Mobilitas Kemanusiaan: 162 Perjalanan Sunyi LAZISMU Wiradesa yang Mengubah Hidup Warga
Filantropi | 2026-01-30 10:49:44
PEKALONGAN – Di balik angka-angka statistik tahunan, sering kali tersembunyi kisah kemanusiaan yang sunyi namun berdampak besar. Sepanjang 2025, Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Kantor Layanan Wiradesa mencatat 162 perjalanan kemanusiaan melalui dua armada andalannya: Mobil Siaga dan Mobil Ambulans.
Angka ini bukan sekadar data operasional. Ia adalah kisah tentang pasien yang akhirnya tiba di rumah sakit tepat waktu, santri yang berangkat menuntut ilmu tanpa terbebani ongkos, hingga keluarga duka yang diantar menuju pemakaman dengan penuh khidmat.
Transportasi yang Menyelamatkan Nyawa
Mobilitas menjadi kunci dalam akses kesehatan. Di banyak wilayah, keluarga prasejahtera kerap terlambat mendapatkan pertolongan medis karena kendala transportasi.
Di Wiradesa, persoalan itu dijawab melalui armada kemanusiaan. Dari total perjalanan, Mobil Siaga mencatat 80 perjalanan dan Mobil Ambulans 82 perjalanan—sebuah distribusi yang hampir seimbang, mencerminkan kebutuhan layanan yang beragam.
Layanan medis mendominasi penggunaan armada ini. Untuk rujukan ke rumah sakit luar kota, Mobil Siaga melakukan 31 perjalanan, sementara Mobil Ambulans mencatat 18 perjalanan. Jarak jauh, kondisi darurat, dan keterbatasan ekonomi warga menjadikan layanan ini sebagai “jalur keselamatan” yang krusial.
Sementara untuk rujukan ke rumah sakit dalam kota, ambulans menjadi tulang punggung dengan 59 perjalanan, jauh melampaui Mobil Siaga yang mencatat 25 perjalanan. Ambulans bukan hanya kendaraan; ia adalah ruang harapan yang bergerak di antara nyawa dan takdir.
Lebih dari Sekadar Medis: Pendidikan dan Kemanusiaan
Filantropi Islam tidak berhenti pada layanan kesehatan. Mobil Siaga juga mengantar santri menuju pondok pesantren dan kebutuhan sosial lainnya sebanyak 24 perjalanan.
Di sisi lain, Mobil Ambulans menjalankan tugas paling hening namun mulia: mengantar jenazah ke pemakaman sebanyak lima kali. Di momen paling rapuh dalam hidup manusia, layanan ini hadir sebagai wujud empati yang nyata.
Filantropi Islam di Akar Rumput
Ketua LAZISMU KL Wiradesa, H. Slamet Fachrudin menegaskan bahwa seluruh layanan ini merupakan amanah dana zakat, infaq, dan sedekah yang dikelola secara profesional.
“Kami menyadari bahwa biaya transportasi sering menjadi beban besar bagi keluarga kurang mampu, terutama saat kondisi darurat. Armada ini kami hadirkan agar warga tidak perlu lagi takut pada mahalnya biaya kendaraan,” ujarnya.
Model subsidi silang dan layanan gratis menjadikan program ini bukan sekadar charity, tetapi ekosistem solidaritas sosial yang hidup.
Menghapus Sekat Akses Sosial
Bagi warga prasejahtera, jarak ke rumah sakit bukan hanya persoalan kilometer, tetapi juga persoalan biaya dan psikologis. Kehadiran armada LAZISMU menghapus sekat tersebut.
Transportasi gratis berarti peluang hidup yang lebih adil. Santri dapat berangkat belajar tanpa memikirkan ongkos. Pasien dapat dirujuk tanpa menunda. Keluarga duka tidak lagi sendirian dalam kesedihan.
Menuju Layanan yang Lebih Siap dan Responsif
Ke depan, LAZISMU KL Wiradesa berkomitmen memperkuat koordinasi layanan dan kesiapsiagaan pengemudi. Kecepatan respons menjadi prioritas, karena dalam konteks medis, menit bahkan detik bisa berarti perbedaan antara hidup dan kehilangan.
Kemandirian Umat yang Bergerak di Jalan Raya
Sebanyak 162 perjalanan sepanjang 2025 menjadi bukti bahwa pengelolaan filantropi Islam yang profesional mampu melahirkan solusi konkret bagi persoalan sosial di tingkat lokal.
Di jalan-jalan Wiradesa, armada ini mungkin hanya tampak sebagai kendaraan biasa. Namun bagi mereka yang pernah duduk di dalamnya—pasien, santri, keluarga duka—mobil itu adalah simbol kepedulian umat yang bergerak, nyata, dan terus melaju.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
