh dan berkembangan sama seperti anak-anak lainnya. Disinilah peran semua stakeholder diperlukan, baik pemerintah di tingkat pusat dan daerah, tokoh adat, masyarakat sekitar, tetangga, saudara serta pemiliki dunia usaha sangat krusial dalam merealisasikan solusi-solusi tersebut.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image