Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Diplomasi Mangkuk Retak dan Bidah Bubur Goreng

Sastra | 2026-01-28 14:01:55

Cerpen ini mengisahkan tentang perseteruan ideologis yang terjadi di kedai "Bubur Ayam Barokah" milik Cak Ri, sebuah tempat yang menjadi medan tempur antara kaum stirred-style (bubur diaduk) yang diwakili oleh Aris dan kaum un-stirred-style (bubur tidak diaduk) yang dijaga ketat oleh Satria. Ketegangan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini mendadak mengalami disruption dengan kedatangan Dimas, seorang pemuda yang membawa sekte kuliner baru bernama fried porridge atau bubur goreng. Kehadiran menu yang dianggap sebagai heresy atau bidah ini memicu clash of civilizations di dalam kedai, memaksa para penganut paham lama untuk menghadapi breakthrough yang menantang status quo.

Melalui narasi yang penuh dengan dinamika diplomasi di atas meja makan, cerpen ini menggambarkan bagaimana sebuah inovasi yang awalnya dianggap sebagai blasphemy justru menjadi game changer yang meruntuhkan tembok gatekeeping dan ego manusia. Dengan latar hiruk-pikuk Jakarta, kisah ini bukan sekadar tentang cara makan, melainkan sebuah metafora tentang toleransi, survival of the fittest di era modern, serta keberanian untuk keluar dari comfort zone demi merayakan keberagaman rasa.

Matahari baru saja menggeliat di ufuk Timur Jakarta, namun hawa panas sudah mulai terasa di kedai "Bubur Ayam Barokah" milik Cak Ri. Kedai sederhana itu bukan sekadar tempat makan; ia adalah medan tempur ideologi yang tak pernah padam. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai mengelupas, dua kubu besar sedang melakukan ritual pagi mereka dengan tensi tinggi.

Aris, seorang penganut setia aliran stirred-style, sedang sibuk menyatukan seluruh elemen di mangkuknya. Baginya, estetika adalah nomor dua; rasa yang menyatu adalah segalanya. Di seberangnya, Satria menatap Aris dengan pandangan penuh penghinaan. Satria adalah puritan sejati, penganut un-stirred-style yang menjaga kemurnian setiap topping di atas bubur putihnya agar tidak terjamah satu sama lain.

"Ris, melihat caramu makan itu membuat nafsu makanku drop. Itu bubur apa adonan semen? Benar-benar disgusting," cetus Satria sambil menyendok sedikit bubur tanpa merusak tatanan kacang kedelai di atasnya.

Aris tertawa mengejek, sendoknya masih berputar lincah menciptakan pusaran warna cokelat keruh dari kecap dan kaldu. "Ini namanya homogenitas rasa, Sat. Setiap suapan adalah harmoni. Kamu itu cuma makan bubur pakai cara yang ribet. Get a life, bung! Makan itu soal efisiensi rasa, bukan soal visual presentation yang kaku begitu."

"Harmoni katamu? Itu namanya penistaan tekstur!" balas Satria tak mau kalah. "Bubur itu seni. Ada hirarkinya. Kamu baru saja menghancurkan struktur krupuk yang seharusnya tetap crunchy dengan merendamnya di dalam cairan keruh itu."

Cak Ri, sang pemilik kedai, hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menuangkan teh hangat. "Sudah, sudah. Dari zaman Orde Baru sampai era artificial intelligence begini, kalian masih saja meributkan cara mengaduk mangkuk. Yang penting itu bayar," kelakarnya.

Namun, perdebatan itu mendadak terhenti. Suasana kedai yang bising oleh denting sendok tiba-tiba sunyi senyap ketika seorang pemuda berpakaian sporty masuk dengan langkah percaya diri. Ia membawa sebuah wadah plastik transparan berisi sesuatu yang tampak asing, namun aromanya menyengat gurih—aroma yang lahir dari proses Maillard reaction yang intens.

Pemuda itu duduk di pojok, lalu membuka tutup wadahnya. Aris dan Satria serentak menoleh, hidung mereka kembang kempis menghirup aroma yang tidak biasa. Itu bukan bubur encer yang biasa mereka kenal. Teksturnya padat, sedikit kecokelatan, dan memiliki bekas panggangan di tepiannya.

"Permisi, Mas. Itu... bubur apa ya? Kok kelihatannya agak solid?" tanya Aris, rasa penasarannya mengalahkan egonya sebagai penganut aliran aduk.

Si pemuda menoleh pelan, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang seolah-olah membawa wahyu baru. "Oh, ini? Ini fried porridge. Bubur goreng. Saya sudah lama meninggalkan perdebatan kuno kalian soal aduk atau tidak diaduk. Itu sudah obsolete."

Satria tersedak kerupuknya. "Bubur... digoreng? Kamu gila? Itu bidah dalam dunia per-buburan! Bagaimana mungkin sesuatu yang seharusnya lembut dan moist malah dipaksa bersentuhan dengan wajan panas?"

"Justru di situlah letak game changer-nya," jawab si pemuda tenang sambil menyendok bubur gorengnya yang berasap. "Ini bukan sekadar sarapan, ini adalah evolusi. New wave kuliner yang akan mengakhiri perang saudara kalian."

Keheningan yang mencekam menyelimuti kedai Cak Ri. Pernyataan pemuda itu—yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Dimas—bagaikan sebuah declaration of war terhadap tatanan sosial yang sudah mapan. Aris dan Satria, yang biasanya saling sikut, mendadak merasa memiliki musuh bersama. Sebuah anomali kuliner telah hadir di depan mata mereka, menantang status quo yang selama puluhan tahun hanya terbelah menjadi dua kutub.

"Evolusi katamu?" Satria memulai serangan balik, suaranya naik satu oktav. "Itu namanya over-engineering sebuah kesederhanaan. Bubur itu filosofinya adalah kelembutan, sebuah comfort food yang ramah bagi lambung. Dengan menggorengnya, kamu telah mencabut jiwa dari makanan ini. Kamu mengubahnya jadi nasi goreng gagal!"

Dimas tidak bergeming. Ia menyendok suapan pertama dengan perlahan, membiarkan uap panas mengepul dari sendoknya. "Kamu terlalu terjebak dalam traditionalist mindset, Satria. Coba perhatikan baik-baik. Dengan teknik stir-fry, ada karamelisasi yang terjadi pada kecap dan kaldu. Teksturnya menjadi smoky dan memiliki depth of flavor yang tidak akan pernah kalian dapatkan hanya dari sekadar mengaduk atau mendiamkan bubur encer."

Aris, yang biasanya lebih santai, kali ini ikut merasa terusik. "Tapi Mas, esensi bubur itu ada pada moisture content-nya. Kalau digoreng sampai kesat begitu, di mana letak sensasi 'slurrrp' yang melegenda itu? Ini benar-benar sebuah blasphemy! Kamu tidak hanya menciptakan sekte baru, kamu sedang melakukan cultural appropriation terhadap nasi goreng menggunakan bahan dasar bubur!"

Perdebatan semakin memanas ketika beberapa pelanggan lain mulai mengerumuni meja Dimas. Kedai Cak Ri yang biasanya hanya gaduh oleh suara radio tua, kini berubah menjadi ruang sidang ad hoc.

"Coba bayangkan," lanjut Dimas dengan nada provokatif, "kalian bertengkar selama bertahun-tahun soal aduk atau tidak diaduk. Itu adalah false dichotomy. Dunia tidak hanya hitam dan putih. Bubur goreng adalah middle ground bagi mereka yang menginginkan kepadatan rasa tanpa harus kehilangan identitas kelembutan di bagian dalam. Ini adalah the ultimate solution!"

"Solusi apa? Ini adalah anarki!" seru Satria sambil menunjuk mangkuk Dimas dengan jarinya yang gemetar. "Cak Ri, bagaimana menurutmu? Apa kamu akan membiarkan bidah ini masuk ke dalam daftar menumu?"

Cak Ri, yang sedari tadi menyimak sambil mengelap mangkuk retak kesayangannya, mendekat dengan wajah serius. Ia menatap bubur goreng itu dengan pandangan seorang ahli yang telah melihat ribuan mangkuk bubur terjual. "Dalam bisnis, kita bicara soal supply and demand," sahut Cak Ri diplomatis. "Tapi sebagai seniman bubur, sejujurnya... ini adalah bold move. Saya belum pernah melihat teknik deep-fry atau pan-fry diaplikasikan pada bubur di daerah ini. Ini benar-benar di luar standard operating procedure."

"Tepat!" seru Dimas. "Ini adalah disruption. Di saat kalian masih sibuk dengan urusan aduk-mengaduk yang cliché, saya menawarkan sebuah elevated experience. Rasakan aroma wok hei ini. Apakah bubur pucat kalian punya aroma sekuat ini?"

Ketegangan mencapai puncaknya ketika Aris, didorong oleh rasa penasaran yang bercampur dengan kebencian, mengambil sendok bersih. "Oke, saya akan membuktikan bahwa ini hanya gimmick kuliner yang akan segera punah."

Aris mengambil sedikit bagian dari bubur goreng Dimas. Satria menatapnya dengan pandangan seolah Aris baru saja mengkhianati pakta pertahanan mereka. Saat bubur itu menyentuh lidah Aris, matanya membelalak. Ada ledakan rasa yang tidak biasa. Perpaduan antara tekstur yang crunchy di luar namun tetap creamy di dalam. Sebuah flavor profile yang benar-benar baru.

"Bagaimana, Ris? Masih menganggap ini sampah?" tanya Dimas dengan nada condescending.

Aris terdiam seribu bahasa. Lidahnya sedang berperang antara ego dan fakta sensorik. Di sisi lain, Satria tampak semakin terisolasi dalam puritanismenya. "Jangan bilang kamu terpengaruh, Ris! Ingat sumpah setia kita pada tekstur bubur yang asli! Jangan biarkan hype murahan ini merusak integritas selera kita!"

"Tapi Sat..." Aris terbata, "ini... ini punya mouthfeel yang sangat unik. Ini bukan sekadar bubur, ini seperti sebuah masterpiece yang lahir dari kekacauan."

Suasana semakin kacau ketika pelanggan lain mulai berteriak memesan hal yang sama kepada Cak Ri. "Cak, buatkan saya satu yang digoreng!" "Cak, saya mau mix! Setengah aduk, setengah goreng!" Kedai "Bubur Ayam Barokah" kini berada di ambang revolusi total, sementara Satria masih memegangi mangkuk bubur tak diaduknya dengan erat, seperti seorang kapten yang menolak meninggalkan kapal yang sedang tenggelam di tengah badai ideologi baru.

Suasana di kedai Cak Ri bukan lagi sekadar debat kusir, melainkan sebuah clash of civilizations yang melibatkan ego, tradisi, dan rasa lapar akan pengakuan. Satria berdiri tegak, wajahnya memerah padam, tangannya mengepal di atas meja hingga mangkuk bubur tak diaduknya sedikit bergetar. Ia merasa seperti seorang nabi yang dikhianati oleh umatnya sendiri ketika melihat Aris mulai mengangguk-angguk kecil menikmati suapan kedua dari piring Dimas.

"Aris! Sadarlah! Kamu sedang memakan sebuah monstrosity kuliner!" teriak Satria, suaranya menggelegar di antara aroma wok hei yang memenuhi ruangan. "Secara ontologis, bubur itu cair! Begitu kamu menggorengnya hingga menjadi solid state, itu bukan lagi bubur, itu adalah penghinaan terhadap sejarah!"

Dimas hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat sophisticated namun memuakkan di telinga Satria. "Sejarah itu ditulis oleh para pemenang, Satria. Dan pagi ini, pemenangnya adalah mereka yang berani melakukan breakthrough. Kamu menyebutnya bidah, saya menyebutnya liberation. Kamu terbelenggu dalam comfort zone yang membosankan."

Puncaknya terjadi ketika Cak Ri, sang tetua yang dianggap sebagai penjaga gawang tradisi, perlahan mendekati wajan besarnya. Ia tidak mengambil panci santan, melainkan sebuah penggorengan besi yang sudah lama tidak ia gunakan. Dengan gerakan yang dramatis, Cak Ri menuangkan sesendok besar bubur putih ke atas minyak panas yang mulai berasap. Sizzling sound yang dihasilkan terdengar seperti suara petir bagi Satria.

"Cak Ri! Jangan kamu juga!" ratap Satria dengan nada putus asa.

"Maaf, Satria," sahut Cak Ri tanpa menoleh, tangannya lincah mengayunkan sudip, menciptakan simfoni denting logam yang ritmis. "Kedai ini butuh sustainability. Jika dunia menginginkan fried porridge, maka saya harus menjadi early adopter atau saya akan tergilas zaman. Ini adalah masalah survival of the fittest."

Klimaks pecah saat Aris, dalam sebuah gerakan yang sangat impulsif, mencoba mencampurkan sesendok bubur goreng Dimas ke dalam sisa bubur aduknya yang sudah berwarna cokelat keruh. Itu adalah sebuah eksperimen radikal—sebuah fusion yang belum pernah terbayangkan dalam sejarah kuliner Jakarta.

"Tidakkkk!" jerit Satria sambil mencoba merebut sendok Aris.

Terjadilah pergolakan kecil. Mangkuk retak milik Aris tersenggol, meluncur di atas meja kayu yang licin, dan berakhir dengan dentang keras di lantai semen. Bubur aduk yang bercampur bubur goreng itu tumpah ruah, menciptakan pola abstrak yang mengerikan sekaligus indah di atas lantai. Semua orang terdiam. Keheningan yang awkward menyelimuti kedai.

Di tengah keheningan itu, seekor kucing pasar masuk dan mulai menjilati tumpahan 'bidah' tersebut dengan lahap. Dimas tersenyum kemenangan, Aris terpaku penuh penyesalan, sementara Satria tertunduk lesu, memandangi mangkuknya sendiri yang kini terasa seperti artefak kuno yang tak lagi memiliki nilai guna.

"Lihat itu," tunjuk Dimas ke arah kucing di lantai. "Bahkan insting hewani pun tidak mengenal sekat-sekat ideologi kalian. Dia hanya tahu satu hal: itu lezat. Kalian terlalu sibuk dengan labeling dan gatekeeping sampai lupa esensi dari makan itu sendiri."

Satria menatap sisa bubur putihnya yang murni, lalu menatap kerumunan orang yang kini antre di depan wajan Cak Ri, menanti giliran untuk mencicipi 'dosa' yang digoreng itu. Ia merasa dunianya telah runtuh. Diplomasi telah gagal, dan ia kini hanyalah seorang laggard di tengah badai inovasi yang kejam.

Keheningan pasca-insiden mangkuk retak itu perlahan mencair, digantikan oleh suara desis wajan Cak Ri yang kini bekerja ekstra keras. Satria masih terpaku, menatap nanar pada kursinya yang kini terasa seperti pulau terpencil di tengah samudra perubahan. Ia menarik napas panjang, sebuah deep sigh yang sarat akan beban eksistensial, lalu perlahan meletakkan sendok peraknya.

"Mungkin benar," bisik Satria, suaranya nyaris tenggelam dalam riuh antrean pelanggan baru. "Aku terlalu sibuk menjaga benteng, sampai lupa bahwa musuh sebenarnya bukanlah cara kita makan, melainkan ketakutan akan sesuatu yang berbeda."

Dimas, sang pembawa disruption, mengulurkan piring berisi porsi kecil bubur goreng yang baru saja ia pesan dari Cak Ri—sebuah peace offering yang tak terduga. "Cobalah, Sat. Jangan makan sebagai seorang puritan. Makanlah sebagai manusia yang lapar akan pengalaman baru. Don't judge the book by its cover, atau dalam hal ini, don't judge the porridge by its texture."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Satria menyendok sedikit gundukan kecokelatan itu. Aris menonton dengan napas tertahan, seolah sedang menyaksikan prosesi treaty signing yang akan menentukan nasib dunia per-buburan. Saat suapan itu mendarat di lidah Satria, matanya yang semula tajam perlahan melunak. Efek caramelized dari kecap yang bertemu api menciptakan sensasi umami yang belum pernah ia rasakan dalam versinya yang dingin dan murni.

"Ini... mind-blowing," aku Satria lirih. Ada nada kekalahan yang tulus dalam suaranya. "Teksturnya punya character yang kuat. Aku benci mengakuinya, tapi ini adalah sebuah culinary masterpiece yang lahir dari keberanian melanggar batas."

Aris tertawa renyah, menepuk bahu sahabat sekaligus rivalnya itu. "Jadi, diplomasi mangkuk retak ini berakhir dengan gencatan senjata? Kita tidak perlu lagi bertengkar soal aduk atau tidak diaduk, karena sekarang ada variabel baru yang menghancurkan semua logika lama kita."

Cak Ri menyeka peluh di dahinya dengan handuk kumal, namun wajahnya berseri-seri. Ia meletakkan sebuah mangkuk baru di depan mereka berdua—mangkuk yang tidak retak, berisi perpaduan aneh namun aromatik. "Di kedai ini, mulai besok, tidak ada lagi kasta. Mau kalian aduk sampai jadi smoothie, mau kalian biarkan suci tanpa sentuhan, atau kalian goreng sampai smoky, semuanya sah di mata hukum perut."

Pagi itu, di kedai "Bubur Ayam Barokah", sebuah tatanan dunia baru telah lahir. Perang dingin antara kaum diaduk dan tidak diaduk resmi berakhir, digantikan oleh rasa penasaran yang kolektif terhadap sang 'bidah' yang digoreng. Mereka menyadari bahwa di balik perbedaan ideologi piring, ada satu kesamaan yang menyatukan mereka: keinginan untuk merasa puas dan bahagia di jam sarapan.

Satria akhirnya tersenyum, meski tipis. Ia mengangkat gelas teh hangatnya, melakukan toast kecil ke arah Aris dan Dimas. "Untuk bubur goreng," ucapnya mantap. "Sebuah kesalahan yang ternyata benar secara rasa."

Enam bulan telah berlalu sejak insiden "Diplomasi Mangkuk Retak" yang legendaris itu. Kedai "Bubur Ayam Barokah" kini tak lagi sekadar kedai; ia telah bertransformasi menjadi sebuah melting pot kuliner yang dikunjungi mulai dari mahasiswa berkantong tipis hingga kaum food blogger yang berburu konten hidden gem. Papan nama di depan kedai pun telah berganti, kini bertuliskan: "Bubur Barokah: Rumah Toleransi Rasa."

Pagi itu, Satria duduk di kursi favoritnya. Namun, ada yang berbeda. Di depannya bukan lagi mangkuk berisi bubur putih pucat yang tertata rapi seperti baris-berbaris militer. Ia kini menyesap iced americano sambil menunggu pesanan "Bubur Goreng Spesial Wok Hei" ekstra cakwe.

"Masih belum bisa kembali ke jalan yang benar, Sat?" goda Aris yang baru saja datang dan langsung duduk di hadapannya. Aris tetap pada pendirian lamanya, memesan bubur aduk, namun kini ia sering menambahkan topping bubur goreng di atasnya sebagai garnish. "Aku kira kamu bakal jadi the last standing puritan di Jakarta."

Satria terkekeh, sebuah tawa yang jauh lebih santai dibanding enam bulan lalu. "Identitas itu cair, Ris. Seperti bubur sebelum kena wajan panas. Setelah aku pikir-pikir, bersikap terlalu rigid dalam urusan perut itu hanya membuat kita cepat tua. Life is too short to eat boring food."

Cak Ri datang membawakan pesanan mereka. Gerakannya kini lebih lincah, sisa-sisa kelelahan tertutup oleh binar kesuksesan. Ia meletakkan piring Satria dengan gaya seorang chef bintang lima.

"Ini pesanan Mas Satria. Tingkat kematangan medium, dengan sedikit sentuhan burnt di tepiannya, sesuai request," ujar Cak Ri bangga.

"Terima kasih, Cak. Bagaimana bisnis? Masih kewalahan menangani pesanan 'bidah' ini?" tanya Satria.

Cak Ri tertawa sambil mengelap tangannya dengan serbet. "Luar biasa. Kemarin ada yang datang minta bubur goreng tapi minta diaduk dulu sebelum digoreng. Saya sebut itu double-processed porridge. Dunia memang sudah gila, tapi wajan saya tidak pernah sedingin dulu lagi. Ternyata, menerima innovation itu tidak sesulit yang saya bayangkan. Kuncinya cuma satu: jangan takut mencoba new method."

Tiba-tiba, pintu kedai terbuka. Dimas masuk dengan perlahan, namun kali ini ia tidak membawa wadah sendiri. Ia melambaikan tangan ke arah Satria dan Aris.

"Kalian masih di sini? Saya pikir kalian sudah pindah ke sekte kuliner lain," ujar Dimas sambil menarik kursi.

"Kami sedang merayakan gencatan senjata permanen, Dim," jawab Aris sambil mengaduk buburnya hingga menjadi bubur kecokelatan yang homogen. "Tapi, ngomong-ngomong, setelah bubur goreng, apa lagi yang akan kamu bawa? Jangan bilang ada bubur air-fried atau bubur molecular gastronomy."

Dimas tersenyum misterius, tatapannya menyapu seisi kedai yang riuh. "Siapa tahu? Kuliner itu seperti software, selalu ada update terbaru. Tapi untuk saat ini, mari kita nikmati saja apa yang ada di piring kita. Tidak penting apakah itu diaduk, tidak diaduk, atau digoreng. Yang penting, kita masih bisa duduk di meja yang sama tanpa harus memecahkan mangkuk lagi."

Satria mengangkat sendoknya, menatap butiran bubur goreng yang berkilau terkena cahaya lampu kedai. Ia menyuapnya dengan khidmat. Tidak ada lagi perdebatan estetika, tidak ada lagi dikotomi benar atau salah. Di dalam mulutnya, rasa gurih, aroma asap, dan kelembutan yang tersisa berpadu menjadi sebuah simfoni yang sempurna.

Di sudut lantai, kucing pasar yang dulu menjilati tumpahan bubur tampak sedang tidur pulas, perutnya buncit dan tenang. Di luar, Jakarta mulai bising dengan klakson dan polusi, namun di dalam kedai Cak Ri, perdamaian telah dimenangkan oleh sebuah kesalahan yang digoreng dengan keberanian.

"Cak!" seru Satria tiba-tiba. "Tambah kerupuknya satu porsi lagi! Dan pastikan kerupuknya tidak tenggelam, aku masih ingin merasakan sedikit crunchy texture di tengah anarki rasa ini."

Cak Ri mengacungkan jempol. "Siap, Chief!"

Pagi itu, diplomasi benar-benar tuntas. Bukan dengan kata-kata muluk di atas meja perundingan, melainkan melalui desis minyak panas dan kesediaan untuk membuka lidah terhadap sesuatu yang dulunya dianggap sebagai sebuah heresy.

Pada akhirnya, sekat-sekat yang kita bangun dalam hidup sering kali hanya setipis kulit ari kedelai di atas permukaan bubur. Perseteruan antara kaum stirred-style dan un-stirred-style yang sempat membelah kedai Cak Ri bukanlah sekadar debat teknis kuliner, melainkan cermin dari betapa rapuhnya ego manusia ketika dihadapkan pada perbedaan. Kita cenderung menciptakan echo chambers dalam setiap aspek kehidupan, memuja status quo secara berlebihan, dan dengan mudah melabeli hal baru yang tidak selaras dengan zona nyaman kita sebagai sebuah heresy atau penyimpangan.

Kehadiran bubur goreng adalah pengingat bahwa kebenaran tidak pernah bersifat tunggal atau statis. Ia menuntut kita untuk melepaskan confirmation bias dan memberikan ruang bagi innovation untuk bernapas. Perubahan memang sering kali datang dengan suara desis yang mengancam dan aroma yang asing, namun menolaknya secara membabi buta hanya akan membuat kita tertinggal sebagai seorang laggard yang meratapi mangkuk-mangkuk retak masa lalu.

Amanat yang tersisa dari hiruk-pikuk di kedai "Bubur Ayam Barokah" itu sederhana namun fundamental: keberagaman bukanlah ancaman terhadap integritas, melainkan pengayaan bagi perspektif. Kedamaian sejati tercapai bukan saat semua orang setuju untuk makan dengan cara yang sama, melainkan saat kita mampu menghargai pilihan orang lain tanpa harus merasa pilihan kita terhina. Dunia akan selalu melahirkan "bidah-bidah" baru—baik dalam piring sarapan maupun dalam ideologi sosial—namun selama kita memiliki kerendahan hati untuk melakukan dialogue dan keterbukaan untuk mencicipi pengalaman baru, maka konflik akan selalu bisa diredam oleh rasa syukur.

Sebab pada titik nadir rasa lapar, perut tidak pernah menanyakan political affiliation atau mazhab estetika. Ia hanya butuh dipuaskan. Dan di balik setiap suapan, ada satu kebenaran universal yang melampaui segala perdebatan: bahwa kebahagiaan sering kali ditemukan justru saat kita berani melompati pagar tradisi dan merayakan perbedaan di atas satu meja yang sama. Karena terkadang, sesuatu yang kita anggap sebagai kesalahan, hanyalah sebuah kebenaran yang belum sempat kita beri kesempatan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image