Panic Buying BBM: Alarm Urgensi Kedaulatan Energi Hakiki
Agama | 2026-03-11 19:27:11
Ketergantungan terhadap pasar global ini sejatinya adalah buah dari sistem kapitalisme global yang menempatkan sumber daya alam sebagai ladang eksploitasi demi keuntungan segelintir korporasi. Negara-negara berkembang sering kali terjebak dalam ketergantungan energi yang sengaja diciptakan sebagai alat penjajahan ekonomi gaya baru. Kekayaan alam yang melimpah tidak serta-merta menjamin kesejahteraan rakyat jika pengelolaannya masih tunduk pada mekanisme pasar yang liberal. Akibatnya, setiap kali terjadi konflik di Timur Tengah, rakyat kecil di negeri-negeri Muslim justru menjadi pihak yang paling terdalam merasakan himpitan ekonomi akibat kenaikan harga energi.
Dalam pandangan Islam, kedaulatan energi bukan sekadar isu teknis, melainkan mandat ideologis. Islam menetapkan bahwa sumber daya alam yang jumlahnya melimpah, seperti minyak bumi dan gas, merupakan kepemilikan umum (milkiyyah ammah) yang wajib dikelola oleh negara. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW bahwa kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api (energi). Oleh karena itu, Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak boleh diserahkan pengelolaannya kepada pihak swasta atau asing, karena fungsi utamanya adalah untuk melayani kepentingan rakyat, bukan untuk meraup laba komersial sebesar-besarnya.
Di bawah naungan Khilafah Islam, kebijakan politik energi dijalankan dengan prinsip kemandirian penuh. Negara mengelola seluruh rantai produksi—mulai dari eksplorasi, penambangan, hingga distribusi—secara mandiri tanpa campur tangan kepentingan kapitalis internasional. Status kepemilikannya yang bersifat umum memastikan bahwa hasil penjualannya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk harga yang murah, pelayanan kesehatan berkualitas, pendidikan gratis, maupun infrastruktur publik. Dengan model pengelolaan ini, gejolak politik luar negeri tidak akan mudah mengguncang stabilitas domestik karena rantai pasok energi telah diproteksi dari intervensi pasar bebas.
Sungguh ironis melihat negeri-negeri Muslim yang diberkahi cadangan minyak melimpah justru sering kali mengalami krisis energi dan kemiskinan sistemik. Kesadaran umat perlu dibangkitkan bahwa kekayaan alam tersebut semestinya mampu menyejahterakan seluruh rakyat jika dikelola sesuai syariat. Penjajahan ekonomi yang dibalut dalam sistem kapitalisme global saat ini telah merampas hak-hak umat atas sumber dayanya sendiri. Hanya dengan melepaskan diri dari jerat sistem ekonomi liberal, negeri-negeri Muslim dapat meraih kedaulatan energi yang hakiki dan tidak lagi menjadi penonton di tanah sendiri.
Penderitaan akibat ketidakpastian harga dan pasokan energi ini harus diakhiri dengan menghentikan praktik pengerukan kekayaan oleh kapitalisme global. Menegakkan kembali syariat Islam dalam pengelolaan sumber daya alam adalah solusi fundamental untuk mewujudkan keadilan sosial dan stabilitas politik. Tanpa kembalinya pengaturan Islam, krisis energi akan terus berulang dan rakyat akan tetap menjadi korban dari permainan kepentingan elit global. Saatnya umat kembali pada sistem yang menjamin kedaulatan dan keberkahan atas seluruh sumber daya alam yang Allah berikan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
